Much Nur Arifien

Much Nur Arifien, SE adalah guru mata pelajaran IPS di MTs Muhammadiyah yang beralamat di Desa Tempuran, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, I...

Selengkapnya
Navigasi Web
Meledak-ledak (68)

Meledak-ledak (68)

Meledak-ledak (68)

#TantanganGurusiana hari ke-68, tanggal 27 Juni 2020.

Sore tadi sengaja main ke toko sepeda di kota Magelang bermaksud membeli sebuah helm untuk sang permaisuri tercinta. Maklum lagi musim naik sepeda, kemarin dia berangkat kerja naik sepeda lipat kesayangannya. Bukan sepeda merk mahal, tapi cukup nyaman mengantarkan sang empunya kemana saja. Fenomena sepeda memang tak terduga, laris manis bak kacang goreng di pinggir jalan. Saking fenomenalnya, ada kaos bertuliskan cobaan dalam masa new normal adalah tahta, harta, dan sepeda. Mata ini tertuju pada sebuah sepeda lipat yang digantungi kertas bertuliskan harga saat ini. Wow... sudah naik 1 juta rupiah. Kata pemilik toko naik 30 persen dari pabriknya langsung. Entahlah, tapi harga mang meroket tinggi tanpa terkendali lagi.

Helm sepeda tak kalah manjanya, harganya banyak yang lebih mahal dari helm sepeda motor. Akhirnya sebuah helm sepeda merk lokal berhasil terbeli, dijamin menambah kecantikan siapa pun yang memakainya. Tak lupa, keamanan adalah yang utama. Perjalanan pulang matahari sudah terbenam, tibalah malam menggantikan siang yang sedari tadi menyinari bumi. Beberapa kali saya berpapasan dengan para pesepeda yang hilir mudik di jalan raya. Fenomena baru yang muncul di masa new normal. Sebelumnya hanya orang kurang kerjaan saja yang malam-malam berkeliling dengan sepeda.

Jalan-jalan kurang afdhol jika tidak jajan di luar. Dari berbagai menu pilihan, nasi goreng pak Yanto menjadi juaranya. Saya pesan nasi goreng pedas 3 piring. Porsi besar dan harga yang bersahabat adalah isu yang berkembang belakangan ini di warung pak Yanto. Saya termasuk yang paling penasaran. Beberapa menit kemudian nasi goreng porsi besar telah siap di meja. Dari aromanya memang lezat, bau ayamnya mm... bikin ser-seran. Sedikit demi sedikit sendok menyapu bersih dan memindahkannya ke perut tanpa basa-basi. Sang istri pun tanya, "Punya mas ada daging ayamnya?" Hanya tulang dik, "jawab saya." Kok sama ya, "timpal istri sambil cengengesan." Mungkin karena 10 ribu dik, jadi ayamnya hanya aroma terapi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post