Kustiatun Widianinghsih

Dra.Kustiatun Widianingsih.M.Phil.SNE adalah peserta diklat Gurusiana tahun 2018, Aku adalah seorang Pengawas Sekolah Pendidikan Khusus.Aku lahir di Jogjakarta ...

Selengkapnya
Navigasi Web
PEMBELAJARAN ANDRAGOGI  PADA DIRIKU
Cerpen ini membawaku pada kisah tentang masa kecilku disaat pembelajaran pendewasaan pada diriku dengan menghargai barang bekas yang menjadi sarana untuk berkembangnya kepribadian yang cinta lingkungan.

PEMBELAJARAN ANDRAGOGI PADA DIRIKU

PEMBELAJARAN ANDRAGOGI PADA DIRIKU DISAAT AKU KECIL

Oleh: Dra.Kustiatun Widianingsih.M.Phil.SNE

Pengawas Sekolah Pendidikan Khusus/SLB Provinsi Jawa Timur.

Jumat" 11 September 2020

Menjadi renunganku saat ini, ternyata aku dibesarkan pada lingkungan yang membawaku pada filosofi Kihajar Dewantoro Ing Ngarso Sung Tulodo Ing Madya Mangunkarso Tut Wuri Handayani.

Berawal dari hobyku mengumpulkan barang bekas .Barang bekas biasanya orang menganggap barang yang tidak ada manfaatnya dan tidak berguna, serta membuat tempat jadi kotor.

Tidak bisa kupungkiri aku telah memiliki pengalaman di masa kecilku dari sekolah dasar sampai di bangku Sekolah Menengah yang mungkin anak-anak saat ini tidak melakukan hal itu, yaitu mengumpulkan barang bekas berupa kertas,plastik dan perangko bekas.

Dari peristiwa itu dapat diambil manfaatnya bahwa pendidikan di awali dari diri sendiri untuk memiliki tanggung jawab atas perbuatannya sendiri menuju kedewasaan pribadi.

Adapun barang bekas tersebut berupa kertas itu adalah bungkus premen ada yang namanya premen Gobyis, Premen Binteng yang premennya dibuat dari jahe. Bungkus premen itu aku kumpulkan lalu aku tata disimpan dalam buku. Sungguh asyik jika kami berkumpul untuk saling bertukar barang.

Bungkus rokokpun tidak ketinggalan aku koleksi, sangat menginspirasi saat masa dulu di zaman orde lama.” Jangan dibuang” kataku, saat buku yang belum kutempel dengan rapi dibuku yang diambil dari almari belajarku mau dibuang di tempat sampah oleh kakakku. “Untuk apa? Kata kakakku. “ini buat koleksi banyak gambar yang dapat digunakan untuk dicontoh saat ada pekerjaan rumah membuat ketrampilan”, Jawabku sambal ku rapikan kembali di meja yang manan kakaku menaruhnya. Rupanya hobiku dengan kakakku berbeda, dia banyak membantu ibuku mengasuh adikku yang masih kecil, sehingga waktu bermainnya kurang dibandingkan dengan aku.

Dari cerita saya tersebut bahwa pendidikan mempengaruhi kedewasaan seseorang terbukti disaat kecil saya dengan kakak saya berbeda kakak saya banyak membantu orangtua untuk mengasuh adik karena kondisi keluarga, sedangkan saya banyak memiliki kesempatan bermain yang menumbuhkan rasa elaborasi dengan teman-teman terbukti bahwa barang bekas yang kami kumpulkan menjadi koleksi seni atau menjadi fasilitas untuk bertemu dengan teman dan saling bersosialisasi. Memiliki rasa asih asah asuh antar teman dengan menukar barang dan saling bekerja sama.

Kalua melihat hal tersebut Kihajar Dewantoro telah menanamkan pada sekolah di saat saya di Sekolah Dasar di tahun 1972.

Aku teringat saat di bangku sekolah dasar aku bermain dari rumah ke rumah teman-temanku, memang anak zaman dulu suka main kerumah temannya. Biasanya kami lakukan setelah pulang sekolah. Sahabat masa kecilku bernama Ajeng,Fatia, Anom, Pipu, Aini, Laela, Riris, Yati, Rati, Titin, Yanti dan masih banyak lagi yang suka bermain dihalaman rumahku.

Suatu saat kami tidak bermain ke sungai kami suka bermain di rumah teman yang orangtuanya memiliki pabrik batik. Selain mengumpulkan bungkus permen , kami juga suka mengumpulkan merk / tiket batik/ logo nama batik dari berbagai nama. Kami koleksi dan ditempelkan pada buku.

Setelah kumpul koleksinya ada bekas cap batik, bekas bungkus permen, bungkus rokok, kami biasanya saling tukar menukar dengan teman-teman lainnya. “ Mana koleksimu kata Pipu”, dia seorang teman yang memiliki hoby mengumpulkan perangko. “wah kamu banyak punya koleksi perangko”, celotehku, sambil kulihat ternyata koleksi perangkonya banyak sekali. Aku jadi ingin membongkar buku-buku pakdeku dan ternyata pabdeku memiliki perangko bekas yang disimpan di amplop. “ Pipu.. aku juga punya” sambil menghampiri dia yang saat itu bermain dirumahku. Aku diajari cara menata sesuai dengan kategori gambar dan kami simpan di album filateli.

Filateli adalah organisasi penggemar koleksi perangko antar negara. Aku tidak memiliki koleksi banyak hanya ada beberapa perangko gambar dari luar negeri, saat itu aku dapat perangko dari saudaraku yang tinggal di laur negeri. Pipu Temanku demikian juga dia koleksi perangkonya banyak yang dari negara-negara lain. Aku terbayang seandainya nanti aku dapat melihat atau tinggal di negara lain. “Sungguh betapa senangnya aku memiliki perangko banyak dan pengalaman tinggal di negara lain” lamunan itu mengagetkan aku dari teriakan Pipu. “ Ayo gentian main kerumahku, kata kakakku dapet perangko banyak dari temannya nanti aku kasih”, kata Pipu. Betapa baiknya temanku Pipu yang suka ngasih perangko bekas dari negara lain. Biasanya kami bertiga dengan Ajeng dan Pipu saling berlomba mengoleksi barang bekas.

Kertas logo batik kudapatkan sangat mudah sampai kami mengintip di jendela yang punya usaha batik hanya untuk mendapatkan tiket/logo batik.” Ayoo kita cari yang lain saja” kata Ajeng,” selain dirumahku kalian bisa cari juga dirumah pakdeku, dirumah Aini” . Sambil kami melanjutkan cari tiket dan batu permata , kami berjalan menelusuri masjid besar yang mana masjid itu juga punya sejarah buat kami bermain.

Dari permainan di masa kecilku dapat kuambil pembelajaran bahwa pendidikan itu tidak mendapatkan tekanan dari orang laia tetapi memiliki kebebasan untuk berinovasi, berkolaborasi dan kemandirian. Terbukti dahulu tidak ada tekanan dari orang tuaku.

Cerpen ini telah membawaku pada ketrampilan berkolaborasi, berkomunikasi, serta jiwa literasi seorang Pengawas Sekolah Luar Biasa. Alhamdulillah sekarang dapat kurasakan hasil pendidikan dari keluargaku di daerah Kotagede Jogjakarta.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Semangaaat Bun. Luar biasa.. sukses selalu Bun. Salam literasi

12 Sep
Balas

Masya Allah luar biasa. Salam sukses dan salam Literasi....

11 Sep
Balas

Sae bu tulisannya. Kl saya waktu SD koleksinya perangko. Salam kenal. Sukses selalu bu. Salam literasi.

11 Sep
Balas



search

New Post