Pagiku yang kacau (1)
Aku terjaga. Kepalaku terasa berat. Kulihat jam menunjukkan pukul 5.15. Aku terkejut dan itu membuat kepalaku semakin bertambah berat. Aku belum sholat subuh. Segera aku bangun, minum segelas air putih hangat lalu ambil air wudlu. Saat sholat subuh, tentu saja pikiranku jadi melayang-layang. Aku mencoba menyusun jadwal yang mendadak harus menyesuaikan dengan sisa waktuku sebelum masuk sekolah.
Selesai sholat, aku menuju lemari es. Kuambil semua bahan makanan untuk menu hari ini. Daging ayam dalam freezer sudah sangat beku. Lapisan esnya begitu tebal. Pertanda bahwa umur daging ayam itu cukup lama di freezer. Ya, aku punya kebiasaan berbelanja bahan makanan mingguan. Aku biasa membeli daging ayam, daging sapi ataupun ikan di pasar di hari Sabtu atau Minggu. Untuk ikan, aku selalu meminta penjualnya untuk membersihkan-nya juga. Dan sesampainya di rumah, aku mengemasnya menjadi beberapa bagian. Kadang ada yang sudah kubumbui untuk siap digoreng sewaktu-waktu.
Ah, karena bangun kesiangan, aku tak punya banyak waktu untuk mencairkan es yang melapisi daging ayam itu. Akhirnya, aku merubah urutan rutinitasku. Sambil menunggu daging ayam sedikit lunak, aku mulai memilah pakaian kotor yang akan kurendam. Pakaian warna terang, pakaian yang mudah luntur, pakaian dalam … Ya, meski ada mesin cuci, aku masih suka yang tradisional alias menguceknya. Rasanya kurang afdhol kalau tidak melalui proses mengucek. Baru untuk proses membilas dan mengeringkannya, aku menggunakan mesin.
Biasanya, aku merendam cucian sekitar 5 sampai 10 menit. Tapi kali ini, tak sampai 2 menit, langsung kukucek. Dan aku cukup teliti untuk memilih bagian yang perlu perhatian ekstra untuk dikucek, misalkan pakaian seragam anak-anak terutama di bagian leher, manset lengan. Tapi itu butuh waktu jadi aku menguceknya asal saja.
Proses mengucek cucian memakan waktu 35 menit. Selebihnya, selama pembilasan dan pengeringan bisa aku lakukan sambal memasak. Ternyata daging ayam masih beku juga. Biarlah kumasak dalam kondisi beku. Anak-anakku sudah selesai berseragam dan bertanya kapan makanan siap untuk dikemas sebagai bekal. Untuk sarapan, aku selalu menyediakan sereal, susu cair, atau roti dan aneka selai. Untunglah, mereka juga cukup besar untuk menyiapkan sarapan dan mengemas bekal mereka sendiri.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar