Anak Ini Punya Bakat Alam Takambang Jadi Guru
Dikasih instruksi seperti ini:
Silahkan kalian buat sebuah cerita pendek. Dengan ketentuan
1. Didalam cerita terdapat kata2 kuda2, sikap pasang, pukulan, tendangan, tangkisan.
2. Dalam cerita terdapat kata2 covid-19 / virus korona
3. Dikirim di private comment
4. Batas waktu pengiriman hari Kamis depan. Tapi disarankan segera buat.
5. Semakin banyak jumlah kata, semakin bagus nilainyaA
Dan seorang siswa mengirim ini
ALAM TAKAMBANG JADI GURU
Hakimul Fauzi, Siswa MAN 2 PADANG PANJANG
Jingga menjelang di sisi barat. Pucuk gonjong Rumah Gadang terlihat persis menembus matahari yang beranjak tenggelam. Segerombol itik melenggak-lenggok di tepian jalan setapak hendak kembali ke rumah induk semangnya.
Sehela napas panjang menengahi heningnya senja di halaman sebuah Rumah Gadang. Alang, bocah berbilang enam belas itu mematut petak tanah tempat ia biasa latihan silat dengan Mamaknya.Tanah pijakan yang mengotori pakaiannya sebab berkali-kali dijatuhkan. Tanah berkerikil batu yang mengiris kulit sawo matangnya. Tempat yang menjadi saksi bisu pecutan rotan di kakinya sebab kuda-kuda yang seringkali salah.
Mata sayunya mengalihkan pandangan, melihat ke sudut halaman, dekat bekas sumur tua yang tak lagi berair. Seakan fragmen video terhampar di hadapan matanya, terlihat jelas baginya bagaimana sang Guru mencontohkan sikap pasang yang menyiratkan tekad tak tergoyahkan.
“Alang, kau tatap ke depan. Fokus pada lawan kau. Jangan lengah. Tapi ingat, mata kau boleh tajam, tapi kau tak boleh biarkan emosi yang mengendalikan,”ujar Mamak sembari menarik lurus kaki kanan ke belakang. Tangan kanannya mengepal kuat, terlihat benar gagahnya. Matanya tajam menghunus angin kosong di depan, tapi tetap menyiratkan rasa menghargai lawan.
Jelas Alang terkesima. Niatnya menguasai silat semakin menggebu saat merasakan ketangguhan yang menguar dalam setiap gerakan yang dipratekkan gurunya. Situ saat sore tahun lalu, hari ketiga ia minta berlatih silat pada Mamaknya. Usai disuruh-suruh membersihkan kandang ayam di kolong rumah, menyapu halaman, membuatkan kopi, mengisi bak air, membersihkan jaring laba-laba yang gemar membuat rumah di sudut loteng. Akhirnya Mamak mengabulkan permintaannya.
Mata Alang menyipit, sedikit senyum tergurat di wajahnya. Dia beralih memandang karung pasir yang tergantung di dahan pohon rambutan. Fragmen video itu berganti, terlihat saat-saat Mamak mencontohkan pukulan bertenaganya, menghantamnya telak, dan tak disangka karung itu robek, menumpahkan setengah isinya. Alang takjub melihat tangan Mamaknya yang tak memar sedikitpun. Padahal puluhan pukulan yang ia layangkan hanya membuat karung pasir itu bergoyang-goyang menjengkelkan, dan malah buku-buku tangannya memerah perih.
“Kau memukul seperti sedang berang, Alang. Membabi-buta, tanpa tau dimana kelemahan lawan. Kalau begitu, stamina kau akan cepat habis. Kenali lawan kau, maka pukulan kau bukan untuk menghancurkan, tapi cukup menjatuhkan,”kata Mamak sambil berlalu pergi, masuk ke dalam rumah, tanda Alang sudah disuruh pulang.
Lalu Alang beralih lagi menatap lamat-lamat tongkat tiga hasta yang tersampir di tiang jemuran kain. Memutar fragmen video yang mengingatkannya saat berlatih, Mamak memanggil si Abdul, teman Alang yang kebetulan lewat di depan Rumah Gadang.
Mamak melemparkan tongkat itu pada Abdul. “ Kau pukul si Alang pakai tongkat tu.”
Abdul yang bingung bertanya,“caranya, Mak?”
“Terserah kau, yang penting kalau kena badannya sepuluh kali, kau ambillah rambutan tu,” kata Mamak santai sambil menyeruput kopinya.
Alang bergidik, melihat seringai mengerikan Abdul, si pecinta rambutan itu. Lalu, Abdul dengan semangat merembahkan tongkat, berusaha memukul badan Alang yang berkali-kali dapat ditangkisnya dengan susah payah. Pukulan tongkat itu membuat hasta tangannya lebam, betisnya teriris sembilu, pinggangnya telak terkena pukulan. Sekali, dua kali, tiga kali, Alang kehilangan fokus. Alhasil sepuluh menit kemudian Abdul pergi dengan sekantong rambutan yang merah merona.
“Siapa bilang kau cuman boleh menangkis, bujang. Sampai kapan kau terus berlindung. Betul kau harus hati-hati agar tak terkena pecutan, tapi satu dua tangkisan saja tak berguna. Lihat tangan kau, macam dipecut karna diberangi Emak kau tanpa bisa melawan. Apa salahnya kau tendang tongkatnya. Ingat, kau juga harus pandai mencari celah, Alang.” Ujar Mamak sambil mengambil kuda-kuda, memperlihatkan tendangan empat puluh lima derajat ke atas, seiring suara kesiur angin yang terbelah.
Alang tersenyum getir, mengingat serangkaian kenangan lainnya. Netra hitamnya menerawang jauh ke arah langit yang makin menggelap. Satu-dua bintang menyelinap di antara awan jingga keemasan yang bergumpal-gumpal.
Alang ingat, hari-hari latihannya di penuhi kekaguman pada teknik-teknik mengesankan Mamaknya, bahkan gerakannya terlihat begitu anggun tanpa niatan melukai yang justeru sebenarnya mematikan. Sedikit demi sedikit, kelihaian Alang dalam bersilat berkembang cepat. Bahkan dua pekan yang lalu, Alang berduel dengan Mamaknya.
“ Silat bukan hanya perkara bela diri, bujang. Kau rasakan setiap langkah yang kau pijakkan di bumi Tuhan. Seiring tangkisan tangan yang kau layangkan, ada hawa yang menelisik pakaian sembari memuji Tuhan. Regangan tulang yang leluasa kau gerakkan juga tak lepas dari nikmat Tuhan.
“Leluhur kita sangat arif, Alang. Belajar dari apa yang tersurat dan tersirat. Menyatu dengan alam, meresapi detik-detik kehidupan. Menjiwai ketenangan yang berbaur diantara lambaian pohon, lenguhan elang, gemericik air. Lalu dipersaksikan dalam gerakan silat. Alam takambang jadi guru.”
Kuda-kuda telah siap, sikap pasang telah terlihat tangguh. Dalam sepersekian detik, mereka berdua jual beli serangan, beradu pukulan dan tangkisan, menyabet tangan menendang lawan.
Berkali-kali alang jatuh. Memang Alang belum sehebat Mamak, tapi jangan remehkan kemampuannya. Gerakannya tangkas, gesit menghindari tendangan, lihai mencuri kesempatan. Sekali-dua kali telak memukul pinggang Mamak. Lebih banyak lagi menangkis dengan berbagai variasi gerakan sistematis.
Dua puluh menit berduel, Alang lagi-lagi jatuh. Bilang tak sanggup lagi melawan. Cukup sudah latihannya, sore itu mereka duduk menanti waktu Maghrib di teras papan sambil menikmati juadah.
Hari ini, untuk kesekian kalinya mata Alang kembali menggenang. Air mata yang penuh sedangan mengenang.
Dibalik ketegasan Mamak, terlihat sungguh jika Mamak menyayangi Alang, terlebih Alang memang merindukan sosok Ayah yang telah lama pergi dari hidupnya. Sudah pasti tanggung jawab menjaga kemenakan tak akan disia-siakannya.
Dulu pertama kali Alang minta berlatih silat, hendak membalas perbuatan kawan-kawan yang mengejek kondisi hidupnya yang tak lagi memiliki ayah. Datang dengan lebam muka, siku berdarah, dan genangan air mata, Alang minta diajarkan silat pada Mamak. Hati siapa yang tidak terenyuh melihat anak yatim yang teraniaya. Demi melihat itu, Mamak bertekad hendak menjaga kemenakannya dari pengaruh buruk lingkungan, sampai akhir hayatnya.
Dan alangkah pilunya, ternyata sore itu adalah hari terakhir latihannya. Dan akhir hayat yang dijanjikan Tuhan itu sedang di ambang pintu. Sayangnya, Alang tak bisa berbuat apa-apa.
Malamnya, selepas Maghrib, Alang yang sibuk mengerjakan pr di kamar kecilnya, sesekali mendengar Emaknya berkomentar dengan siaran berita televisi. Bermacam suara di luar, sedikit mengganggu konsentrasinya. Satu dua kata yang ia tangkap, korona dan korban. Dan beberapa istilah lain yang tak ia pedulikan.
Pasalnya, ternyata berita semalam merebak luas dari mulut ke mulut. Mengenai virus korona dari Wuhan Cina, yang mulai meneror dunia. Korban di nusantara yang mulai berjatuhan, dengan kasus positif yang terus meningkat. Sekolahnya diliburkan mendadak.
Alang yang segera pulang hendak mampir ke rumah Mamaknya. Namun, ia hanya menjumpai kertas yang berpesan bahwa Mamak sedang ada urusan ke luar kota, maklum beliau adalah seorang pedagang. Tapi, entah kenapa hati Alang berdetak tidak enak.
Empat hari ke depan, ketidak hadiran Mamak membuat Alang suntuk dengan pr yang cukup melelahkan dan membosankan. Beruntung sekolah menolerir siswa yang tidak memiliki ponsel pintar seperti teman-temannya yang lain. Maka jadilah sebulan liburnya dipenuhi kertas-kertas yang membuat keningnya berkali-kali mengkerut.
Waktu hari kepulangan Mamak, Alang bergegas pergi ke rumah beliau. Jika tidak latihan, paling tidak duduk-duduk sambil bercerita menikmati cemilan. Tapi jendela Rumah Gadang itu masih tertutup, belum ada tanda-tanda Mamak sudah pulang. Mungkin Mamak pulang malam, pikirnya. Alang pun berbalik pulang, urung mendatangi rumah walau sekadar mengetuk-ngetuk pintu.
Namun hari-hari berikutnya, Mamak tetap tidak ada di rumah. Walaupun pintu depan, belakang digedornya, tak ada seorang pun yang keluar, bahkan lipas pun tidak. Alang yang cemas melapor pada Emaknya, meminta untuk menelepon Mamak. Dan kebetulan, pas benar panggilan masuk di handphone tulalit Emak.
“Kau dimana Syarif, tak kan seminggu kau masih sibuk di pasar,”tanya Mamak cemas.
“uhuk uhuk (suara batuk) Kak, maaf tak mengabari, Syarif sedang diisolasi di rumah sakit, kak. Tapi Syarif baik-baik saja.”ujar Mamak dengan terbata-bata dan napas seperti habis berlari sekeliling lapangan. suara batuk terdengar lagi di seberang sana.
Alang tidak bodoh untuk mengetahui Mamaknya terinfeksi Covid-19 yang mengerikan itu. Membiarkan Emaknya yang sibuk bertanya tentang kondisi adiknya itu. Bagaimana Mamak akan baik-baik saja? Riwayat penyakit asma yang diderita Mamak tentu mempermudah virus ganas itu menggerogoti pertahanan imunnya. Alang bahkan tak perlu mendengar penjelasan Mamak, mungkin mendengar sendiri faktanya akan semakin mengguncang hatinya.
“Mak..”suara Alang tercekat. Mamak yang terdiam di tengah kalimat yang berusaha ia ucapkan.
“Mamak akan pulang kan?” Alang tertekan dengan pikiran buruk yang dengan cepat menguasai pikirannya.
“In sya Allah, Mamak akan pulang. Kau tunggu saja,”Mamak kembali mengatur napasnya, susah benar beliau bicara.
“Mamak janji. Mamak akan terus melatih Alang silat kan.”Alang setengah berteriak, mengeluarkan segenap suaranya yang sejenak tertelan ke dalam lambung.
“Tak ada yang bisa dijanjikan makhluk yang akan ia tetapi, bujang. Janji Allah lebih baik dibandingkan apapun yang diharapkan, Kau_
“Mamak tak boleh pergi! Aku sudah kehilangan ayah, diejek teman, dibully, bagaimana hidup alang kalau Mamak juga pergi.”Alang berteriak menahan tangis, memotong ucapan Mamaknya.
