Hasil yang ditanam
---Apa yang Ditanam, Maka itu yang Dituai---
“Mama pergi, ya?” seruku seraya meraih tas yang terletak di lantai.
Aku bersiap-siap hendak meninggalkan rumah untuk bekerja, langkah kaki terhenti saat sampai di pintu. Aku membalikkan badan, melihat mereka masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sudahlah, tidak ada yang peduli. Motor merah yang umurnya hampir sebaya dengan si sulung segera kustarter. Aku melaju dengan kecepatan sedang, pikiran masih menerawang akan sikap mereka semua.
Sampai di tempat kerja, aku gagal fokus dengan semua kegiatan yang harus diselesaikan hari ini. Hampir semua pekerjaan tak runut kulakukan. Terbayang setiap kelakuan anak-anak di rumah. Apa yang salah dengan diri ini, kenapa mereka sama sekali tidak peduli dengan kepergianku?
Aku mulai merefleksikan diri, melihat kenyataan yang pernah terjadi antara aku dan anak-anakku. Aku seorang ibu yang kurang peduli dengan setiap tingkah polah mereka, tetapi pagi ini, aku ingin diperhatikan oleh mereka. Aku telah salah dengan mereka, bahkan kesalahan besar yang telah aku lakukan.
***
“Ma, abang pergi ngaji,” kata si sulung. Ia meraih tanganku dan menciumnya.
Mataku tidak berkedip dari layar yang ada ditangan. Aku hanya berkata, “Hati-hati ya, Bang!”
Si sulung berlalu dengan sepedanya. Entah bagaimana dia berbelok dan menyeberang jalan, aku tidak memperhatikan. Aku masih asyik dengan dunia maya yang sedang kugeluti
“Dek, tadi si Abang ada ambil jajan?” tanya suamiku.
Jawaban tanpa dosa terlontar dari mulutku, ‘enggak tau’ membuat suami geram.
“Masak enggak tau, sih? Jadi waktu si Abang pergi, Adek ngapain?”
“Alah ... pun biasa dia ambil sendiri uang di laci, kan?” seru ku tanpa merasa bersalah.
Waktu pun berlalu, ternyata si sulung lupa mengambil uang jajan saat pergi mengaji. Ia berdalih karena terburu-buru, itu pun bukan persoalan bagiku. Siapa suruh lupa-lupa? Biasanya masalah uang tidak ada manusia yang lupa, gerutuku sendiri.
Besoknya, aku bersiap-siap hendak pergi ke pasar. Si kecil dari tadi memperhatikan, kalau aku memakai baju bagus (maksudnya bukan daster) ia pasti langsung merengek-rengek di sampingku.
“Mama mau temana? Boleh itot?” Dengan suara cadel si kecil bertanya sambil menghayun-hayunkan roknya.
“Enggak boleh! Mama Cuma pergi sebentar, Adek tinggal dengan Nenek, ya?” ketusku.
Dengan wajah sedih dan mulut manyun-manyun, si kecil keluar kamar dan melaporkan pada sang Ayah. Pendirianku tetap kokoh, tidak boleh ada yang ikut.
Saat aku keluar rumah dan hendak menstarter motor, keempat anak-anakku keluar.
“Mama ... salam dulu,” kata mereka.
Satu persatu mereka salam, aku pun menyuruh mereka agar mempercepat gerakannya karena aku ingin secepatnya pergi. Dalam hatiku berkata, ‘ alah, pergi sebentar ke pasar aja pake drama salam-salaman segala, macam mau berangkat ke luar negeri aja’ aku pun berangkat meninggalkan mereka.
Menjelang Magrib, aku baru sampai di rumah. Suami telah bersiap-siap hendak ke masjid menunaikan salat berjamaah. Ketika ia beranjak pergi, ke empat anak-anakku mencium tangan ayahnya dan sang ayah membalas ciuman di kening keempat buah hatinya. Aku tak bergeming, terpaku menyaksikan drama yang sedang terjadi di depan mata.
Tak dipungkiri, anak-anak begitu dekat dengan sang ayah. Menurut mereka, ayah adalah sosok manusia super yang tidak pernah memarahi mereka. Sekali pun mereka berbuat salah. Mereka hanya akan mendapatkan nasehat bijak agar nantinya tidak lagi mengulang kesalahan.
Hal ini berbanding terbalik dengan aku-ibunya. Anak-anak begitu takut melihatku ketika mereka melakukan kesalahan. Tak jarang mereka mengadu saat ayahnya pulang bahwa aku selalu marah-marah. ‘Mama macam Kak Rose’ itulah label yang mereka berikan untukku.
Kemarahan aku meledak-ledak ketika rumah yang baru saja kubersihkan, tidak sampai satu jam kembali ke semula. Mainan berserak di segala sudut rumah adalah pemandangan yang menghiasi hari-hariku. Suara sampai lima oktaf pun terkadang tidak memberikan efek kepada mereka untuk tidak membuat rumah berantakan. Akhirnya, kemarahanku kerap mereka terima dengan omelan yang nantinya akan jadi laporan terhadap sang ayah.
Untungnya, si ayah begitu bijak. Ia tidak pernah menyalahkan aku di depan anak-anak. Yang ada, ia malah mengagungkan bahwa aku adalah peri terhebat yang pernah ada. Namun, dikala anak-anak sudah terlelap dalam buaian mimpinya masing-masing, mulailah aku mendapat ceramah pencerah jiwa yang panjang lebar di berikan oleh sang suami.
Anak adalah titipan dan amanah Allah yang patut dijaga. Tak jarang di luar sana, banyak manusia yang mengharapkan kehadiran makhluk kecil ini, tetapi Allah hanya memberi pada manusia pilihan yang menurutNya pantas untuk mengemban amanahNya. Aku adalah salah satunya, yang mampu dan kuat untuk menjaga titipan Allah. Apa yang ditanam pada diri sang anak, maka itu kelak yang akan dituai.
Begitulah untaian penyejuk jiwa yang sering suamiku ulang-ulang ketika menasehatiku. Namun, terkadang kata-kata itu hanya sementara melekat di hati, aku tersadar hanya ketika mendengar ceramah suamiku. Besoknya, saat anak-anak mulai dengan aksinya, emosiku kembali meluap-luap.
***
Pagi ini adalah contoh nyata yang terlihat, dulu aku paling enggan dibuat repot dengan adegan salam-salaman ketika aku ingin pergi. Lama-kelamaan anak-anakku terbiasa dengan kepergianku tanpa adegan itu, tetapi kenapa pagi ini aku merasa anak-anak tidak peduli dengan aku? Aku cemburu ketika melihat sang anak begitu semangat mengejar ayahnya yang akan keluar rumah, kejaran tersebut hanya untuk bersalaman dan mendapat ciuman hangat di kening.
Sedangkan aku! Jangankan untuk dikejar sampai ke pintu pagar, aku berpamitan pergi pun mereka tak bergeming. Inilah hasil cocok tanamku selama ini, hasil yang diperoleh juga sesuai dengan apa yang telah ku tanam.
Tak terasa, bulir bening jatuh di kedua pipiku. Segera ku sapu, agar tidak ada orang yang tahu bahwa hatiku sedang dirundung pilu.
Banda Aceh, 6 Januari 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar