MENGGAPAI IMPIAN
Jam telah menunjukkan pukul 11 siang, aku bergegas menyiapkan perlengkapan shalat yang akan dipakainya hari itu. Semenjak menikah aku berubah menjadi wanita siaga. Harus siap setiap waktu menyiapkan apa saja yang dibutuhkan. Aku tak tau apakah ini kesengajaan karena aku adalah istrinya ataukah memanjakkan diri karena selama ini dirinya hidup selalu jauh dari keluarga. Dia adalah lelaki mandiri sejak kecil sudah hidup diperantauan. Melanjutkan sekolah di pondok pesantren hingga di bangku kuliah di kota yang cukup jauh dari orang tuanya selama Sembilan tahun dari salah satu madrasah hingga di perguruan tinggi. Sebenarnya jika sesorang hidupnya mondok pastinya dia akan hidup mandiri tapi beda dengan dirinya. Setelah menikah kemandiriannya hilang dan hidup untuk dimanjakan namun tanggung jawabnya pada keluarga tidak bisa diragukan lagi. Dia tidak pernah malu melakukan apapun selama pekerjaan itu halal dan mendapatkan uang. Suatu kesyukuran untukku dipertemukan dengan suami sepertinya.
Aku terkejut ketika dirinya tiba-tiba datang dan menanyakan handuk miliknya. Aku mengambil handuk yang ada dalam lemari dan memberikan padanya. “kenapa, terkejut ya ? oh..sedang berhayal mau pulang kampong ?, sabar mbak. Kita pasti akan pulang” godanya padaku. Jika bercanda dia sering menyebutku dengan panggilan “Mbak” padahal tak sedikit pun darah Jawa yang mengalir di tubuhku. Sudahlah, mungkin sudah kebiasaannya menggodaku. Ku mandikan putra pertamaku, ku memakaikannya baju kokoh.” Kalau pergi shalat jumat dengan papa tidak boleh nakal ya, duduk yang manis. Apalagi sebentar papa baca khutbah, kamu duduk bersama paman saja ya. Tidak boleh mengganggu papa” ujarku menasehati Hasan. Hasan sudah terbiasa mengikuti bapaknya ke masjid semenjak berusia dua tahun lebih sehingga pelan-pelan dia mulai paham apa yang seharusnya dia lakukan. Setelah semuanya siap mereka berdua berangkat berjalan kaki karena masjid tidak terlalu jauh dari rumah.
Ku pandangi mereka berjalan hingga bayangan mereka hilang disebuah tikungan. Aku bangga dengan keberadaanku sekarang. Aku bahagia, aku senang meski semuanya serba pas-pasan. Tak lama kemudian Azan telah berkumandang dan setelah itu suara lelaki hebatku terdengar dengan jelas membacakan khutbah Jumat. Tak kusadari menetes air mata ini dalam hati ku berucap “Ya Allah terima kasih atas semuanya” Ini adalah duniaku yang penuh kenikmatan yang mungkin orang lain tak betah hidup bergabung dengan duniaku. Saking terkesimanya aku mengikuti khutbah dari kejauhan, aku lupa kalau salah satu pangeranku sudah terbangun dari tidurnya. Kedua putraku sebagai pelengkap hidup kami. Mereka adalah penyemangat dan pelipur lara dikala hati kami sedang kalut. Usia kedua puteraku berbeda empat tahun. Mereka kami asuh dengan sepenuh hati.
Aku berdiri di depan rumah melayani pembeli. Dari kejauhan ku melihat suamiku berjalan sambil menggendong anaknya. Aku tersenyum sendiri melihat pemandangan yang ada dihadapanku. Ternyata putra kami sudah tertidur saat di mesjid. Ku jemput anak dari pelukannya dan ku tidurkan di kamar. " mba boleh reques kopi ya ? siang begini enaknya minum kopi " katanya dengan nada perintah. Ku buatkan secangkir kopi dan ku ambilkan roti yang ada di kios dan ku berkata membalas candanya" kopinya gratis rotinya bayar ya, modal kios kita sudah berkurang". Kami berdua tertawa bersama.
"Mama Hasan, tekadku sudah bulat untuk berhijrah ke kota" katanya tiba-tiba, semenjak memiliki putra pertama dia tidak pernah memanggil namaku lagi walaupun dirinya tak semesra lelaki lainnya yang memanggil pasangannya dengan kata sayang. Tapi aku bahagia karena penghargaannya padaku. Langkahku terhenti dan menatapnya heran. " tadi di mesjid saya berbincang-bincang dengan orang-orang tua dan meminta pendapat dari mereka akan keinginan kita pindah ke kota. mereka semua menyetujui keputusan itu meskipun mereka kehilangan kita, menurut mereka ini jalan terbaik untuk masa depan kita dan anak-anak. Mereka berkata begitu karena kita berdua memiliki latar pendidikan yang bisa diandalkan" je;asnya. Rasa haru seketika hadir di hati. Belum sempat menyambung pembicaraannya, dia berkata lagi " kita harus ikhlas melepaskan rumah ini dan kebun yang kita miliki. Uangnya akan kita pakai membangun rumah di sana nantinya. Semakin panjang percakapan semakin hadir kesedihan di hati. Ku harus berpisah dengan tetangga yang sangat sayang dan peduli pada keluarga kami. Mereka menganggap kami sebagai anak.
Parigi Moutong, 05 Maret 2022

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Kereeen cerpennya, Bunda. Salam literasi
Terima kasih pak, salam kenal dan salam literasi, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT
Keren cerpennya. Perjalanan hidup yang manis asam asin lengkap Barakallah say...salam sehat dan bahagia selalu
Keren cerpennya bund... Salam kenal kembali dari pulau seribu masjid (Lombok), sudah saya follow
Terima kasih sudah mampir salam sehat untuk kita semua, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT