Lina Mahsula Fari

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

APA SALAHKU

APA SALAHKU

Astaghfirullaahal 'adzim

Apa salahku Ya Alloh

Itulah kalimat pertama yang terucap saat hasil swab PCR keluar. Seketika luruh tubuh ini. Tak ada yang bisa dipikirkan kecuali menangis dan menangis.

Aku tak terima. Bagaimana bisa terjadi padaku??

Rapid test secara periodik kulakukan dan sesekali swab antigen. Hasilnya selalu negatif. Bukan tanpa alasan tes tersebut. Pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang membuatku harus waspada.

Aku sehat, tidak batuk, tidak pilek, tidak pusing dan tidak nyeri sendi. Aku juga makan teratur, rutin minum vitamin, rajin olah raga, memakai masker, mencuci tangan serta menjaga jarak. Bahkan di dalam tas tersedia hand sanitazer, tisu basah dan tisu kering yang senantiasa kupakai sesuai kebutuhan.

Tiba-tiba bencana itu datang. Masih lekat dalam ingatan tanggal 1 Februari 2021 aku menjalani swab antigen sepulang dari melaksanakan tugas dengan hasil negatif. Namun 4 hari kemudian badanku panas semalaman. Esok harinya aku swab PCR dan dinyatakan positif covid dengan CT 17. Aku sudah sehat mengapa hasil sangat rendah?

Shock??? Pasti.

Astaghfirullaahal 'adzim

Apa salahku Ya Alloh

Hanya hitungan hari. Mana mungkin panas semalam tidak sampai 24 jam bisa meruntuhkan kesehatanku. Air mata yang terus keluar nyatanya tidak membuat hasil berubah. Ketakutan akan dikucilkan masyarakat, isolasi yang mengerikan seperti berita yang beredar, dijemput ambulan, bertemu tenaga kesehatan berpakaian APD benar-benar makin membuat terperosok.

Berbagai pertimbangan, motivasi dan penguatan akhirnya keputusanpun ditetapkan. Tanggal 6 Februari 2021 kutinggalkan rumah dengan derai air mata. Aku diantar sang putra menuju Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) Jakarta. Banyak bayangan buruk melintas dalam benak selama perjalanan. Akankah aku kembali ke rumah lagi? Bagaimana nantinya keluargaku? Mampukah aku bila dijauhi teman dan tetangga?. Hanya satu yang membuat ku tenang. Aku tidak merasakan gejala apapun pasti cepat sembuh dan di rumah sakit hanya sebentar.

Sampai di RSDC aku berpisah dengan putra di tempat parkir sesuai SOP yang berlaku. Selanjutnya masuk ke ruang IGD sendirian. Rasa takut makin membentang melihat banyaknya pasien menunggu antrian. Semua pasien covid. Saat itu pula aku pasrah. Terserah apa yang terjadi. Kuserahkan rujukan dan hasil swab dari dokter. Dzikir dan do'a mengiringi penantian panggilan. Laksana orang pesakitan yang menanti ketok palu dari hakim. Untung tak perlu waktu lama karena suami telah koordinasi dengan pihak rumah sakit sebelum aku datang. Namaku dipanggil setelah dua nama lain mendahului. Beberapa tes kesehatan kulalui mulai tes darah, cek tekanan darah, cek saturasi dan rekam jantung. Alhamdulillah hasil baik semuanya. Lantas mengapa aku positif covid? Apa karena CT rendah? Apa penyebab CT rendah? Tak kutemukan jawaban.

Aku menempati salah satu kamar di lantai 18 tower 6. Satu pandangan buruk tentang ruangan covid luntur. Berita yang pernah kulihat dan kudengar tentang ruangan yang berisi banyak pasien tidak terbukti. Aku berada disatu ruangan semacam apartemen yang berisi 2 kamar. Satu kamar dihuni satu orang. Ada ruang ramu, wifi gratis, satu kamar mandi dan satu dapur yg kumanfaatkan sebagai tempat jemuran juga. Nyaman yang kurasa. Andai tinggal di apartemen ini untuk berlibur tentu menyenangkan.

