TITIK
Untukmu para pekerja yang kuat dan yang lemah. Yang ulet dan yang amatir. Mengarungi pagi hingga sore dengan semangat beragam warna. Ada saat berakhir pada titik ketika keletihan datang dan membuatmu kehilangan keseimbangan. Ada saat berakhir pada titik ketika kejenuhan menghampirimu dan membuatmu tidak peduli pada kerja yang belum usai.
Berhentilah sejenak pada titik ntuk memulihkan kembali tenagamu yang hampir habis itu. Atau berhentilah untuk menemukan kembali dunia kerja yang membuatmu kembali bergairah.
Untukmu para pecinta yang sangat mengagungkan romantisasi cinta dan keindahan saat-saat yang fana. Ada saat harus berakhir pada titik. Melanjutkannya pada kalimat baru, dalam suasana baru yang diperbaharui. Atau melangkah jauh pada paragraf baru untuk melengkapi cerita hidup dalam bingkai cinta yang masih melekat pada hati.
Berakhir pada titik bukanlah akhir dari segalanya untuk mencintai dan dicintai. Ada lembaran baru untuk memulai sebuah cerita cinta. Tapi semuanya tetap fana. Dia akan berakhir pada titik, karena kemanusiaannmu adalah kefanaan itu sendiri. Hanya keabadian yang memiliki cinta yang abadi. Tak surut oleh waktu, dan selalu dalam hangatnya romantisme tanpa disadari.
Untukmu para pemimpin yang sedang memikirkan berbagai kebijakan untuk orang-orang terpimpin. Berhentilah sejenak untuk merenung kembali segala kebijakan yang telah terlaksana sembari membuka mata dan telinga. Melihat apa yang sedang terjadi dan apa yang melintas di indra pendengaranmu. Kemudian olahlah dengan hati dan pikiran yang sangat jernih.
Ada pula saat harus benar-benar berhenti karena orang-orang terpimpin butuh pembaharuan dalam hidupnya. Dan saat itu, nikmatilah masa kerjamu yang telah usai. Pimpinlah diri dan keluargamu menuju kebajikan dan kebijaksanaan.
Untukmu para penulis yang merangkai kata demi kata untuk melafaskan hidup dalam berbagai kisah. Ada saatnya berakhir pada titik. Merenungi kembali berbagai kisah yang telah tertuang dalam sehelai kertas atau yang masih tersebunyi dalam alur pikirmu.
Tapi tidak ada titik yang benar-benar berakhir bagi penulis. Dia akan terus menulis dan merangkai kata demi kata hingga akhir hayatnya.
Untukmu yang hidup dan sedang menikmati hembusan nafas setiap saat. Yang sedang berada di gedung-gedung mewah atau yang sedang menahan dinginnya suasana dibawah jembatan. Ada waktu harus berhenti pada titik. Segala kenikmatan dan penderitaan harus berhenti pada titik. Hidup memang harus berhenti untuk dihidupkan kembali dalam suasana yang berlawanan arah. Kebahagiaan dan penyesalan, kemudahan dan kesulitan, siksa dan nikmat, cinta dan benci.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Titik, awal dari segalanya. Keren ulasannya
Trims bu fitri
Mantul, sebuah titik yang penuh imajinatif.salut pak.
Keren habis ulasannya.... Mantul semuanya.... Tak terpikirkan....
Trims bu mastura