Dr.H.Muhammad Nasir,S.Ag.MH

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MILENIALISME DAN NEW CRIME

MILENIALISME DAN NEW CRIME

Viralnya berita penganiayaan oleh Mario Dandy Satriyo, anak pejabat Ditjen Pajak Kemenkeu baru-baru ini mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan dan tak terkecuali dari kalangan praktisi pendidikan dan hukum. Kejadian yang sangat memalukan itu seakan-akan melukai jiwa generasi muda ( generasi milenial ) yang sedang bangkit menghadapi babak baru kehidupan di masa endemi. Sebagai mewakili kalangan generasi milenial pelaku ( MDS ) semestinya memiliki sikap bersahaja karena dibesarkan dalam keluarga yang serba cukup alias keluarga serba ada. Tetapi kenyataannya sangat bertentangan dengan harapan keluarga dan masyarakat.

Istilah milenialisme difahami sebagai paham kaum muda yang lahir antara tahun 1965-1981 yang dikenal pula dengan generasi X yang memiliki problematika dan tantangan yang sangat komplek yaitu terkait dengan gengsi, terlalu konsumtif, hedonis, tidak ada persiapan, dan berfikir pendek ( Agustinur Mujianti ; 2019 ). Milenialisme lahir akibat goncangan perubahan modernisasi yang yang sangat cepat melanda banyak asfek kehidupan. Diantara yang sangat mengkhawatirkan adalah kehidupan pemuda yang mana mereka belum siap menerima perubahan. Sebagian meraka tak berdaya dan kalah menghadapi taufan peradaban global sehingga menjungkirbalikan runtuhnya nilai-nilai moral agama dalam kehidupan.

Taufan peradaban global telah meluluh lantakan nilai kemanusiaan di sebagian kalangan pemuda. Mereka telah kehilangan perasaan hiba dan kasih sayang antar sesama. Perasaan lembut telah tercerabut dari dirinya sehingga melakukan kejahatan, pembunuhan, penganiayaan dan banyak lainnya tidak dirasakan lagi sebagai dosa kepada Tuhan. Mario adalah mewakili contoh pemuda yang kita sebutkan. Kenyataan inilah yang kita sebut sebagai faham milenialisme dalam artikel ini.

Kenyataan tersebut telah menjadi sorotan publik dan menjadi saksi nyata bahwa faham milenialisme sedang mengancam generasi muda saat ini. Faham milenialisme yang sebagian orang sangat mengagungkan keberadaannya ternyata telah melahirkan bentuk kejahatan baru atau New Crime yang tak dapat dinafikan. Kejahatan baru yang dimaksud adalah hilangnya rasa kemanusiaan ( humanity ) di kalangan remaja dan pemuda. Humanity adalah tantangan baru milenialisme yang menjadi musuh kehidupan beragama dan berbangsa. Tantangan milenialisme yang berbentuk humanity menjadi bencana kemanusiaan yang tidak kalah dahsyatnya dengan bencana alam. Untuk menghadapi bencana tersebut tentu membutuhkan ikhtiyar dan usaha kolaboratif. Kita perlu menyusun strategi dan semangat baru yang lebih komprehensif dan terpadu dengan semua pihak, dimulai dari orang tua, pemerintah, pengelola medsos, dan organisasi agama dan keagamaan lainnya. Sebab itu, melalui jurnal yang singkat ini penulis menawarkan beberapa langkah diantaranya :

Pertama ; Merevitalisasi Peran Pemuda

Peran pemuda di era milenial berbeda dengan masa lalu. Diera milenial pemuda dituntut lebih lincah dan egresif untuk menemukan masa depannya. Bakat dan keterampilan serta memperkaya ilmu pengetahuan adalah dasar utama untuk meraih keberhasilan. Maka jika ada pemuda yang hanya mengandalkan gaya hidup, stile, peformant, keturunannya dan bahkan kekayaan keluarga maka pemuda seperti ini akan dilindas oleh derasnya taufan globalisasi. Masa depan akan hancur dan tidak memiliki makna hidup yang membahagiakan.

Gaya hidup pemuda tidak boleh dipisahkan dengan petunjuk moral dan nilai agama. Keberagamaan pemuda harus dibangun dan lahir gari kesadaran diri yang paling dalam. Agama harus menjadi sumber insfirasi kehidupannya dalam melakoni gaya hidup modernis sehingga menjadi kultur kehidupan sosial yang santun dan beradab. Peran pemuda tidak hanya sekedar menjalani aksi sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya yang banyak dihiyasi dengan gengsi, hedonis dan berfikir pendek tetapi harus di bendung dan dimotivasi dengan kekuatan praktis nilai-nilai agama yang kuat.

Peran pemuda harus didukung dan diperkuat dengan bimbingan agama sebagai peran orang tua dalam menanamkan nilai agama secara terpadu. Hal ini tak dapat dipungkiri bahwa pemuda sebagai pelanjut generasi lebih akrab dengan orang tua dalam keluarga. Mereka sebagai fatner terdekat yang mempengaruhi jiwa muda yang sedang berkembang, sementara agama menjadi tuntunan praktis dalam perilaku. Dari peran tersebut setidaknya kita terhindar dari ancaman milenialisme global yang menakutkan. Allah swt telah mengingatkan bahwa anak, istri dan hartamu adalah fitnah yang menakutkan ( Surat Al-Anfal : 28 dan surat At-Taghabun 15 ).

Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyebutkan, karena anak dan harta merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan kita agar senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah kamu kepada Allah dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (At-Taghabun:16). Dalam ayat yang lain Allah menegaskan akan kemungkinan sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi seseorang, ”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)

Adapun tentang fitnah harta dan anak dalam surah Al-Anfal, Sayyid Quthb menyebutkan korelasinya dengan tema amanah ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Al-Anfal: 27).

Harta dan anak merupakan objek ujian dan cobaan Allah swt yang dapat saja menghalang seseorang menunaikan amanah Allah dan Rasul-Nya dengan baik. Padahal kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang menuntut pengorbanan dan menuntut seseorang agar mampu menunaikan segala amanah kehidupan yang diembannya. Maka melalui ayat ini Allah swt ingin memberi peringatan kepada semua manusia agar fitnah harta dan anak tidak melemahkannya dalam mengemban amanah kehidupan dan perjuangan agar meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat.

Dengan demikian, agama yang pada mulanya berfungsi untuk membangun peradaban yang mencerahkan haruslah dikokohkan kembali. Khittah Agama ( Baca : Islam ) adalah memanusuawikan manusia lewat visi transformasi sosial dan budaya. Jika kita lihat kenyataan kedua nilai tersebut seakan-akan terkubur oleh peran-peran kekuasaan, perbedaan penafsiran, atau perselisihan faham. Untuk itu perlu kesadaran baru beragama sebagai upaya menghadapinya.

Kedua ; Memperteguh Kesadaran Baru Beragama

Doktrin yang banyak tertanam dalam benak fikiran dan perilaku pemuda hari ini adalah bahwa agama bersifat prifat yang urusannya diserahkan kepada pemeluk yang bersangkutan. Faham ini penulis subut sebagai sikap hedonis religius. Mereka beranggapan bahwa perilaku agama adalah urusan diri sendiri dan orang lain tidak boleh menegur jika tindkakannya bertentangan dengan moralitas agama. Kesalahan menjadi kebanggaan tersendiri sehingga arogansi menjadi model yang dibanggakan. Mereka bukan kurang bimbingan, bahkan fakta di depan mata kita saat ini dengan kemajuan tehnologi komunikasi dan informasi dan berbagai prgram televisi, radio dan media masa secara kompetitif ikut menawarkan informasi yang bernuansa bimbingan keagamaan dan kemasyarakatan. Namun yang belum tertanam dengan kuat adalah kesadaran agama ( religious awareness ).

Kesadaran agama sangat penting dalam kehidupan pemuda dan remaja. Menurut Dr.Ali Syari’ati awal kehidupan baru adalah kesadaran sebagai mana yang dilakukan oleh Nabi Adam dan Hawa ketika diusir dari surga. Ia menjadi sadar tentang keadaan dirinya sebagai manusia, sebagai individu yang bertanggung jawab dan kemudian menjadi korban kebutuhan, ketamakan dan penderitaan ( Ali Syar’ati : 1983 ).

Dalam kesadaran baru beragama para remaja dan pemuda harus berani membuka diri untuk membongkar faham milenialisme yang egosentris-liberalis yang mengaburkan semangat iman dan keyakinan. Sebagai proses dalam diri manusia ( pemuda ), kesadaran baru beragama adalah lanjutan dari pengetahuan. Sebab itu para remaja dituntut banyak mengetahuai dalam artian berilmu agama yang mapan. Ilmu agama harus terus berevolusi dalam diri remaja. Sebab melalui evolusi pengetahuan akan menimbulkan kesadaran dalam diri manusia itu sendiri. Akibatnya seluruh kemajuan ilmiyah yang lahir dalam masyarakat memiliki daya hubung dengan nilai spiritual sehingga menimbulkan kearifan dan kehalusan budi dalam sikap perilaku. Kesadaranlah yang membuat seseorang menjadi algojo atau martir, menjadi penindas atau pencinta kemerdekaan, dan menjadi penyeleweng atau manusia yang shaleh dan berbudi luhur. Maka kesadaran agama menjadi energi pemandu perlaku muliya bagi manusia.

Dengan kesadaran baru beragama, para pemuda dan remaja memiliki kekuatan yang akan membebaskan diri dari sikap mementingkan diri sendiri. Mereka memiliki faham religius yang tnggi bahwa manusia bukanlah hamba sains, hamba harta,hamba kekuasaan dan bukan pula hamba keangkuhan melainkan hamba Tuhan. Kesadaran itu dibuktikan dengan cinta beribadah ritual dan ibadah sosial, mulai dari diri sendiri di dalam keluarga dan di tengah masyarakat.

Tentu proses kesadaran baru beragama ini tidak selalu mulus perjalanannya. Ia selalu mendapat gangguan dan tantangan yang bisa berasal dari internal diri seseorang dan bisa pula dari luar diri atau lingkungan masyarakat. Pada prinsipnya gangguan kesadaram bagi generasi milenial adalah disebabkan oleh khayalan, angan-angan, lintasan-lintasan yang berasal dari godaan kemewahan, kekuasaan dan keserakahan sehingga melahirkan sikap brutal yang merugikan orang lain.

Karena itu kesadaran baru beragama harus diperkuat dengan komunukasi hati dan jiwa dengan mengaktifkan radar bathin melalui zikir dan fikir sehingga manusia ( remaja dan pemuda ) memiliki fungsi hati yang lembut. Menurut Imam al-Ghazali komuniukasi hati adalah dialog dengan Allah swt Sang Pencipta manusia yang menjadi pusat kesadaran. Hal itu akan melahirkan: a) Hudhur al-Qalbi, yaitu kehadiran hati dalam melangsungkan prose penyadaran bathin sehingga menjadi tingkat kesadaran pada setiap makna dan pesan zikir yang diamalkan, b) Himmah, perhatian saksama dan tekat kuatuntuk mencapai sesuatu yang tinggi, c) Tafahhum, yakni upaya pemahaman secara mendalam tentang makna yang terkandung dalam zikir menuju kesadaran yang tinggi, d) Ta’zim, yaitu pengagungan dan penghormatan kepada Allah swt, e) Haibah, sikap penghargaan luar biasa karena pengagungan dan kekuatan dan keperkasaan Allah swt, f) Raja’ yaitu pengharapan untuk hanya kepada Allah awt, g) Haya’ yakni rasa malu terhadap diri sendiri dalam permohonan dan munajat kepada Allah swtkarena diri dipenuhi kelalaian dan kesalahan ( Muhammad Amin Aziz : 2008 ).

Ketiga; Mewujudkan Aksi Pencerahan Masa Depan

Dunia semakin plural, kehidupan milenial terus menunjukkan taringnya yang semakin menakutkan. Apapun alasannya faham milenialisme yang menyesatkan harus di dihadapi dengan tekat aksi pencerahan masa depan. Aksi pencerahan masa depan yang kita maksud adalah back to religion. Kembali kepada agama ( baca : Islam ) adalah jawabannya. Jangan lari dari agama jika menginginkan masa depan yang cerah. Eksistensi agama telah teruji dalam sejarah peradaban manusia bahwa ia mampu memberantas kesengsaraan batin manusia. Usaha kearah itu banyak jalan yang dapat ditelusuri diantaranya adalah dengan memperbaiki dan menyempurnakan metode berfikir sebagian para ulama dan cendekiawan yang selalu membanggakan peradaban barat. Metode berfikir selama ini yang cenderung mengekor telah menyebabkan krisis metodologi, krisis iman, krisis ibadah, yang selanjutnya merembet sampai kepada krisi sosial budaya dan sosial ekonomi.

Sudah saatnya kita membangun manusia terpuji dan berakhlak muliya. Mentafakkuri ajaran dan kenyataan-kenyataan ciptaan Allah swt dan mekanisme geraknya dengan memanfaatkan, mengamati, menganalisah, menyimpulkan data ilmiyah melalui konsepsi ketuhanan sebagai substansi komunikasi qalbiyah Ilahiyah. Hal ini akan melahirkan rasa cinta kepada Allah swt, sehingga manusia semakin dekat kepada Allah swt dan jauh dari godaan dunia yang serakah.

Disamping itu pula, aksi pengembangan Ilmu pengetahuan dan tehnologi harus di dorong oleh perintah “Kajian ayat-ayat Allah swt” sehingga iman bisa bertambah benar dan bertambah baik, yang akan meningkatkan efektifitas ibadah produktif dalam kehidupan masyarakat modern yang maju. Akhirnya kita semua berharap faham milenialisme yang menyesatkan generasi muda dan remaja yang sedang melanda dapat dibendungi. Sehingga kader pemuda dan remaja yang terpuji dan berakhlak muliya dapat lahir dari rahim globalisasi menuju masa depan yang lebih baik. Amin. []

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post