Indah Sukawati

Qudrat sebagai Literat. Inilah amanah yang pertama dititipkan Sang Pencipta kepada manusia, agar menjadi mulia dan mampu memimpin dunia. Mari membaca....

Selengkapnya
Navigasi Web
Nyanyian Bisu Jalak Lawu

Nyanyian Bisu Jalak Lawu

#TG hari ke-72

#Pentigraf 8

Malam masih belum terlalu larut, saat kuputuskan untuk berangkat memulai pendakian. Perjalanan sendiri tanpa teman, sudah biasa kulakukan. Toh nanti sepanjang perjalanan aku akan bertemu dengan pendaki lain yang bisa kujadikan teman. Tak kulupa ada teman setia yang akan mengawal perjalananku, seekor burung Jalak dengan paruh berwarna kuning gading. Belum ada penelitian secara saintifik yang bisa menjelaskan tujuan burung Jalak mengikuti pendakian hingga puncak. Namun burung ini seperti mengawal para pendaki dengan job masing-masing hingga perjalanan sampai di titik tertinggi. Para pendaki Gunung Lawu paham sekali keunikan ini.

Jalur pendakian sampai di Puncak Hargo Dumilah, sudah tidak terlalu asing buatku. Aku harus segera berangkat, mengangkat sedihku lekat-lekat. Lalu membuangnya bersama malam yang semakin pekat. Kutinggalkan Cemoro Sewu untuk memulai perjalanan. Kan kuraih tujuanku yaitu mengurai kesedihan dan meraup kepasrahan. Benar sekali dugaanku, baru sekitar satu jam perjalanan senterku sudah menemukan burung Jalak kecil yang berpindah-pindah hinggap dari dahan ke dahan. Senyumku terkulum sebagai ungkapan rasa tenang. Jalak membisu tanpa suara, mulai menemaniku dengan langkah yang semakin menggelora.

“Turun saja, Mbak. Sepertinya mau hujan deras dan ada badai.” Seorang pendaki yang berlari turun mengingatkanku, sejenak aku ragu. Udara dingin mulai menyusup ke sela-sela jaket, melalui kemeja flanel tebal yang kupakai, akhirnya menembus ke kulit hingga persendianku. Jari-jari yang terbungkus kaos tangan tebalpun sudah mulai mati rasa. Kulihat jam di tanganku dengan senter, menunjukkan hampir pukul satu lebih lima belas menit tengah malam. Mungkin saat sunrise aku sudah berada di puncak Lawu yang kurindu. Tapi mengapa begini dingin? Mendadak aku tersentak oleh hujan yang mengguyur tanpa tanda dan permulaan. Lanjut ataukah kembali pulang? Aku tak punya teman memberi pertimbangan. Kuarahkan senterku ke beberapa tempat, mencari burung Jalak yang sejak tadi melompat-lompat. Semua dedaunan basah kuyup oleh air hujan, namun sang Jalak tak jua tertampakkan. Baiklah, kupastikan untuk pulang. Tanpa burung pemandu menemaniku, menjadi penanda harus kubatalkan perjalananku. Hargo Dumilah, tunggu aku lain waktu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Keputusan tepat. Sip.

02 Jul
Balas

Makasih bu Harini say..

02 Jul



search

New Post