Emak menggigit bibir, ikut merasakan pilu yang semakin mengganjal hati. Matanya berair.
Tak ada jawaban sepuluh detik, hanya sesenggukan napas dan batuk yang terdengar menyesakkan di sisi lain panggilan.
“Alang, kau ponakan Mamak. Kau laki-laki, seorang laki-laki tak akan menangis terhadap hal yang belum pasti. Apa salahnya kau doakan Mamak kau sembuh, bujang. Kata-kata kau tadi sungguh membuat hati Mamak pedas. Sekarang hentikan rengekan kau.”kata Mamak tegas di sela napasnya yang menderu.
Hari-hari Alang berjalan menyesakkan, setiap hari telepon dengan Mamaknya tak ubahnya menancapkan sembilu-sembilu tajam ke ulu hatinya. Namun Mamaknya selalu menyuruhnya berdoa atas kesembuhannya, mengatakan hal-hal positif yang setidaknya menenangkan hati Emak dan Alang.
Alang sudah bisa mengontrol kesedihannya sedikit demi sedikit. Setiap hari, dia selalu memanjatkan harapan di lantai sajadah yang basah dengan air mata. Dengan khusyuk, serangkaian doa mengalun sendu dalam bentangan rahmat Ilahi yang tak terlihat. Merayu agar takdir selaras dengan hasrat yang memenuhi relung hati.
Sampai tadi malam. Mamak kembali menelepon untuk kesekian kalinya. Mereka mengobrol seperti biasanya. Tetap hangat, walaupun serak batuk menjadi background suasana yang menggetirkan.
“Alang, kita tak pernah tahu, hidup akan berakhir bagaimana. Dan pastinya kapan itu terjadi bukan kuasa kita yang menentukan.”Mamak berkata hambar, menguatkan suaranya yang hilang timbul dengan decitan napas.
Jantung Alang berdetak cepat. Pembicaraan apa ini?
“Tak semua yang kau harapkan akan kau dapat, bujang. Memang banyak kepahitan hidup yang kau alami, tapi kau pasti bisa melihat hikmahnya. Kenapa suatu hal terjadi, entah itu baik atau buruk menurutmu.”
Alang terdiam, matanya berkaca-kaca. Apa ini kata-kata perpisahan?
“Alang, jika Allah takdirkan umur Mamak tak bisa melihat kau jadi orang di masa hadapan, sungguh, Mamak bangga dengan kau yang bisa bertahan sejauh ini. Mamak yakin, kau kuat, Alang. Jaga Emak kau untuk Mamak, Alang. Mamak akan selalu ada untuk kau, walau kau tak bisa melihat Mamak lagi.”
Tangis Alang pecah. Ingin ia membantah, tapi pita suaranya hilang entah kemana. Tercekat oleh tangis yang mati-matian ditahannya.
“Terus kembangkan silat kau Alang, dan jangan lupakan Shalat kau. Sedikit masa lagi, kau akan tumbuh jadi orang yang paham agama, lihai bersilat, dan santun budi pada orang ramai. Tolong kau ingat nasehat Mamak, Alang. Alam Takambang Jadi Guru.”
Telepon itu terputus, senyap. Sejenak Alang panic untuk sedetik kemudian tergugu. Emak memeluknya erat. Rumahnya dikunkung kesedihan yang mendalam. Sungguh Alang telah kehilangan orang yang ia cintai, sekali lagi.
Alang menghapus air matanya.
Semenjak pagi, pihak rumah sakit melaporkan wafatnya Syarif, Mamaknya. Malangnya, prosesi pemakaman tak bisa ia lakukan sendiri. Orang-orang berbaju putih dari ujung kepala sampai ujung kaki mengambil alih semuanya. Alang dan Emaknya hanya bisa memandang nisan Mamaknya dari jauh.
Senja semakin matang, azan Maghrib tetap berkumandang. Dengan langkah gontai Alang meninggalkan rumah itu. Rumah tempat segala kenangan hangat bersama Mamaknya. Esok lusa, semoga harapan Mamak yang beliau lirihkan, memang betul adanya. Satu hal yang tak diketahui Alang.
Malam itu, Mamak tersenyum. Tersenyum di akhir hayatnya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar