Dongeng Ibu Peri
Once upon the time, ada seorang anak laki-laki bersama malaikat pelindungnya, seorang ibu peri yang baik hati dan selalu membantunya. Anak lelaki yang sedang tumbuh itu tengah mencari bentuk dirinya. Waktu yang berjalan mengiringi transformasi sang anak laki-laki menjadi lelaki yang telah mengetahui dimana ia berpijak, ibu peri tetap berada disisinya, membantunya ketika ia bingung mencari arah, tanpa pamrih tanpa harap balas, ibu peri selalu ada disisinya.
Kemudian datang masanya, lelaki yang telah berdiri percaya diri itu mulai memandang bengis kepada sang ibu peri, mulai menganggap kehadiran ibu peri mengganggunya. Ia pun menolak kehadiran sang bayangan. Ketika ibu peri mengira hal ini hanyalah sebuah kesalahan dan mencoba untuk memeluk kembali harapan, lelaki angkuh itu menendangnya, mengabaikannya, mencaci makinya untuk pergi. Ketika sang ibu peri terjatuh dan terluka, lelaki yang telah lupa itu menginjaknya, menusuknya, menyakiti dengan segala rasa sakit yang ada di dunia. Berdarah dan terjatuh, dalam kepingan-kepingan hatinya yang hancur, ibu peri hanya bisa menatap sang lelaki menjauh.
Pelan-pelan ibu peri mulai mengumpulkan kembali kepingan hatinya, diantara darah dan air mata, tertatih, sayapnya yang patah cannot be fixed, tidak bisa kembali utuh. Ia mulai mentransformasikan dirinya dalam bayangan, menjadi transparan secara perlahan. Namun sesungguhnya ia tak pernah beranjak, ia tetap berdiri diatas lukanya, masih berada dalam jangkauan sang lelaki yang telah lupa. Tetap ada untuk membantu ketika ia melihat sang lelaki mulai kehilangan arah. Karena ibu peri memiliki janji, untuk menghantarkan sang lelaki pada gerbang yang akan membawanya menuju masa depan, ibu peri telah membawa janji itu di hatinya untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai, dalam kondisi sakit sekalipun.
Dalam transformasinya menuju wujud transparan yang utuh, ibu peri berjuang diantara ketulusan dan rasa sakit, dalam doa dan airmata berharap adanya kelapangan hati. Lukanya tak pernah sembuh, sayapnya tak pernah kembali utuh.
Sampai pada masanya, lelaki percaya diri yang lupa pada bayangannya sendiri itu sampai pada gerbang menuju masa depannya, ketika itupun ia tak pernah mengakui lagi keberadaan ibu peri, bahwa kesuksesannya adalah miliknya, ia tersenyum bangga pada dirinya yang berdiri dengan dagu terangkat menatap masa depannya.
Tunai sudah tugas sang ibu peri, dalam keadaan hampir sempurna dalam wujud transparannya ia tersenyum lirih menatap sang lelaki yang tak menatapnya. Saatnya untuk pergi. Ibu peri kemudian menyempurnakan wujud transparannya, terbang menjauh dengan sayap patahnya.
Menghilang.
.
.
.
Waktu adalah hal paling idealis diatas muka bumi, yang akan tetap berjalan kedepan meski manusia memohonnya untuk kembali. Sekian detik berjalan, sekian purnama terlampaui. Lelaki dari masa lalu itu kini telah mencapai sebuah kata sukses, ia berhasil menaklukkan dunia. Kejayaan telah ada dalam genggamannya. Hingga suatu saat, hatinya teringat pada sebuah cita-cita yang belum terpenuhi, rasa hausnya akan ilmu pengetahuan. Cita-cita yang dahulu selalu ia diskusikan pada seseorang. Seseorang yang pernah ada dalam hidupnya, dulu, telah lama sekali,
Ibu Peri
Mendadak sang lelaki teringat pada ibu peri,
sosok baik hati yang selalu tersenyum dalam uluran tangan yang selalu terbuka untuknya dahulu
sosok yang telah ia campakkan
dimana sekarang berada?
Adakah masih bisa ia temui di dunia?
Ataukah transformasi dalam wujud transparannya telah sempurna dan ia telah menghilang dalam keabadian?
Sang lelaki terdiam, menatap pada senja, simbol kesetiaan yang terabaikan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Indah sekali cerita ini
Indah sekali cerita ini
Indah sekali cerita ini
Indah sekali cerita ini
Indah sekali cerita ini
Indah sekali cerita ini
Indah sekali cerita ini
bagus bu..
bagus bu..
Terimakasih bu