Dibatas Cakrawala
#Day2
Judul: Dibatas Cakrawala
Nama Penulis: Maria Agusta
Part 1.
Devita menggigil kedinginan. Gamis kembang yang dikenakan ditarik agak menutupi telapak kaki. Wanita bertubuh kurus ini meringkuk di atas hamparan rumput jepang.
Suara nyamuk yang berdenging di telinga terasa sangat mengganggu. Refleks tangannya sibuk menepuk nyamuk yang mengusik tidurnya. Devita menggaruk bekas gigitan nyamuk yang terasa gatal dikulitnya. Bentol memerah tersebar di lengan putihnya.
Dedaunan terlihat basah diselimuti embun. Devita bangkit dari tidur dan duduk sambil memeluk lutut. Wajahnya ditumpukan di atas kedua lutut.
Devita teringat kejadian tadi malam yang menyebabkan dirinya harus mengalami hal seperti ini.
Gilang akhir-akhir ini sering sekali keluar malam. Devita menjadi tidak nyaman dengan tingkah Gilang ini. Wanita ini mencoba untuk tidak berpikiran negatif. Mungkin saja sang suami memang ada urusan penting yang mengharuskan untuk keluar pada malam hari.
Tadi malam, sekitar pukul sepuluh malam, Gilang bersiap hendak keluar setelah mendapatkan telepon dari seseorang.
Devita mendengarkan dari balik pintu dengan darah mendidih. Dalam minggu ini saja, sudah dua kali Gilang tidak pulang.
Ketika Gilang bersiap untuk pergi, Devita juga mengganti baju dengan gamis lebar dan memakai jilbab sarung. Terjadi perdebatan sengit dirinya dengan sang suami, ketika dia mempertanyakan suaminya yang sering tidak pulang.
"Kamu jangan ikut campur urusan suami!" bentak Gilang.
Devita tidak terima dengan ucapan Gilang.
"Emang kamu saja yang bisa pergi! Aku juga bisa pergi!" teriak Devita dengan amarah meledak. Dia mengunci rumah dan berjalan mendahului Gilang yang masih mengeluarkan motor dari garasi.
Nazwa putrinya yang masih duduk di kelas sembilan, tidak mengetahui kepergian Devita. Gadis ini sedang sibuk dengan telepon genggamnya ketika ibunya keluar rumah.
Sebenarnya Devita mempunyai sepasang anak. Putra tertuanya disekolahkan di pondok pesantren yang hanya pulang dua bulan sekali. Sekarang dia duduk dikelas sebelas.
Setelah lelah berjalan tanpa arah, Devita berjalan pulang. Bukan hanya lelah yang dirasakannya, tatapan heran orang-orang yang sedang nongkrong di warung membuatnya tidak nyaman.
Betapa terkejutnya Devita, ketika ternyata pintu dikunci dari dalam. Gilang yang rupanya tidak jadi pergi, melarang Nazwa untuk membukakan pintu.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Waduuuh....pasti Gilang marah Krn sang istri keluar tanpa se ijinnya, keren cerpennya bucan
Terima kasih Buncan..
Terima kasih Buncan..
Terima kasih Buncan..
Terima kasih Buncan..