Daun Muda
Tantangan 66
Bagian 4
Akhirnya Dion tahu siapa Annisa. Ketika pulang kantor, dikabarkannya berita bahagia ini pada ibu. Betapa senangnya ibu mendengar kabar ini. Selain itu dengan hati hati dan lembut Dion juga menyampaikan, kalau besok dia bertemu calon ibu mudanya. Ibu hanya tersenyum tipis tanpa ekspresi. Tangan ibu memegang tangan Dion dan berkata " Semua ibuserahkan padamu. Kalau kau setujiu, walau muda, ibu ikut aja. Aturlah semua. Jangan lupa setelah ada keputusan, gantian kau kenalkan ke ibu. Oh, ya calonmu juga kenalkan ke ayah dan ibu." Dion memeluk ibunya dan mengangguk.
Esok harinya, tepat setelah Zuhur , disebuah rumah makan Dion bertemu ayah beserta calon ibu mudanya. " Dion, inilah calon ibu mudamu." ayah memperkenalkan. dDion mengulurkan tangannya sambil menyebut namanya. Sementara gadis itu juga menyambut uluran tangan Dion dan menyebut " Ema" Calon ibu muda Dion masih sangat muda. Dion memanggilnya tante. Usianya lima tahun dibawah Dion. Sementara usia Dion 25 tahun. Dari penilaian Dion tante Ema orangnya mandiri dan ambisi. Dari perbincangan dan info yang diterima Dion dari orang suruhannya, tante Ema dari keluarga susah. Tapi regilius. Pertemuan ayah dengannya, tanpa sengaja.Ayah bertemu di lapangan golf. Tante Ema bekerja sebagai joki, dilapagan itu. Ayah yang memang gemar merumput, langsungsaja menggoda tante Ema. Akhirnya karena sering ketemu mereka jadi dekat. Dari tante Ema ayah mau salat. Karena syarat cinta ayah diterima bila ayah salat. Tante juga paham kalau dia akan dimadu. Akhirnya Dion mempertimbangkan calon ayah ini. Dengan berbisik Dion berkata pada ayah, "Dion pertimbangkan, yah. Keputusan akhir tetap pada ibu. Dalam tiga hari ini, sudah ada jawaban" begitu ucap Dion. Ayah pun setuju. Akhirya Dion pamit dan meninggalkan ayah bersama tante Ema.
Dion kembali ke kantor. Hari ini dia ingin berkenalan dengan Annisa. Dia sangat gugup. Maklum, walau usia sudah dewasa, Dion belum pernah pacaran. Entah mengapa dia sulit membuka hati. Namun begitu melihat Annisa, dia serasa menemukan sesuatu yang pernah hilang. Apa itu, entahlah, dia sendiri tak tahu. Dengan bantuan pak Zul, Annisa dipertemukan denga Dion." Nisa, ambil laporan kemarin . Ada beberapa hal yang mau direvisi" begitu peritah pak Zul. " Nanti kalau kau disuruh duduk sebentar, ikutin aja. Mungkin dia mau menjelaskan rasa kurang nyaman dihatiya, kemarin. " lanjut pak Zul. " Gak mau . Bapak saja, Nanti saya dimarahya. " Nisa menolak. Namun pak Zul tegas memerintah. Akhirnya, dengan rasa takut Nisa datang menghadap.
Ketika keduanya saling berhadapan,. Tampak Dion gugup, hatinya terus bergetar. Sementara Annisa juga sama, namun ditambah rasa takut. Dengan suara yang bergetar Dion mulai mencairkan suasana " Hemm, siapa namamu. Sudah lama kerja disini. Karena saya lihat kerjamu sangat bagus. " begiru Dion mengawali pembicaraan. Annisa yang semula tegang lama lama tenang. Entah menurun bakat ayah, Dion akhirnya, lancar ngobrol, dan bahkan mereka nyambung. Annisa sebenarnya heran, mengapa dia mau saja diajak ngobrol diluar materi kerja. Bahkan dia senang ketika ada kalimat yang memuji dirinya Tak terasa satiu jam mereka ngobrol .Annisa ijin kembali. Dion mempersilahkan. Namun sebelum Nisa keluar Dion berbisik ditelinga Anisa. " Nisa, kamu cantik. Boleh kakak berlama lama memandangmu" Nisa tersipu malu. Wajahnya merona. Apalagi ketika berbisik, tubuh mereka sangat dekat. Desah napas Dion serasa masuk ketelinga Annisa dan menjalar keseluruh tubuh. Nisa hanya tersentum dan segera melangkah. Tangan Dion segera menahan tubuh Nisa. Rasa kaget dan jantung yang berdebar kencang membuat tubuh Nisa sedikit limbung dan bersandar di dada Dion. " Maaf, pak. " Nisa segera memperbaiki posisinya. Dion tersenyum senang. " Panggil kakak, bila kita berdua. Kakak mau no hpmu. " seperti terhipnotis Annisa memberikan no hpnya. Padahal selama ini, dia terkesan pelit no hp. " Trimakasih, adik cantik. " Annisa tambah malu. Cepat dia berlalu. Dion tersenyum bahagia.
Sejak saat itu Dion tambah semangat, wajahnya lebih cerah. Pergi kekantor lebih awal. Kadang dia bersenandung kecil. Begitu juga dengan Nisa. Biasanya Nisa bekerja sangar serius, kali ini lebih enjoy. Pak Zul tersenyum " Hemm, akhirnya, Nisa bisa juga jatuh cinta" gumam pak Zul dalam hati.
Mereka tambah akrab. Kadang Dion kerumah Nisa, Kadang mereka jalan, shoping, makan dan indah hari dilalui. Sampai Dion lupa janjinya pada ayah. Hampir sebulan Dion tak memberi kabar ayahnya. Tentu saja ayah heran. Dicobanya untuk bicara pada Dion , tapi tak ada kesempatan Dion selalu sibuk.
Hari itu kebetulan minggu, Dion mengajak ibu bicara. " Bu, Dion ingin mengenalkan mantu ibu. Moga ibu setuju pilihan Dion. " Ibu tersenyum senang " kapan nak? " belum sempat Dion menjawab ayah, datang dan ikut duduk. " Mengapa ayah gak diajak bicara? " Ayah kelihatan kurang senang. Segera ibu menjelaskan. Akhirnya ayah menerima. " Ya sudah, bawalah. Kenalkan ke ayah dan ibu. Jangan lupa juga milik ayah, kapan kau sampaikan ke ibumu." ayah berharap sangat. Ibu manyun. Dion merasa gak enak hati. " Yah, jaga sedikit perasaan ibu. Kenapa sih, gak berubah! " Gerutu Dion. Ayah diam tak berani lagi bersuara. Entah mengapa ayah sangat segan pada Dion. Mungkin karena Dion itu hisa memahami keiginan orang tuanya.
Sesaat suasana jadi hening. Dion memulai bicaranya. " Sore ini, Dion bawa kemari calon mantu ayah dan ibu." begitu Dion berkata. Dion kemudian memeluk ibunya dan berbisik " Bu, yang kuat ya. Besok ibu Dion kenalkan dengan tante Ema. Kita bertemu dirumah maka saja. Hanya bertiga, tanpa ayah. Tante sudah Dion kabari. " Ibu mengangguk sendu. Sedih Dion melihatnya. Dicium ibunya dengan hangat, untuk menguatkan ibu. Ayah yang sejak tadi memperhatikan tingkah ibu dan anak itu angkat hicara. " Apa yang dibisikkan" Dion tersenyum. "Urusan mertua dengan calon mantu" sekenanya saja Dion menjawab. Diom bangkit dari tempat duduknya . Dia mendekati ayah, " Jangan ambisi kali, sudah tua. Nanti ayah gak tahan. Besok malam jawaban untuk ayah" Mendengar bisikan itu, ayah tersipu malu. Ditundukkan wajahnya. Dion tersenyum, dan pergi meninggalkan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu Dion sesaat saling pandang. Ibu mendesah. Ayah berlahan memegang tangan ibu " Maafkan, aku ya sayang, apapun nanti kau tetap khadijahku. Aku sangat mencintaimu. Hanya hati ini selalu saja tergoda dengan daun muda. Sayang, maakan ya." ayah berucap lirih. " Dasar laki laki buaya, gombal daja yang dibesarkan " ibu menyahut sambil bangkit, dengan wajah kesal.
Bersambung....
Asahan, 31 05 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Sama sama ijab kabulnya, Bu?
Tunggu aja bu, belum klimax.
Hmtt... cerpen yg bagus. Salam Bunda, smg sehat selalu...
Terimakasih bu
Jadi penasaran Bun lanjutan ceritanya, semoga sukses selalu Bunda
Terimakasih bu, segera lanjut
Cerpennya bagus, sukses untuk Ibu
Terimakasih pak
Menarik. Semoga sukses dan sehat selalu bu
Amiin, doa yang sama buat ibu
selalu menarik cerpen bu karmini, di tunggu lanjutannya bu
Okey bu, termakasih
Wah ceritanya keren banget bu. Ditunggu lanjutannya. Barokallah
Makasih bu Nita, insya Allah dilanjut
Dasar buaya
Buaya darat ya bu
Makin melek kita membacanya
Terima kasih bu