Lutvi Aprilian Wulandari

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

84. Mas, Aku Bosan!

84. Mas, Aku Bosan!

Beberapa kali Surti memencet-mencet tombol remote tv. Ia sibuk mengganti cannel TV-nya setiap kali iklan ditayangkan. Tak jelas acara apa yang sebenarnya ingin ditonton. Yang pasti ia tak mau menonton iklan.

Mula-mula Surti memilih acara infotainment yang mengabarkan hingar-bingar perayaan lebaran ala selebritis yang kadang membuat jiwa misquen berontak. Bagaimana tidak. Mulai dari seragam lebaran rancangan desainer ternama, angpau yang isinya tak tanggung-tanggung, hingga puluhan hampers yang memenuhi ruangan. Beberapa kali Surti memberikan komentar yang menunjukkan kekagumannya. Waaaah…Wow…luar biasa!

Saat infotainment terjeda iklan, Surti kembali memindahkan cannel. Kali ini ia memilih berita yang menayangkan seputar arus mudik, penyekatan, dan lonjakan pengunjung di tempat wisata.

Berita pertama tentang beberapa pemudik yang tampak marah-marah bahkan mengeluarkan kata-kata kasar pada petugas saat diperiksa di pos penyekatan. Surti tak habis pikir. Mengapa mereka harus bersikap seperti itu? Padahal informasi tentang persyaratan perjalanan telah disampaikan pemerintah jauh-jauh hari sebelumnya. Mungkin karena ia tak menyimak atau memang sengaja berspekulasi manatahu tidak ada pemeriksaan. Belakangan mereka diberitakan telah meminta maaf secara terbuka dan tetap harus menjalani sidang karena kasus ini.

Pada berita lain disiarkan pula beberapa lokasi wisata yang dibuka pada masa libur lebaran kali ini. Rupanya kebijakan dibukanya lokasi wisata menjadi anginsegar bagi masyarakat untuk melepas penatnya saat libur panjang hingga melupakan protokol kesehatan. Terjadilah kerumunan di mana-mana. Hal yang ditakutkan adalah terjadinya lonjakan kasus Covid-19 selepas libur panjang ini. Kali ini ekpresi Surti lebih banyak diam. Sesekali dahinya mengernyit menahan emosi.

Saat iklan ditayangkan di sela-sela berita, kembali Surti memindahkan canelnya. Begitulah seterusnya yang ia lakukan beberapa hari ini. Libur panjang kali ini tak banyak yang bisa ia lakukan. Ia tak bisa mudik lagi tahun ini. Padahal kangennya sama keluarga di kampung sduah sampai ke ubun-ubun karena tahun lalu pun ia tak mudik. Tapi apa daya, ini larangan pemerintah. Demi keamanan bersama, ia harus patuh.

Tejo, suami Surti yang duduk di sebelahnya, lebih memilih diam sembari mencomot kacang bawang sisa lebaran. Tak banyak tamu yang datang lebaran tahun ini, hanya sanak saudara terdekat saja. Jadi, isinya masih terlihat penuh. Tanpa terasa, isi toples itu sudah berpindah ke perutnya hingga tampak tinggal setengah saja yang tersisa sebelum ia menutupnya rapat-rapat. Khawatir istrinya akan tambah marah kalau tahu kacang bawangnya ludes.

“Mas, aku bosan!” ucap Surti tiba-tiba. Kali ini ia mematikan TV sembari menggelayut manja di bahu suaminya. “Lama-lama aku bisa stress kalau begini,” lanjutnya.

“Memangnya kenapa, Dik?” tanya Tejo. Dielusnya rambut sang istri yang kini tak sepenuhnya hitam. Beberapa helai warna putih mulai tampak di sana.

“Aku bosan kelamaan libur. Pasalnya ngga banyak yang bisa dilakukan. Paling cuma nonton tv, main hp, tidur. Bosan! Anak-anak juga sibuk dengan urusan masing-masing,” jawab Surti malas.”Jalan-jalan, yuk! Ngga usah jauh-jauh. Kita ke mall deket rumah aja,” lanjutnya.

Tejo pun mengikuti keinginan istrinya. Ia pun menemaninya belanja ke mall. Tak lupa ia pastikan dana di rekeningnya aman untuk bulan ini sebelum gajian berikutnya. “Alhamdulillah, masih aman. Sisa THR pun masih ada,” ucapnya dalam hati. Biasanya kalau lagi galau begini, istrinya suka ngga kontrol saat belanja. Biarlah asalkan bisa membahagiakan hatinya. Kalau istri bahagia, Tejo pun ikut bahagia.

“Mas, aku mau ke toko buku dulu, ya! Rasanya pengen baca beberapa novel biar ngga bosen,” ucap Surti setibanya di mall.

“Oke,” ucap Tejo singkat. Ia mengikuti saja kemana Surti pergi.

Usai memilih beberapa novel, Surti membayarnya di kasir. Tentu saja dengan kartu debit Tejo. Tejo hanya tersenyum saat melirik total pembayarannya, hampir mencapai setengah juta. “Biarlah, asal kau bahagia istriku,” ucap Tejo dalam hati.

Mereka pun melanjutkan acara belanja di supermarket yang ada di basement mall tersebut. Satu troli penuh barang belanjaan sudah siap mengantri di kasir untuk dibayar. Lagi-lagi Tejo hanya tersenyum melihat total belanjaannya. “Biarlah, uang bisa dicari, tapi kebahagiaan istri tak bisa dibeli,” ucapnya dalam hati.

Setelah puas berbelanja, mereka pun pulang. Senyum bahagia terpancar dari wajah Surti.

“Terima kasih, ya, Mas!”

“Iya, sama-sama. Udah, ya, jangan stress lagi.”

“Iya, mas. Aku menemukan ide saat di toko buku tadi.”

“Wah, apa, itu?”

“Aku mau menulis. Novel-novel ini akan jadi referensiku. Ide tulisannya sudah ada di kepalaku.”

“Wah, ide bagus itu! Lanjuuuut.”

“Aaamiiin.”

Mereka pun tertawa bahagia.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post