Mahfud Aly

Lelaki terkombang-kambing tulisan. ...

Selengkapnya
Navigasi Web
Jadi Menteri itu Seksi
Meneliti itu Seksi

Jadi Menteri itu Seksi

Mahfud Aly

Penulis yang terkombang-kambing tulisan

***

Dear Mas Menteri,

Saya termasuk guru yang memiliki optimisme tinggi atas terpilihnya Mas sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan, sekaligus pemilik kebijakan soal Dikti yang telah kembali ke rumah yang seharusnya.

Iya, jujur saya akui bahwa memilikimu dalam gerbong yang sama membuatku nyaman dan tenang. Ada banyak ruang kosong yang bisa kau beri warna, yang berbeda.

Saya hanya guru kampung dengan cita-cita setinggi lutut. Tidak tinggi tapi masih punya hati. Ada beberapa hal yang bisa saya utarakan sebagai pembenar atas opini saya: ikrar mendukung kehadiranmu sebagai pemegang kebijakan tertinggi dalam kementrian yang gemuk dan seksi ini.

Faktanya, saya termasuk orang yang suka mundur ke belakang beberapa langkah saat melihat sesuatu, agar sudut pandang saya lebih luas dan menerima kemajemukan. Melihat dalam skala lebih luas agar saya bisa mengamati objek secara keseluruhan. Jujur, selama ini, pendidik dilihat dari perspektif orang pendidikan, hasilnya ternyata cenderung biasa saja.

Saya sudah lima tahun ini tinggal di kampung saya. Ketajaman saya melihat masalah dan potensi yang dimiliki kampung saya cenderung tumpul. Tentu berbeda, saat saya masih tinggal di luar kota. Rasa rindu yang mendalam atas kampung juga bapak ibu membuat saya sangat teliti, untuk memperhatikan tiap jengkal tanah, kenangan, juga kemungkinan positif yang bisa dikembangkan.

Kini, semua agak bias. Saya tinggal di kampung ini, sehingga daya kritis saya mati. Saya terlalu melankolis. Merasa paling tahu sehingga menghambat diri saya untuk mau belajar, rasa penasaran saya musnah, perasaan rindu saya pada kampung telah hilang.

Ketiadaan jarak membuat saya buta. Buta melihat, tuli mendengar, lumpuh untuk bergerak membawa maslahat kebaikan, dan bisu untuk bermusyawarah mencari yang terbaik dari keragaman dan perbedaan pendapat.

Dear Mas Menteri yang luar biasa

"Jangan tanyakan nasionalisme pada mereka yang sudah lama tinggal di luar negeri, dan belum bisa pulang ke negara asalnya, Indonesia."

Sungguh, setelah bepergian dan tinggal lama di luar negeri, tentu akan membuat seseorang rindu setengah mati dengan negaranya. Mereka begiti perhatian terhadap setiap jengkal kenangan dan previlage yang selama ini mereka dapatkan di Indonesia. Apa saja. Dari hal sederhana, hingga yang luar biasa.

Jika mereka tinggal di negara yang susah memperoleh nasi sebagai makanan utama, tentu nasi membuat mereka bersyukur begitu dalam katena mereka telah dilahirkan di Indonesia. Di mana-mana ada nasi. Makan roti di negeri orang tak akan senikmat makan nasi di negeri sendiri.

Jika mereka melihat kelebihan dari negara lain, mereka pasti berdoa dan berusaha bagaimana caranya agar kemajuan dan kelebihan itu bisa juga dinikmati dan ditetapkan di Indonesia, negara asalnya. Saat melihat budaya asing, tentu mereka akan semakin mengangumi betapa kayanya Indonesia akan ragam bahasa, suku, budaya, adat istiadat, hingga kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Indonesia. Bhineka tunggal Ika. Berbeda tapi satu jua.

Jarak yang jauh membuat mereka melihat secara lebih mendalam. Jarak yang jauh membuat mereka yang tinggal di luar negeri melihat Indonesia lebih objektif. Jarak yang jauh membuat mereka memiliki solusi jitu yang lebih tepat, karena pemikiran dan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan tidak bias. Tidak dipengaruhi oleh pakewuh.

Inilah gambaran tentang kehadiran Mas Menteri di kementerian ini. Orang luar yang hadir karena cinta. Orang asing yang membaw perubahan demi ke kebaikan. Orang muda yang memiliki optimisme dan solusi yang tepat agar tujuan negara dapat dilaksanakan: mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.

Dear Mas Menteri yang mau belajar,

Dengarkan pinta saya. Jadi menteri itu seksi, gunakan kesempatan ini sepenuhnya untuk memperbaiki yang tidak lumrah. Saya ibaratkan kegiatan memperbaiki kualitas birokrasi dan sengkarut pendidikan di Indonesia itu seperti beberes. Beberes itu ada ilmunya. Saya sendiri sudah membaca buku Seni Berbenah ala Kondo, dalam buku 'the life-changing magic of tidying up.' Dalam buku ini dibahas mendetail bagaimana cara beberes yang benar.

Intinya: untuk beberes kita butuh orang luar, profesional, yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan segala macam benda yang ada di rumah kita. Tidak ada sentimentil yang berlebihan. Sehingga, ia dapat menyingkirkan benda apapun yang memang sudah seharusnya disingkirkan, demi kenyamanan dan efesiensi, hingga akhirnya rumah membawa kebahagiaan, kelonggaran, dan kebahagiaan.

Dear Mas Menteri yang seksi,

Begini, ada sesuatu yang mengganjal pikiran saya. Ini terkait dengan banyaknya guru honorer yang ada di Indonesia. Saya tahu, problemnya adalah anggaran. Setelah adanya moratorium penerimaan CPNS selama beberapa waktu, juga adanya pensiun dalam jumlah besar hingga tahun 2020, tentu kehadiran guru honorer tidak boleh dikesampingkan. Betapa banyak sekolah dasar negeri yang menggantungkan denyut kehidupan pada mereka, guru honorer.

Ini fakta. Mereka adalah tumpuan, tulang punggung, bahkan pelaksana utama segala macam tetek benget urusan sekolah. Tanpa mereka, banyak sekolah dasar uang terpaksa di-shutdown. Mati! Saya tidak bercanda.

Pendidikan itu memanusiakan manusia. Guru adalah manusia mulia. Mereka telah lama bersabar dan bertahan. Bukannya mereka tak punya pilihan lain. Mereka punya. Hanya saja mereka tak kuasa melihat hati siswa patah. Mereka sangat cinta dan dipercaya. Guru itu laksana lilin. Mereka siap terbakar, demi masa depan gemilang generasi penerus bangsa.

Tapi apakah negara begitu abai pada mereka? Mereka itu lulusan sarjana. Gajinya sebulan Rp. 150-500 ribu. Itu tidak manusiawi. Saya minta tolong, perhatikan mereka. Entah bagaimana. Karena faktanya, negara butuh mereka. Hanya negara malu-malu mengakui kenyataan itu.

Ada juga ribuan guru yang masuk K2, pemberkasan itu sudah sejak lama. Sebagian telah lulus, sebagian lain masih terkatung-katung dengan janji. Rencana pemerintah memanusiakan mereka dengan P3K. Tapi, hingga detik ini, semua itu baru wacana.

Dear Mas Menteri yang masih muda,

Sebagai orang dari luar pendidikan, saya percaya Mas menteri memiliki rencana-rencana. Strategi terbaik untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas pendidikan di Indonesia. Kajilah secara mendalam. Gunakan insting dan intisimu!

Gunakan keberuntungan dan cara pandangmu yang out of the box, bawalah pendidikan ini menuju pintu gerbang emasnya. Pendidikan yang memuliakan. Pendidikan yang memanusiakan. Pendidikan yang mensejahterakan.

Dear Mas Menteri yang milenial,

Terakhir, saya mohon dengan sangat. Perjuangan ini tidak akan mudah. Penuh rintangan dan hambatan. Penuh duri dan kerikil tajam. Penuh penolakan atas nama tradisi dan kebiasaan. Tetaplah tabah dan pantang menyerah. Intinya adalah tetap percaya dan bicara. Dari hati ke hati. Semua orang pada dasarnya baik. Yang jahat itu abai. Membiarkan sesuatu yang tidak pas berjalan sekian lama.

Jaga kesehatan dan semoga Allah SWT memanjangkan umurmu. Percayalah: pendidikan Indonesia tak perlu meniru Finlandia, Australia, atau Eropa. Kita berbeda. Kita juga pernah berjaya. Toh, sekian lama kurikulum kita berkiblat pada negeri maju nyatanya juga biasa saja.

Teknologi bisa diadopsi, tapi jati diri bangsa Indonesia harus diutamakan. Kearifan lokal harus diperhatikan. Jangan jauhkan siswa di pedesaan dari pertanian. Jangan jauhkan siswa dari pesisir panti dari lautnya. Jangan pisahkan anak Papua dari tanahnya.

Pendidikan harus memberi lanjaran, bukan mencabut manusia dari akar kehidupan. Faktanya, industri tidak mampu menyerap angkatan tenaga kerja di Indonesia. Sementara, nelayan kekurangan orang. Pertanian kekurangan generasi penerus di masa mendatang.

Jika semua jadi kuli pabrik, siapa yang menanam padi?

Jika semua dicetak jadi karyawan, siapa yang jadi nelayan?

Demikian tulisan ini, saya tahu kadang untuk membuktikan cinta itu menyakitkan. Menjadinjujur itu butuh keberanian. Saya ingat pernah sua Mas menteri di acara "Harus Bisa," yang digagas oleh Modernisator.org yang diprakarsai oleh Pak Dino Patti Djalal tahun 2009. Maka, saya percaya Mas menteri bisa. Jika tidak bisa, ya harus bisa. Sesederhana itu.

Lamongan, 29 Oktober 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Mantul Pak.Mahfud

30 Oct
Balas

Mudah-mudahan Pak mentri tambah seksi dengan ide-idenya Mas Editor keren menewen

31 Oct
Balas

Semoga ada perubahan lebih baik di dunis pendidikan kita.

12 Feb
Balas



search

New Post