IBU, RINDU INI TAK BERTEPI
IBU, RINDU INI TAK BERTEPI
Ketika mulai menulis tentang ibu, air mata ini selalu berlinang mengingat semua kenangan ketika masih bersama ibu. Rasa bersalah penuh penyesalan yang aku rasakan begitu mendera ketika mengingat segala perjuangan ibuku selama ini. Perjuangan tanpa lelah, tanpa mengeluh untuk menjadikan kami anak-anaknya menjadi manusia yang berguna. Budaya patriarki yang begitu kuat di daerahku waktu itu, membuat perempuan termasuk ibuku menjadi sosok yang termarginalkan, dan bahkan sering mengalami kekerasan secara massif.
Yang masih membekas dalam ingatanku adalah ketika aku kelas dua Sekolah Dasar (SD), bapakku mengalami kecelakaan hebat. Kecelakaan itu dialami bapakku ketika dalam perjalanan menuju Udanawu Blitar. Pada saat jalan menanjak, tiba-tiba mesin sepeda motor mati dan sepeda motor meluncur mundur takterkendali. Ketika kecelakaan terjadi beliau bersama kakak yang waktu itu kelas tiga SD. Dengan sekuat tenaga beliau melindungi kakak saya dari cidera tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri. Akhirnya bapakku mengalami patah tulang belakang beberapa ruas yang mengakibatkan beliau tidak bisa berdiri.
Hari-hari berikutnya berlalu tanpa kehadiran seorang ayah di rumah, karena bapak harus berobat untuk kesembuhan sakitnya. Waktu itu sekitar 1 bulan menginap di rumah seorang tabib, tidak ada hasilnya. Pulang dari sana kondisi fisik bapakku justru memburuk. Kemudian atas saran tetangga, bapakku berangkat berobat ke Surabaya tepatnya di rumah sakit RKZ. Dengan ditemani kakak sepupu, sekitar 2 bulan bapak harus opname di Surabaya, menjalani operasi besar penggantian tulang belakang.
Sementara itu di rumah, ibu harus membanting tulang menghidupi kami, aku, kakak dan adikku. Semua aset sudah dijual untuk keperluan pengobatan bapak. Ibu tak kenal lelah pagi sore bekerja mencari nafkah agar asap dapur masih tetap mengepul. Di sore hari beliau mencari sayur di ladang nenek untuk dijual esok pagi. Pagi hari ke pasar untuk menjual sayuran dan siang harinya mengolah tempe. Sungguh perjuangan yang tak ternilai.
Setelah dua bulan bapak opname di rumah sakit RKZ Surabaya, akhirnya beliau pulang dengan obat jalan untuk pemulihan. Dengan setia dan penuh kesabaran ibu merawat bapak. Meskipun pendidikannya hanya lulus Sekolah Dasar, tapi keikhlasan dan ketulusan dalam merawat bapak luar biasa. Setiap hari ketika memasak selalu memprioritaskan menu makanan yang disarankan dokter untuk kesembuhan bapak. Ini adalah pelajaran nyata yang tidak aku dapatkan di bangku sekolah. Dengan mengemban peran ganda, sebagai ibu rumah tangga sekaligus mancari nafkah, ibu saya tidak pernah mengeluh.
Berkat kesabaran ibu, akhirnya bapak sembuh dan bisa bekerja lagi. Itu semua anugerah buat keluarga. Aset keluarga yang dulu habis terjual untuk pengobatan, sedikit demi sedikit tertata dan terkumpul lagi, hingga aku bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Namun fluktuasi nasib harus terulang lagi. Ketika saya sudah bekerja, bapak sakit lagi. Seperti biasanya, ibu dengan penuh kesabaran merawat bapak tanpa kenal lelah. Bahkan ibu tidak memperdulikan kondisi kesehatannya sendiri demi totalitas pengabdiannya. Dan pada akhirnya ibu harus berpulang ke haribanNya lebih dulu. Rasa sesal dan duka ini begitu menghujam di dalam hati. Selama ini ibu tidak pernah mengeluhkan kesehatannya, hanya fokus pada kesembuhan bapak, ternyata ibu menderita penyakit jantung yang sudah akut. Sungguh nilai pengorbanan yang tak terkira, yang mungkin aku tidak bisa mewarisinya. Setiap saat dalam kesendirianku selalu terkenang akan cinta kasih sayangnya, selalu merindukan pelukan hangat penuh damai. Air mata ini menanti jawaban atas pertanyaan, kapankah rindu ini bisa terobati?
Tegalgede, 10 Desember 2021
Biografi Penulis
Marti lahir di Tulungagung, 30 Maret 1978. Guru MTs Negeri 2 Jember ini mulai belajar menulis sejak mengikuti diklat Sagu Sabu KPPL Kemenag Jember pada bulan September 2020. Dia dapat dihubungi melalui :
WA : 081559656600
Email : [email protected]
FB : Marti Nugroho
Blog : https://marti.gurusiana.id/
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Semoga perjuangan Ibu berbalas dengan ganjaran yang tak terhingga atas keikhlasannya buat keluarga. Sangat inspiratif, Bu Marti. Salam sukses selalu. Mohon ijin follow....