Bias Luka (Part 1)
“Apa? Kamu hamil?”
Suaranya membahana memenuhi seluruh ruangan ini. Aku luar biasa terkejut. Responnya jauh di luar dugaanku. Hayalku sempat berharap dengan kehamilan anak yang keempat ini hubungan kami akan semakin membaik. Perhatiannya semakin besar dan terfokus kepadaku dan anak-anak. Virus-virus yang sedang menggerogoti keutuhan rumah tangga kami akan segera lenyap. Retak yang sudah lama tertoreh lambat laun akan tersulam kembali meskipun tidak akan pernah hilang secara total. Ternyata jauh panggang dari api. Semua hayalku berlawanan dengan kenyataan. Hal ini dapat terlihat dari raut wajahnya yang menunjukkan ketidak senangan mendengar berita ini.
Dia tetap berdiri membelakangiku di depan pintu dapur yang sedang terbuka. Pandangannya jauh ke arah hijaunya sawah yang luas terhampar. Sesekali kudengar deru nafasnya yang berat memburu. Kedua tangannya mengepal seakan-akan sedang menantikan seorang musuh di ruang laga. Aku terduduk di kursi makan. Diam seribu bahasa. Hanya hatiku yang tak henti-hentinya berdoa agar lelaki disana yang kupanggil suami tidak melepaskan amarahnya dan melukaiku untuk kesekian kalinya. Aku takut sekali. Saat kondisi rumah kosong karena anak-anak sedang tidak di rumah. Mau kemana aku mengadu jika terjadi sesuatu. Tiba-tiba dia berputar menghadapku.
“Kenapa kamu bisa hamil?” tanyanya keras sekali.
Aku mengangkat wajahku mencoba untuk menatap wajahnya. Matanya melotot ke arahku. Refleks kualihkan pandangan. Namun aku tak juga sanggup untuk berkata sepatahpun. Lagi pula, aku mesti menjawab apa. Dunia juga sudah tahu jawabannya, mengapa seorang istri bisa hamil.
“Seingatku beberapa bulan ini aku tidak pernah menyentuhmu. Anak siapa itu?” lanjutnya.
Tidak dapat kutuliskan betapa hancurnya hatiku mendengar pertanyaan itu. Seperti disambar petir padahal tidak ada hujan. Lelaki itu yang kupanggil suami selama 10 tahun. Dengan teganya dia menuduh aku melakukan hal tercela itu. Ya Allah, suami macam apa dia. Kenapa tak juga Engkau kirimkan hidayah ke hatinya? Aku tetap tenang menanggapi kalimatnya. Api akan semakin menyala jika dibalas dengan api.
“Mas ingat, bulan lalu sempat tidur di kamarku?” lembut suaraku.
“Cuma sekali” bentaknya lagi.
Aku tetap diam. Semua kalimat yang sudah kupersiapkan sejak semula hanya sampai tenggorokan saja. Lenyap. Aku sangat letih beradu argumen dengan dia yang begitu keras kepala. Biarlah kutelan saja semua tuduhannya. Aku tetap berpikiran positif kepada dia papa dari anak-anakku. Mungkin pikirannya lagi kacau. Nanti akan kucari waktu yang lebih tepat untuk membicarakan masalah ini. Kulihat dia naik ke kamarnya. Syukurlah amarahnya tidak berkepanjangan. Aku bisa menarik nafas sedikit lega.
Tiba-tiba dia turun sambil berteriak.
“Pokoknya kamu harus gugurkan anak itu. Aku sangat yakin bahwa itu bukan anakku.”
Bersambung ....
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Mantap, ditunggu kelanjutannya
Hiihii mau semedi dulu
Selalu mempesona bund... Tak sabar menunggu lanjutannya... Sehat dan sukses selalu bund
Terimakasih banyak ibu