Untaian Syair Cinta Tiga Musim
#tantangan gurusiana hari ke-26
Sagusabu 3 sudah sampai hari ke-27, tapi naskah buku tak kunjung tersusun. Hari pertama ikut pelatihan tersebut pada 29 Februari merupakan hari-hari dimulainya kekhwatiran orang-orang terhadap kabar corona yang melanda di berbagai negara. Kekhawatiran juga telah merasuki hatiku saat berada di ruang pelatihan yang dihadiri peserta dari berbagai daerah itu. Syukurlah kegiatan itu masih steril dari covid-19.
Hari-hari berikutnya orang-orang dicemaskan dengan wabah corona yang mewabah dunia. Sedangkan guru-guru lebih dicemaskan dan disibukkan dengan segala persiapan social distancing yang diberlakukan pemerintah. Itu artinya mereka harus segera mempersiapkan pembelajaran baik online maupun sistem penugasan rumah. Maka hari-hariku aku gunakan untuk membuat materi, soal, dan video pembelajaran online. Akhirnya aku terlena oleh waktu, tahu-tahu sudah sampai hari ke-27. Namun naskah buku tak kunjung tersentuh olehku.
Di tengah-tengah kecemasan yang semakin menjadi-jadi, kubuka buku harianku. Kutemukan puisi-puisiku sejak dua puluh tahun yang lalu. Aku pun menemukan sesuatu dari puisi-puisi yang sebagian besar bercerita tentang kisah cinta tersebut. Dari pusi-pusi itu aku temukan satu keunikan, ternyata cinta manusia sering tidak mematuhi hukum alam.
Jika di daerah tropis ada dua musim, kemarau dan hujan, maka di daerah subtropis terdiri dari empat musim yaitu semi, panas, gugur, dan dingin. Tetapi lain haknya dengan cinta. Ternyata kisah cinta bisa terbagi atas tiga musim : kemarau, hujan, dan semi.
Cinta musim kemarau ketika seseorang tak kunjung menemukan cinta dan kasih sayang. Bagai bumi yang kering merindukan titik hujan yang bisa membasahinya.
Cinta musim hujan dimulai ketika gerimis datang bagai cinta yang belum ada kepastian. Kemudian datang hujan namun disertai badai dan petir bagai cinta datang dengan segala ujian dan cobaannya. Tak ada hujan yang tak reda, sehingga cinta datang dan pergi meninggalkannya.
Cinta musim semi ketika cinta telah bersemi mekar di dalam hati. Cinta yang dirindukan telah datang jua memenuhi kebahagiaan hati dan jiwa. Cinta suci kepada sang istri, anak, dan keluarga. Cinta tulus kepada murid-muridhya, generasi harapan bangsa. Cinta sejati kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Hingga kembali pada kisah corona yang menunggu musim kemaraunya. Musim panas yang dapat melemahkan dan melenyapkannya. Musim kemarau yang dapat merekahkan senyum bahagia atas kemenangan umat manusia melawan wabah corona.
Maka keunikan cinta dalam lembaran-lembaran kusam yang kutemukan itulah kemudian aku angkat sebagai buku pertamaku. Untaian syair cinta tiga musim sebagai tanggung jawab memenuhi tugas Sagusabu 3.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar