Ispramono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MARNI

MARNI

Malam ini Marni tidak bisa memejamkan mata, matanya menerawang ke atap kamar yang tidak berplafon. Marni memikirkan nasib buah hatinya yang masih SD yang sedang tidur disebelahnya. Pikirannya kacau membayangkan bagaimana masa depannya nanti. Belum lagi. bulan depan Tino harus masuk SMP, tentu saja membutuhkan biaya yang banyak. Seandainya Ayahnya Tino masih ada tentu saja pikiranya tidak seberat ini. “Aku harus kuat, harus bangkit.” Marni menyemangati dirinya sendiri. “Besok aku harus cari kerja, semoga diberi kelancaran.” Doa Marni dalam hati.

Selepas Tino berangkat ke sekolah, Marni segera ke rumah temannya, yang beberapa hari lalu menawarkan pekerjaan. “Tumben, dolan kesini Mar, ada apa? tanya Tatik teman baiknya keheranan. “Iya, mau tanya masalah pekerjaan yang kemarin kamu tawarkan ke aku, kira-kira apa masih butuh?” jawab Mirna agak malu-malu. “Aduh, sepertinya kemarin itu langsung ada yang melamar dan langsung diterima.” jelas Tatik merasa kasihan melihat Marni. Dengan langkah gontai Marni berpamitan. Dan meneruskan niatnya untuk mencari kerja.

Yang menjadi tujuan Marni rumah makan yang ada di depan stadion. “Terserah mau jadi pelayan atau tukang cuci piring yang penting kerja.” Pikir Marni saat menuju rumah makan. Begitu sampai di tempat yang dituju, sepeda motor tua yang dikendaarai segera diparkir di samping rumah makan. Segera Marni menuju ke pemilik rumah makan yang duduk dibelakang kasir. “Marni…” Langkah Marni terhenti mendengar namanya disebut. “Lupa ya, aku Prastyo teman SMP.” sapa Prastyo yang sedang makan di dekat pintu masuk. “Iya aku ingat, Pras yang dulu ketua OSIS.” kata Marni malu-malu. “Kok kelihatan sedih, ada apa? tanya Prastyo sambil mempersilahkan duduk. Setelah menceritakan keadaan rumah tangganya panjang lebar, “Aku kesini mau melamar pekerjaan.” Ucap Marni dengan sedih. “Ok, begini saja, mulai besok kamu kerja di kantor aku, kebetulan dibagian adminitrasi ada yang cuti melahirkan.” Ucap Prastyo dengan menghela napas. Mendengar apa yang ditawarkan temannya, wajah Marni kembali berseri-seri. “Terima kasih, Pras….” Ucap Marni berulang-ulang.

Malam ini Prastyo sedang istirahat sambil melihat TV, tapi entah kenapa pikiranya tidak tertuju pada apa yang sedang dilihat, namun malah melayang pada kejadian tadi siang. Kata-kata Marni saat meminta maaf karena terlambat masuk kerja, terngiyang ditelinganya. Bayangan Marni yang lugu dengan kesederhanaan muncul begitu saja di depan matanya. Rasa kasihan menyusup direlung hati Prastyo. “Ayah besok hari minggu, kita jalan-jalan ya….” suara Gilang membuyarkan lamunan Ayahnya. Prastyo menganggukkan kepala tanda setuju apa yang menjadi permintaan putra semata wayangnya. “Sekarang sudah malam waktunya tidur, biar besok tidak kesiangan.” Pinta Prastyo.

Pagi-pagi Gilang sudah bangun, yang biasanya harus dibangunkan, berbeda dengan pagi ini. Dengan riang gembira Gilang menyambut pagi. Bik Minahpun sibuk menyiapkan pakaian ganti Gilang, tak lupa handuk, sabun, shampoo tak ketinggalan masuk dalam tas. Sarapan bersama sebelum berangkat yang sudah disiapkan oleh Bik Minah, dengan menu ayam goreng lahap disantap Gilang dan Prastyo. Dalam perjalanan Prastyo bercerita bahwa nanti kita jalan-jalan mengajak teman Ayah dan putranya, jadi nanti kamu berenang ada temannya. Marni yang sedang mencuci baju di samping rumah terkejut melihat ada mobil masuk di halaman rumahnya. Marni segera menghentikan pekerjaannya, bergegas menyambut siapa yang datang. Begitu pintu mobil dibuka alangkah terkejutnya Marni melihat siapa yang ada di depannya. “Pak Prastyo...” Kata Marni seakan tidak percaya. Belum hilang terkejutnya, Marni bertanya ada keperluan apa datang ke rumahnya. Prastyo mengungkapkan apa maksud kedatangannya, yang pertama mohon maaf atas kejadian kemarin atas ulah salah satu karyawannya, yang kedua mengajak Tino untuk nemani Gilang berenang.

Mendengar ajakan Prastyo, hati Marni bergejolak, antara menyetujui atau menolak. Dua pilihan yang berat yang benar-benar harus dipertimbangkan dengan matang. Dalam pikiran Marni teringat Tino yang jarang diajak rekreasi, rasa kasihan menyeruak dalam relung hatinya. Keputusan harus diambil, Marni menghapus rasa egoisnya, untuk memikirkan kebahagian Tino. Marni ikut dalam rombongan untuk menemani Tino. Sampai di Water Boom Gilang dan Tino bermain air, kejar-kejaran seakan sudah kenal begitu lama. Tawa ke dua anak selalu menghiasi wajah mereka. Melihat ke dua anak selalu tertawa, Prastyo dan Marni saling pandang dan tersenyum. “Marni lihatlah anak-anak begitu bahagia, bagaimana kalau kebahagian mereka kita lengkapi dengan kehadiran kita ditengah-tengah mereka.” kata Prastyo dengan serius. Kamu gantikan ibu Gilang yang sudah lama meninggal. Marni terkejut mendengar ucapan Prastyo. Antara bingung dan bahagia bercampur di hati Marni. Marni hanya memberikan senyuman manis sebagai jawabannya. Namun kebahagian Gilang dan Tino seakan mengalir di hati Prastyo dan Marni.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Semoga mereka berjodoh ya, Pak. Hehe...

05 Jun
Balas



search

New Post