Cemburu
Rasa Cemburu Atas Mimpiku
*Irwanto
Harusnya ada sesuatu yang kuseduh pada pagi ini. Tapi entah kenapa, kali ini begitu berbeda. Tak ada kopi manis pada wadah bertangkai dengan tulisan “Papa” yang biasanya tersaji di meja. Yang kudapatkan hanya kulacino, sisa dari suguhan minuman yang kuseduh tadi malam.
Kucari Kiki di ruang tengah, ruang makan, dapur, dan halaman, tapi tak ada siapa-siapa yang kutemukan. Merasa tidak ada yang bisa kulakukan, aku kembali ke kamar untuk rebahan. Tapi baru saja aku akan menaiki ranjang, perhatianku tersita pada sehelai kartu undangan. Undangan dari Gladys, yang kuterima kemaren, saat tak sengaja berjumpa dengannya, di sebuah rumah makan siap saji, tepi pantai pinggir kota.
Aku sengaja menyembunyikan undangan dari Gladys di balik lipatan beberapa berkas dalam tas. Tapi kenapa sekarang pindah ke atas meja?
Walaupun undangan itu tidak lepas dari sampul plastiknya, tapi terlihat tidak serapi sediakala. Pastinya seseorang sudah membuka. Kalau bukan Kiky, siapa lagi? Apa karena ini, ia tidak menyiapkan aku segelas kopi? Sejenak pikiranku mengembara pada pertemuanku dengan Gladys yang hanya berdurasi tak lebih dari 1000 detik.
Aku sadar, seharusnya pertemuan singkat itu jangan sampai menjadi harapan. Cukuplah hanya sebatas memandang, karena semua sudah terlarang. Tapi nyatanya Gladys hadir sampai ke alam tak sadar.
“Hei… Mas! Kamu kenapa? Tidur sampai keringatan,” ucap Kiki membangunkan.
“Kamu? Handuk? Siapa yang melap keringatku?” tanyaku secara spontan.
“Yang pastinya bukan perempuan yang ada dalam mimpimu,” ucap Kiki sambil berjalan keluar kamar dan meninggalkan aku sendirian.
“Astaghfirullahul, apa yang terjadi pada diriku. Kenapa pertemuanku dengan Gladys yang hanya beberapa menit saja bisa terbawa dalam mimpi? Apakah tadinya aku menggigau dan menyebut-nyebut nama Gladis sehingga terdengar oleh istriku?”
Aku paham dan mengerti, apa yang dirasakan Kiky. Pastinya ia cemburu karena aku menyebut-nyebut nama perempuan lain. Tapi akupun tidak bisa disalahkan, karena semua itu diluar kendaliku. Tak pernah sedikitpun aku berharap, Gladys hadir di mimpi, apalagi hadirnya bersama seperti dulu lagi.
Untuk sementara, kubiarkan dulu. Kudiami Kiki sampai emosinya mereda. Aku akan mencari waktu dan kata-kata, untuk berdamai dengan hatinya hingga kuceritakan semua tentang Kiki, tanpa ada yang kututupi.
Sejenak kucoba mengeja waktu atas sikapku yang menjadi pemicu. Dalam resah, langkahku mengajak aku untuk bertemu Tuhanku. Pada Dia kuceritakan kegalauan.
Ternyata, tak sia-sia kuambil wudhuk untuk membersihkan pikiran. Tidak mubazir kuangkat tangan menyerahkan jiwa dan raga pada Tuhan. Tak ada yang percuma, dari bersimpuh dan memohon ampunanNya. Tuhan maha pengasih dan maha penyayang, doaku dikabulkan.
Kusambut hari dengan jiwa penuh pengharapan. Matahari pagi menembus kisi-kisa batinku yang kadang meremang. Sejenak hatiku terasa ringan, ketika merasa ada sesuatu yang manis untuk kuseduh. Kiki sudah bisa menerima dan mengikis rasa cemburu atas mimpiku.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Mantap