MASRURI

(M Vut Asmakhum Rmhk) biasa disapa Vut atau Emput, lahir di Indramayu, 28 Agustus 1965. Menulis sejak duduk di bangku SMP (puisi, cerpen, f...

Selengkapnya
Navigasi Web
Tamu Datang Menimbulkan Kecemasan Mendalam
Cakrawala Menyala

Tamu Datang Menimbulkan Kecemasan Mendalam

Dalam suasana penuh kegembiraan mbak Tutik bersenandung lagu nasyid perdamaian dalam hati. Belum selesai larik bait terakhir disenandungkan mbak Tutik dikejutkan suara Lingga yang memberi tahu kedatangan tamu. Mbak Tutik segera mengehentikan senandung dalam hati, untuk kemudian bergegas ke ruang tamu. Pikirannya seketika kacau saat mengetahui wajah tamu yang datang. Di dalam hati sontak berkecamuk kencang saat di ruang tamunya sudah duduk ibu Sitoraja seorang rentenir didampingi dua lelaki tegap sebagai bodyguardnya yang tak lain dan tak bukan datang untuk menagih hutang yang sudah hampir dua tahun tidak mampu dicicil baik jasa apalagi pokoknya. Pinjaman awal senilai 15 juta rupiah dengan bunga pinjaman 20 % perbulan, hitung punya hitung saat ini jumlah tagihan sudah menjadi 72 juta rupiah ditambah pokok pinjaman maka nilai total tagihan sudah berubah memiliki bill sebesar 87 juta rupiah. Bukan main besar dan kalau pun nilai pinjaman pokoknya sudah dianggap akan melebur dengan nominal tagihan akhir, tetap masih sangat berat dan mustahil untuk bisa dibayarkan. Sehingga semua itu tidak akan mungkin bisa diselasiakan. Apalagi yang sebelum-sebelumnya keluarga mbak Tutik melalui bantuan kerabatnya, mengajukan pula pinjaman menggunakan nama saudaranya untuk amprah hutang uang tunai kepada ibu Sitoraja, berkat usaha itu bu Tutik kemudian juga mempunyai tambahan hutang belasan bahkan puluhan juta. Jika seluruh hutang keluarga mbak Tutik apabila digabungkan seluruhnya menjadi 108 juta rupiah.

“Bu Sitoraja … makin cantik saja, maaf saya tidak bisa memberi suguhan apa-apa, nih …” Ucap mbak Tutik yang dibalas sorotan mata tajam oleh ketiga oirang tamunya.

“Tidak usah basa-basi, beri saya uang abis perkara.” Balas bu Sitoraja dengan logat khasnya.

“Itu dia Bu, sampai saat ini saya belum bisa bayar …” Sambung mbak Tutik dengan nada parau.

“Tidak bisa begitu, berani utang bayar!” Bu Sitoraja sambil menggebrak meja.

“Saya juga maunya begitu bu …” Balas mbak Tutik dengan muka memelas.

“Percuma omong banyak, pokoknya saya kasih waktu empat hari dari sekarang, kalau semua utangmu tidak kau bayar, silahkan keluar dari rumah ini!” Ancam bu Sitoraja sambil keluar tanpa permisi. Rentenir itu mengancam apabila mbak Tutik tidak membayar hutang-hutang yang selama ini ditanggung dalam tempo 4 hari maka rentenir itu akan kembali untuk mengeksekusi rumah keluarga mbak Tutik. Karuan hal itu membuat mbak Tutik bersama keluarga sangat merasa cemas.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post