Kegiatan sehari-hari selain tidur ku gunakan untuk sholat, mengaji, membersihkan kamar, mandi, makan, olahraga, berjemur, menikmati snack sambil membaca, mencuci dan komunikasi dengan keluarga serta handal taulan. Menyenangkan dan bahagia awalnya. Badan sehat, tidak bekerja, semua yang diinginkan disediakan. Berasa anak Sultan. Kata orang harus bahagia biar imun segera naik. Lama-lama rasa jenuh menghampiri. Kegiatan monoton, tidak boleh keluar dari rumah sakit. Keluar hanya untuk olahraga di lantai 16 atau di lantai bawah. Selebihnya hanya di dalam kamar.

Kepercayaan tinggi untuk cepat sembuh karena tanpa gejala, menurun saat hari kesembilan swab. Hasilnya masih positif dengan CT yang masih rendah. Atas saran dokter aku dipindah ke lantai 21. Berkumpul dengan orang-orang yang dianggap komorbid padahal aku tak punya penyakit bawaan. Apalagi ini? Sedih tapi ku tetap berusaha tersenyum. Minum obat dengan jumlah cukup banyak jadi konsumsi rutin.

Hasil swab di hari kelima belas dan hari kedua puluh dua masih positif juga. Rasanya tak ingin lagi melakukan pengobatan. Menangis, mengeluh ke dokter, perawat dan keluarga tiada guna. Hampir putus asa jika tak ingat kata guru ngaji bahwa Alloh tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Kujalani hari-hari dengan kegiatan seperti biasa dan kutambah dengan menyelesaikan pekerjaan kantor yang tertunda. Niatnya untuk membunuh kejenuhan. Ternyata cara yang kupilih salah. Beberapa hari menghibur diri dengan menyelesaikan pekerjaan kantor membuat hatiku senang tapi tubuh menolak. Kepala pusing, badan terasa sakit seperti habis dipukul dan sedikit mual. Inilah kali pertama aku merasa sakit selama menyandang gelar covid. Tiga hari kemudian semua rasa sakit itu hilang.

Aku kembali swab hari ketiga puluh atau tiga puluh satu lupa tepatnya. CT turun drastis. Aku hanya bisa marah dan menangis sekeras-kerasnya. Hancur harapan sembuh. Motivasi dari suami dan anak terasa hampa. Aku tak mau berkomunikasi dengan siapapun kecuali dengan suami dan anak. Whatsapp dari saudara dan teman tak ada yang kubaca. Telepon kuabaikan. Aku lelah. Aku kalah. Aku nyerah. Aku benar-benar putus asa.

Apa salahku hingga diberikan sehat tapi sakit sekian lama? Dalam diam aku mencoba mengingat dan introspeksi. Mungkin aku takabur. Asalkan melakukan semua protokol kesehatan pasti covid takkan menyapa. Nyatanya justru menempel. Kala menempel, aku masih beranggapan jika tanpa gejala tentu cepat sembuh. Astaghfirullah. Aku kembali menangis tapi tak lagi marah. Aku menangis karena kesombonganku. Aku mengeluh pada Sang Pemilik Hidup. Memohon ampun dan belas kasih.

Kujalani 10 hari berikutnya di tower 4 lantai 21. Kulepas semua beban kesedihan dan putus asa. Kunikmati hobi menonton dan membaca. Pasrah, ikhlas dan ikhtiar menjalani. Setelahnya hasil swab negatif. Alhamdulillah aku diijinkan pulang. Ternyata salah besar ketika aku berpandangan penyintas covid tanpa gejala akan cepat sembuh. Buktinya aku harus menikmati hampir satu setengah bulan.

Waspada!

"Jangan pernah takabur"

*Covid itu ada. Covid itu nyata meski tak terlihat.*

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Waspada,jangan pernah takabur,Alhamdulillah,sehat selalu,salam literasi

02 Jul
Balas

Siap. Alhamdulillah. Salam literasi

02 Jul

Masya Allah jln ceritanya enak dibc , tp sedih ya dg pengalaman di alami.Alhamdulillah udh sehatvya BunSmg mnjd hikmah yg luar biasa bagi pembaca.Aamiin

02 Jul
Balas

Alhamdulillah bunAamiin

02 Jul

Keren Bun, bahasanya mudah dan nyaman di ikuti

02 Jul
Balas

Keren Bun, bahasanya mudah dan nyaman di ikuti

02 Jul
Balas

Terima kasih

02 Jul



search

New Post