Sabar itu Harus
#TantanganGurusiana hari ke 19
#Kolom
Sekali dua kali Tono di tegur gurunya, tapi masih juga mengulangi kelakukan yang sama. Dia masih mengganggu kawan sebangkunya ketika guru menjelaskan pelajaran. Berbagai nasehat sudah diberikan, namun tak di dengarkannya. Bahkan gurunya sudah mengancam dengan sangsi bila masih bersikap seperti itu. Eee,..masih juga dia belum berubah. Alamak... mau saya apakan lagi ni anak, pikirnya.
Sudah hampir setengah hari belum juga ada yang menumpangi becaknya. Pak Dani menarik napas menghilangkan sesak di dadanya. Pagi tadi istrinya menyampaikan kalau pemilik rumah yang mereka kontrak memberi batas waktu hanya tiga hari. Sudah dua bulan kontrakan rumah itu belum dibayar. Belum lagi untuk kebutuhan hidupnya hari esok. Dia sudah berusaha, tapi nasib baik belum berpihak padanya. Kadang, terlintas dalam pikirannya untuk melakukan tindakan terlarang. Tapi untung dia masih sanggup menepisnya.
Tetangga sebelah yang super cerewet itu masih juga memfitnah dan menggunjingkan bu Zahra. Rasanya bu Zahra ingin membalas dan mendampratnya. Masa iya, ketika bu Zahra membeli mobil dan berbagai perlatan rumah tangga, dicurigai kalau suaminya korupsi. Namun hal itu masih dia tahan kalaulah tidak untuk menghindari keributan. Anaknya juga mengingatkannya untuk tidak terlalu boros belanja ini dan itu, apalagi tidak perlu, sekalipun mampu. Bu Zahrapun menyadarinya.
Berbagai kondisi yang tidak didinginkan terjadi, seringkali menjadi keluhan. Keluhan yang berkepanjangan, seolah tidak ada kesadaran kalau memang begitulah yang harus terjadi.
Banyak lagi mungkin contoh-contoh kasus dalam keseharian kita yang terkadang membuat kita larut dalam emosi. Kondisi seperti itu sering membuat orang terseret pada pebuatan yang tidak baik. Bebagai macam masalah dan cobaan dialami dalam mengarungi kehidupan. Walaupun sulit, tapi cukup banyak yang mampu menghadapinya dengan baik, namun sebaliknya tidak sedikit pula yang gagal menyelesaikannya.
Mestinya seseorang mampu menahan diri, tidak putus asa, tenang, ataupun tidak tergesa-gesa. Seseorang itu harus berusaha mengendalikan hawa nafsu dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Menahan diri bukan berati diam, tidak berbuat apa-apa. Bukan pula berarti tidak punya kemampuan atau menunjukan ketidakberdayaan. Tapi justru kondisi itu merupakan proses yang memberikan ruang untuk kejernihan pikiran.
Tindakan menahan diri juga memungkinkan terciptanya kebersihan hati. Maka dengan cara seperti itu seseorang tidak akan terlanjur berbuat sesuatu yang salah. Sesuatu yang salah itu bisa saja terjadi tanpa disangka-sangka sebelumnya, baru kemudian disadari setelah semuanya terjadi.
Lalu? Ya, sabar dan sabar. Karena sabar itulah kuncinya. Makanya sabar itu harus.
#BerlatihTerusMenulis
19/01/22
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Keren banget ulasannya Bapak
Terimakasih buk. Salam sukses selalu