Dibatas Cakrawala
Part 1.
"Buka pintu!" teriak Devita berulang kali. Namun, pintu tetap terkunci. Hari semakin merangkak malam. Hawa dingin serasa menusuk hingga ke tulang.
Putus asa Devita memanggil. Tidak ada seorang pun yang berada di dalam rumah berkenan membukakan pintu untuknya.
'Papa, buka pintu. Kasihan Mama di luar," terdengar lirih suara Nazwa--putrinya.
"Biar saja, Mama di luar!" teriak Gilang. "Sudah, Kakak tidur."
Devita menahan perih di hati mendengar suara suaminya dari teras depan. "Sungguh tega dia berbuat seperti itu kepadaku," gumamnya.
Lampu ruang tamu dipadamkan. Orang-orang yang berada di dalam rumah sudah masuk ke kamar masing-masing.
Devita akan membaringkan tubuhnya di teras, namun diurungkannya. Apa kata tetangga apabila melihatnya seperti ini. Diambilnua kursi teras dan diletakkan di rerimbun semak perdu yang mrnutup pagar. Rumput jepang yang tebal menjadi penutup tanah. Biasanya di bawah rumput jepang bersarang semut api. Namun malam ini nampaknya tidak ada. Seolah mereka memahami kondisi Devita.
Devita berselonjor di kursi. Matanya terasa sangat mengantuk. Udara malam terasa dingin menusuk tulang.
Tidur sambil duduk sangat tidak nyaman. Akhirnya Devita membaringkan tubuh lelahnya di atas rumput jepang, telentang menghadap bulan sabit yang tinggi di langit.
Lelehan air mata terus mengalir karena rasa sedih di hati, mendapatkan perlakuan seperti ini.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Maaf Bu, penulisan kata 'Dibatas' pada judul di atas seharusnya 'Di Batas'. Sebab, 'Di' tsb bukan 'awalan' tapi 'kata depan' sehingga penulisannya harus dipisah dg kata berikutnya. Semoga Ibu berkenan.
Iya Pak..terima kasih krisannya..
Iya Pak..terima kasih krisannya..
Bagian pembuka cerita yang bikin baper. Keren, Bun.
Terima kadih Bunda Enin
keren Bu..mantap
Makasih Bun
Izin follow bu...barakallah
Terima kasih Pak..izin folback..
Ceritanya menari Bu, sukses selalu
Terima kasih Pak.
Terima kasih Pak.
Keren
Terima kasih Pak
Awal cerita yang sangat menarik, bunda ...bikin penasaran bnget. Sukses bunda