Moh. Tohiri Habib

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
TERLALU SERIUS SEBABKAN PENDEK USIA?

TERLALU SERIUS SEBABKAN PENDEK USIA?

TERLALU SERIUS SEBABKAN PENDEK USIA?

"Jadi orang itu jangan terlalu serius, biar gak cepat mati".

Seringkali kita mendengar nasehat itu disampaikan. Terkadang ditujukan untuk membully, dan tak jarang pula disampaikan dengan tujuan menasehati.

Saat menghadapi masalah pelik, orang pasti akan berpikir keras untuk mencari solusi. Otaknya diperas sampai tidak sadar bahwa pikiran juga butuh istirahat layaknya badan. Tidak cukup itu, terkadang perasaan juga ikut dibebani. Akhirnya tidak hanya otak yang menjadi "soak", tubuh pun ikutan "bobrok".

Telah banyak contoh beratnya beban pikiran menyebabkan pemiliknya tumbang. Stroke, hypertensi, jantung, asam lambung adalah salah satu contoh penyakit yang kerap dipengaruhi oleh pola pikir.

Otak perlu istirahat agar syaraf tidak tegang dan bisa berfungsi secara normal. Karena otak yang terlalu lelah akan menurunkan fungsinya, bahkan bisa lebih parah dari itu, yakni gila.

إِنَّ العُقُولَ إِذَا تَعِبَتْ كَلَّتْ, وَإِذَا كَلَّتْ عَمِيَتْ. (علي بن أبي طالب)

Jika akal terasa lelah maka fungsinya akan menurun, dan pada akhirnya (jika kondisi ini dibiarkan) akan tidak berfungsi sama sekali.

Demikian juga perasaan atau hati butuh refreshing untuk kembali optimal menghadapi perbagai masalah. Dari itu, sering kita dapati sarana refreshing dengan tajuk "wisata hati" dan "wisata religi".

إِنَّ النَّفْسَ إِذَا تَعِبَتْ كَلَّتْ وَإِذَا كَلَّتْ مَلَّتْ وَإِذَا مَلَّتْ هَجَرَتْ وَإِذَا هَجَرَتُ كَفَرَتْ. (عمر بن الخطاب).

Apabila hati sudah lelah maka akan berkurang sensitivitasnya. Berikutnya ia akan jenuh, lalu berpaling dan selanjutnya akan berontak.

Diriwayatkan, bahwa nabi juga menganjurkan untuk refreshing:

رَوِّحُوْا القُلُوْبَ سَاعَةً بَعْدَ سَاعَةٍ فَإِنَّ القُلُوبَ إِذَا كَلَّتْ عَمِيَتْ. (الحديث أو كما قال)

Hiburlah hatimu sesekali, karena jika hati telah tumpul, maka akan buta.

Menghibur hati dalam konteks sabda Nabi di atas bukan dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat, tapi dengan melakukan variasi-variasi ibadah.

Dalam Islam ada banyak jenis ibadah yang tidak hanya membuahkan pahala, namun juga bisa menghibur hati. Menghadiri maulid, melantunkan qasidah, berziarah ke makam wali, berkunjung ke orang sholeh, silaturahmi ke rumah sahabat atau kerabat, menunaikan ibadah umroh, dsb.

Jika permasalahan yang dihadapi disebabkan faktor internal, maka sikap di atas bisa jadi solusi. Lalu, bagaimana jika sumber masalah adalah faktor eksternal?. Bagaimana semestinya bersikap?

Kisah Nabi Muhammad berikut mungkin bisa jadi jawabannya. Tidak jarang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam merasa susah dalam berdakwah karena ulah orang musyrik. Lalu Allah menghiburnya:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَنْ لَا يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ. (الشعراء: ٣)

Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ أَسَفًا. (الكهف : ٦).

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur'an).

Kedua ayat ini mengisyaratkan bahwa janganlah terlalu bersedih (baca: serius) dalam menghadapi permasalahan hidup, karena hal itu dapat membunuhmu atau mempercepat kematianmu.

Allah memberikan tuntunan semacam ini, mengingatkan Nabi Muhammad bahwa kewajibannya hanya sebatas menyampaikan (berdakwah). Urusan mereka mendengarkan atau tutup telinga, berhasil atau gagal, diberi petunjuk atau tetap tersesat adalah otoritas Allah.

Logika sederhananya, jika masalah dakwah saja semestinya bersikap seperti itu, apalagi masalah dunia. Jika terkait dengan orang musyrik saja seharusnya seperti itu, apalagi dengan saudara sesama muslim.

Karena itu, ada benarnya perkataan kids jaman now berikut: "Jalani hidup dengan santai, jika tidak mau cepat jadi bangkai. Jangan terlalu serius jika tidak ingin cepat mampus" .

Ahad, 3 Desember 2017

Kang Thohir

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post