Ketika Bocil Belajar Meminta Maaf
Pendidikan anak usia dini, itu cukup unik, walaupun namanya pendidikan, namun sebenarnya yang dilakukan adalah bermain. tapi bukansekedar bermain, melainkan bermain yang bermakna. Sehingga metode pembelajarannya harus di buat sedemikian rupa agar menarik dan menimbulkan keinginan anak-anak untuk secara sukarela mengikuti kegiatan yang telah disiapkan.
Berdasarkan pemahaman itulah, kami mewajibkan anak-anak untuk saling memaafkan sebelum pulang ke rumahnya masing-masing. Dalam kegiatan sehari-hari, terkadang mereka saling ejek mengejek, saling mengata-ngatai atau bahkan secara tak sengaja memukul bahu atau bagian tubuh teman lainnya. Saat itu, biasanya ada yang menangis karena merasa jaddi korban dan ada yang terdiam karena merasa benar akan tindakannya atau merasa bersalah karena sudah membuat kawannya sakit dan menangis. Awalnya, anak-anak agak segan melakukannya. Karena memang tidak terbiasa meminta maaf dan memaafkan. Namun, karena secara terus menerus dilakukan, akhirnya mereka memahami tujuan dari kegiatan tersebut.
Biasanya setelah membaca doa pulang sekolah, anak-anak berbaris dan memutar saling bersalaman sambil berucap misalkan "maafkan aku ya, tadi aku nggak sengaja dorong kamu, bla..bla..bla". Dari kacamataku sebagai orang dewasa, tampak sekali perbedaan keceriaan yang anak-anak tampakkan, antara sebelum meminta maaf dan setelahnya, Mereka terlihat lebih bebas, saling melambaikan tangan dan menyatakan keinginannya untuk bermain kembali esok hari, walaupun sebelumnya saling memukul dan menendang.
Saya mempercayai bahwa anak-anak di bawah usia 7 tahun, memiliki berpikiran bahwa dunia itu penuh dengan keindahan dan orang-orang,yang ada di dalamnya adalah manusia-manusia yang baik. Keyakinan itulah yang menjadi dasar kepercayaan mereka, dan mendorongnya untuk berani mengeksplorasi dunia dengan cara yang lebih kreatif dan inovatif. Jika kita salah memberikan arahan, anak akan takut untuk mengeksplorasi dunia. Alih-alih memberikan dorongan positif, yang terjadi malah dorongan negative, yang mengajarkan rasa takut. Takut untuk mencoba, takut untuk bergerak, takut salah, takut akana rasa sakit dan ketakutan lainnya.
Kondisi seperti itu akan lebih runyam, apabila diperburuk dengan banyaknya intervensi orang dewasa dan disertai ancaman-ancaman yang semakin menimbulkan ketakutan. Maka tak heran, jika anak-anak kita, mudah trantrum, baperan dan tidak kreatif.
Mumpung masih ada kesempatan, yuk berikan ruang yang cukup bagi anak, cucu kita untuk berani mengeksplorasi dunia ini, dengan menjadi role model yang baik…
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar