Kenapa aku memanggil Ayah?
#TantanganGurusiana Hari-2
Tantangan Menulis Hari ke-2
Jalan hidup ini merupakan skenario Allah, kita hanya menajalaninya. Aku lahir dari sepasang suami istri. Papa ku, adalah seorang pemuda yang tempramen dan pekerjaannya sebagai buruh pabrik. Mama ku adalah seorang ibu yang pekerja yang punya usaha.
Usia masa kecilku, lebih banyak bersama nenek, karena mama bekerja untuk membantu papa bekerja. Penghasilan papa ku tidaklah cukup bagi kami, sehingga kami masih tinggal sama nenek. Alasan ini juga yang membuat mama harus bekerja.
Usia 5 tahun, mama semakin sibuk karena mama menambah ilmu bisnisnya. Mama memperdalam ilmu bisnisnya selama 2 tahun, sehingga kualitas bertemu diriku menurun. Namun kasih sayang mama selalu ada buat ku. Usia 5 tahun, kelahiran ku terjadi keributan besar antara mama dan papa, yang akhirnya mama dan papa harus berpisah.
Bisnis mama pun hancur, papa pun dipecat dari pekerjaan. Aku ingat kesedihan mama, namun nenek dan kakek sangat mendukung mama. Aku menyayangi mama sehingga aku lebih memilih ikut mama saat itu. Usia 5 tahun, dengan kejadian keluarga itu membuatku dewasa dan merasakan apa yang dirasakan mama. Akhirnya mama mulai bangkit dengan semangatnya.
Saat diriku kelas 1 SD, ada kawan mama yang suka bertemu dengan mama. Teman mama itu adalah seorang pria yang peduli dengan mama dan diriku. Teman mama itu, memiliki 1 anak perempuan dan istrinya sudah meninggal. Teman mama itu bernama Habib, orang yang baik dan wajahnya biasa aja (tidak tampan atau tidak pula jelek). Om Habib selalu bantu mama saat kesulitan-kesulitan yang mama hadapi termasuk saat itu keperluan sekolahku hingga diriku sampai SMP. Uang sekolah dan keperluan ku selalu dibantu oleh om Habib. Om Habib pun berharap diriku menjadi dokter. Om Habib dari diriku mengenalnya meminta ku memanggilnya Ayah. Hingga diriku SMP, sebutan ayah selalu ku ucapkan saat menyapanya. Karena diriku kini sudah besar, saat om Habib ke rumah 3 minggu yang lalu, aku bertanya pada nya, “ Kenapa abang harus panggil Ayah?’. Lalu Om Habib langsung menjawab, “ Ayah berharap abang mau menjadi anak lelaki ayah, yang akan menjaga adik Syifa saat ayah tidak ada lagi. Sekarang ayah bertanya pada abang, “ Mau kah abang menerima ayah itu seperti ayah kandung abang?”. Aku langsung memeluk ayah sambil menangis dan memeluknya. Diriku lupa sosok ayah kandung ku, namun Allah datang kan pada aku dan mama ku seorang pria yang baik, penyayang dan perhatian. Ayah mendampingi kami dari SD hingga diriku sampai SMP dengan sabar. Diri ku pun sayang sama Syifa seperti adik kandung ku, semoga aku dapat memenuhi keinginan ayah menjadi seorang dokter. Doa ku buat ayah, semoga Ayah sehat, murah rezeki, diberkahi usia sehingga dapat ku bahagiakan ayah setelah menjadi ayah bagi ku, bahagia bersama mama dan adik Syifa. I love Ayah
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar