Ketika Buah Hati Merelakan Bunda Pergi Bekerja
Adegan drama di pagi itu, “jangan kerja Bunda.....!!!! Bunda jangan pergi....!!!! Huuhuuuhuuuhuuu....!!!!!” Aisya menangis meraung-raung meratapi kepergian Bunda untuk bekerja. Adegan tarik menarik antara Aisya, Bunda dan pengasuh selalu terjadi setiap pagi. Tontonan gratis buat tetangga yang tak jarang nyinyir berkata, “udah... Bundanya resign aja, kasian anaknya menjerit-jerit tiap pagi”.
Delapan tahun yang lalu adegan itu bisa dipastikan tiap hari terjadi. Kini tak ada lagi tangisan menyayat hati tatkala Bunda pergi bekerja. Bahkan tatkala Bunda berkata, “sayang... Bunda dinas ke luar kota ya... Bunda seminggu baru pulang.... Aisya mau oleh-oleh apa?”
“Aisya tidak ingin oleh-oleh Bunda... Cepat pulang kalau kerjaan Bunda sudah selesai ya...”. Jawaban bijak dari Aisya setiap Bunda minta ijin untuk dinas ke luar kota.
Apa perasaan Bunda ketika sang buah hati dengan legowo berkata seperti itu? Bahagiakah karena Bunda bisa terbebas sesaat dari tanggung jawab terhadap pengasuhan anak? atau Bunda merasa tersiksa karena merindukan tangisan tak rela seperti delapan tahun yang lalu?
Sah-sah saja ketika seorang Bunda memutuskan untuk bekerja. Pasti ada alasan tertentu yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun. Tapi Bunda jangan terlena dengan sikap anak yang sudah mulai menerima keadaan bahwa Bundanya bekerja. Bunda harus ingat, waktu terus bergulir dan tak akan pernah kembali lagi. Masa anak-anak hanya sebentar saja. Sikap manja anak-anak hanya sebentar saja. Kerepotan Bunda mengurus anak-anak hanya sebentar saja. Setelah itu anak-anak akan mempunyai dunia sendiri.
Saat itu Bunda pasti akan merasa rindu dengan masa-masa sulit. Saat itu Bunda pasti akan rindu dengan tangisan tak rela dari anak ketika melepas Bunda bekerja. Saat itu Bunda pasti akan rindu bau “pesing” karena anak masih ngompol. Saat itu Bunda pasti akan rindu bau badan khas anak-anak yang aduhai wanginya. Masa itu pasti akan terjadi, masa dimana kita merindukan kegaduhan rumah karena anak-anak. Semua ada waktunya Bunda... Nikmati saja Bunda...
Memang tidak mudah merangkap tugas, bekerja dan mengasuh anak. Memang capek tatkala pulang bekerja mendapati rumah berantakan bak kapal pecah. Namun semua itu akan berlalu Bunda... Tiba- tiba kita mendapati anak kita sudah remaja padahal belum lama rasanya dia terlahir ke dunia. Semua ada masanya Bunda... Nikmati saja setiap episode dalam hidup Bunda. “Robbi habli minash shalihin” semoga kita diberikan anak-anak yang sholeh sholehan, anak-anak yang “Qurrota a’yun” yang menjadi penyejuk jiwa bagi orang tua dan keluarga. Aamiin...
Bandung, 16 November 2017
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
nikmati aja bu... waktu tidak terasa berlalu, nanti tiba masanya kita merindukan kerepotan itu...
Saya sedang mengalami kerepotan itu tapi alhamdullilah saya nikmati..