Dandelion Effect
Nara dan Abian, sepasang kekasih yang menjalin hubungan cukup lama. Kisah cinta mereka rajut sejak duduk di bangku sekolah menengah atas hingga status keduanya berubah menjadi mahasiswa universitas ternama di kota kembang, Bandung. Bukan hal yang mudah keduanya bisa bertahan sejauh ini mengingatkan Nara dan Abian memiliki perbedaan karakter yang mencolok. Abian dikenal sebagai laki2 yang optimis, dingin, cuek, namun penuh perhatian khususnya ketika menghadapi mood kekasihnya yang mirip air terjun Niagara penuh gejolak. Abian juga sabar dalam menyikapi sifat Nara yang lebih kekanak-kanakan, pesimis, pemarah, dan overthingking. Ya, Nara memang suka sekali memikirkan sesuatu bahkan hal kecil secara berlebihan. Hal yang belum tentu terjadi pun bisa mengusik ketenangannya.
Pernah suatu ketika, saat memilih jurusan kuliah, Nara dan Abian tidak sejalan. Abian ingin sekali menjadi seorang dokter. Sedangkan Nara ingin bergelut di bidang desain interior. Nara suka seni. Abian jauh dari seni. Dia cenderung to the points tanpa banyak basa-basi. Cita2nya yang ingin menjadi dokter dilatarbelakangi oleh rasa syukurnya sebab berkat bantuan dokter sebagai perantara dari Tuhan, papanya yang sempat terserang stroke bisa terselamatkan.
"Kamu yakin ingin memilih jurusan itu? Mau jadi apa kamu, Nara?" Tanya Abian ketika keduanya siap memilih gerbang penentu masa depan.
"Aku mau jadi tukang bangunan. Puas?" Celetuk Nara sekenanya.
Abian mendengus kesal. "Aku tanya serius kamu jawabnya bercanda."
"Aku mau jadi arsitek. Mau buat desain rumah paling nyaman untuk kita tinggali berdua. Eh berempat dengan anak2 kita kelak." Jelas Nara mantap.
Abian acuh. Pernikahan? Dipikirannya? Belum ada sama sekali. Terlebih dia masih ingin meraih cita-cita mulianya. Menikah mngkin bisa menjadi batu penghalang bagi langkahnya kelak. Tapi demi menjaga perasaan Nara, Abian hanya menyungging senyum. Itu sudah lebih dari cukup untuk Nara. Ia menganggap senyum Abian sebagai persetujuan.
Mereka menempuh kuliah tanpa hambatan yang berarti. Hanya ujian kecil yang menjadi kerikil prestasi keduanya. Ujian terberat justru datang dari Nara dengan pikiran overthinking-nya.
Setiap Abian pulang malam karena ada tugas, pasti Nara mencerca dengan jutaan tanya yang memojokkan. Jika pesan singkat dari Nara tak segera dibalas, maka perempuan itu akan meledak seperti petasan sunatan.
Hal semacam itu yang membuat Abian jenuh. Kulaihnya sudah menjadi beban. Tugasnya menumpuk. overthinking Nara memperparah semuanya.
Namun, Abian berhasil menenangkan kegelisahan tak mendasar yang kerap Nara rasakan.
Empat tahun berlalu. Nara dan Abian lulus kuliah hampir berbarengan. Hanya saja masih ada beban tambahan Abian yang mengharuskannya menjalani tugas2 agar dirinya bisa secara resmi menjadi dokter spesialis onkologi memiliki keahlian khusus dalam salah satu dari tiga bidang utama onkologi, yaitu medis, bedah, atau radiasi. Dokter spesialis onkologi medis mengkhususkan diri dalam mengobati dan mengelola kanker menggunakan metode nonbedah, seperti kemoterapi, terapi hormon, terapi biologis, atau terapi bertarget.
Sedangkan Nara berhasil bekerja sebagai kepala bidang desainer interior di perusahaan besar.
Nara bertanggung jawab akan seluruh proses desain yang terdiri atas perencanaan, penataan, dan perancangan seluruh ruang interior.
Kesibukan masing-masing membuat keduanya menjadi minim komunikasi.
Hal itu tentu memicu Nara dengan segenap perasaan tanpa juntrungannya. Hingga suatu ketika saat Abian sedang menangani pasien perempuan penderita kanker hati stadium awal yang sakaw akibat overdosis heroin, mata Nara membara terbakar cemburu buta. Ia melihat perempuan berpakaian minim itu menggeliat dan menggoda kekasihnya. Hal itu membuat Nara meledak. Nara memaksa masuk ruang perawatan demi menjauhkan kekasihnya dari si pasien.
Padahal di dalam ruangan tersebut bukan hanya Abian dan pasien seorang. Ada beberapa perawat dan dokter spesialis lain yang menangani pasien tersebut.
Tapi mata Nara telah buta. Ia menarik paksa Abian keluar dari ruang penanganan. Di depan ruang UGD tersebut, Nara dan Abian berdebat hebat hingga semua mata tertuju pada keduanya. Abian yang tak tahan akhirnya mengusir Nara dan mengakhiri hubungan keduanya secara sepihak.
Hati Nara hancur. Kisahnya telah berakhir. Nara tidak tau kalau pasien tersebut adalah putri tunggal pemilik rumah sakit tempat Abian bekerja. Secara khusus orang tua pasien meminta Abian dan rekan lainnya menangani pengobatan putrinya.
Abian sama sekali tidak menyesali tindakannya. Ia bahkan tidak mencari tahu keberadaan Nara yang menghilang berbulan-bulan lamanya. Hingga rekan kerja Nara yang kebetulan sedang mengantar saudaranya berobat pada Abian menceritakan bahwa Nara sudab berhenti bekerja dan pindah ke Jakarta untuk berobat.
Nara mengidap kanker otak stadium akhir. Abian syok dan tidak bisa percaya dengan mudahnya. Namun rekan Nara menjelaskan secara detail riwayat penyakit Nara. Dimulai dari pingsannya Nara di parkiran rumah sakit setelah bertengkar dengan Abian. Hingga ayahnya memutuskan membawa Nara berobat ke dokter spesialis kanker di Jakarta tanpa memberitahu Abian karena Nara melarangnya.
Abian jatuh terduduk. Ia ingat betul narabsering mengeluh sakit kepala namun Abian selalu dengan ringan ringannya mendiaksnosis kalau itu hanya sakit kepala biasa. Bukannya tidak peduli, hanya saja sikap overthinking Nara yang terlalu sering berpikir akan kematian bahkan saat demam akibat terkena hujan sepulang kerja.
Jenuh telah membutakan pikiran Abian. Ia tidak menyadari bahwa kekasihnya sakit keras. Ia malah mengakhiri hubungan yang bukan sebentar dengan mudahnya.
Abian pun mengajukan cuti sementara karena ingin menemui dan menemani Nara. Ia yakin saat ini Nara pasti panik dan overthingking akan kondisi kesehatannya. Abian ingin menenangkan Nara. Ia ingin meminta maaf padanya.
Setiba di rumah sakit, Abian langsung menuju ruang rawat Nara setelah bertanya pada resepsionis. Kamar dendalion nomor 2 lantai 3.
Di depan ruang rawat, Abian memantapkan hati sebelum mengetuk pintu dan masuk melihat langsung mantan kekasihnya yang sudah berbulan-bulan tak menemani dan mengacaukan harinya.
Di dalam kamar, Abian melihat beberapa alat yang cukup familiar menempel di tubuh Nara. Dengan monitor pendeteksi denyut jantung bunyi sangat riskan. Abian mendekat ke sisi kanan nakas. Ia mengamati setiap inci perempuan yang dulu sering memintanya dicarikan bunga dendalion karena perasaan panik dan overthingking-nya akan hilang setelah meniup bunga tersebut dengan kelopak yang beterbangan terbawa angin. Seperti itulah cara beban pikiran Nara lepaskan.
Tak lama kemudian Nara sadar. Ia mengerjapkan kedua netra yang begitu berat untuk dibuka. Entah berapa jam ia tidur usai melakukan kemoterapi lanjutan.
"Abian?" Lirih Nara hampir tak terdengar
Abian menangis. Ia memeluk tubuh Nara. Tubuh yang biasa menguatkannya saat mengalami kesulitan. Tubuh yang biasa mendekap hangat saat hati Abian gelisah. Kini tubuh elok itu sudah nampak kurus tak terawat dengan rona pucat di bibirnya. Kemana lipteen yang sering disebut rasa stroberi oleh Abian itu. Kemana aroma tubuh yang wangi itu. Sekarang hanya tersisa aroma obat2an yang menyengat menyelimuti tubuh Nara.
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit? Kenapa kamu harus menghilang? Hanya karena aku meledak sekali saja kamu sudah mengabaikan ku. Kenapa Nara?" Abian memberondong pertanyaan pada Nara yang hanya dibalas dengan senyum.
Abian menggenggam tangan nara yang masih terpasang selang infus. "Jangan sakit! Ayo jangan seperti ini. Kamu kuat. Kamu itu cerewet. Sekarang kamu hanya tersenyum. Kalau kamu seperti ini terus mungkin hidupku akan ikut hancur. Aku akan kehilangan semangat juang. Bagaimana kalau aku kehilangan arah." Ujar Abian terdengar overthinking seperti yang biasa Nara katakan.
Kini Nara tak banyak bicara. Sesekali ia menimpali dengan meyakinkan bahwa dirinya baik2 saja. Tidak akan terjadi apa2 padanya. Ia pasti sembuh. Nara begitu terdengar optimis. Itu bukan sosok Nara. Abian takut mendengar optimisme Nara yang bukan mencerminkan dirinya.
Selama 2 jam, Abian terus saja menghujani Nara dengan permohonan maaf. Meminta Nara kembali menjalin hubungan dan berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Abian ingin mewujudkan semua mimpi Nara yang ingin membangun rumah impian untuk keluarga kecilnya kelak.
"Bagaimana bisa kamu meninggalkan ku. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan ingin berpisah dengan mu. Nara aku sangat menyayangimu. Bahkan wajahmu terus terlintas dalam benak ku." Lanjut Abian.
Nara tersenyum bahagia mendengar semua ungkapan kasih yang Abian sampaikan. Ditengah ocehan Abian, Nara memotong kalimatnya, "Itu karena aku mengutukmu. Aku meminta pada Tuhan agar semua wajah orang yang kamu temui nanti berganti dengan wajahku yang imut ini." Canda Nara dengan suara serak.
"Iya kamu berhasil mengutukku." Timpal Abian.
"Abian, aku mau menerima penawaran mu dengan syarat bawakan aku sekuntum dendalion kering. Aku ingin kita meniup kelopaknya bersama-sama agar beban yang kita pikul bisa ikut hilang terbawa angin."
Tanpa pikir panjang, Abian menyetujui syarat konyol tersebut. Dendalion memang simbol ketenangan. Wajar jika keduanya kerap meniup putik dendalion yang mengering dengan keyakinan bahwa pikiran tidak penting bisa ikut pergi.
Tak mau buang waktu, Abian segera berlari menuju taman rumah sakit. Disana ada tanaman dendalion kering yang berjajar rapi. Abian menarik satu tangkai dendalion kering dengan putik paling banyak dan kering. Setelah itu, ia segera bergegas kembali ke ruang rawat Nara.
Namun, ketika kakinya menapak kokoh di pintu masuk, Abian terkejut karena banyak tenaga medis yang mengerubungi ranjang rawat Nara. Wajah dokter dan perawat terlihat jelas sedang panik. Dan itu adalah ekspresi yang biasa tergurat jelas pada wajah tampan Abian.
Tanpa berpikir panjang, Abian merangsek masuk. Menyela para tenaga medis yang berusaha memberi pertolongan pada Nara. Alat-alat medis seolah tidak direspon oleh tubuh Nara. Alat kejut jantung pun tak bekerja. Mirisnya lagi, garis bergerigi yang tadi ya masih terlihat di layar monitor kini berubah lurus diiringi bunyi sebagai penanda jantung pasien tak lagi berdetak.
Abian diam beberapa detik. Rasa tak percaya masih berperang dalam pikirannya. Mungkinkah Nara sudah pergi? Lutut yang biasa kokoh menopang tubuh gagahnya, sekarang seolah kehilangan daya. Abian jatuh meruntuki diri sendiri. Bisa-bisanya dia memilih pergi mencair bunga dan meninggalkan Nara yang menurut dokter masuk fase kritis.
Si paling overthinking telah pergi dan tak kan pernah kembali lagi. Meski seorang abian memohon dengan segala daya dan upaya. Nara benar-benar pergi. Kini bunga dendalion kering yang Nara inginkan yang mampu digenggam erat oleh Abian. Tidak akan ada lagi sosok perempuan yang suka sekali merengek meminta hal konyol padanya. Tidak ada lagi pikiran omong kosong yang harus Abian dengar dari bibir Nara.
Di pemakaman, Abian hanya mengamati dengan luka hati yang tidak bisa diwakili oleh air mata. Ia menahan sekuat tenaga agar tak menangis karena Nara benci melihat Abian menangis. Namun, saat liang lahat sudah menutup seluruh raga Nara yang tak bernyawa, tangis Abian pun pecah.
Cukup lama Abian menangis di atas gundukan tanah bertabur bunga. Setelah itu, Abian meletakkan beberapa rangkaian bunga dendalion yang masih segar berwarna kuning cerah tepat di sisi nisan bertuliskan nama Nara.
Abian berucap lembut dipusara sang pemilik hatinya, "Aku berjanji akan sering2 mengunjungimu. Membawakan bunga kesukaan mu. Tapi kali ini aku hanya akan membawa dendalion segar karena itu mencerminkan kebahagiaan dan kedamaian. Aku bahagia karena kini kamu tidak lagi merasakan sakit dan jiwamu pun telah tenang bersama Tuhan. Tunggu aku Nara. Aku akan menemuimu jika tuhan mengizinkan kelak."
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar