Ina IP

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Otw tahun ke-2. Bisakah kita hidup bersebrangan tanpa saling mengutuk?

Tulisan ini panjang, akhirnya saya bisa mengolah kata untuk menyampaikan posisi saya terkait Cov 19 yg memasuki tahun ke-2, terinspirasi Ernest Prakasa.

Saya ga selalu setuju sama Ernest meski dalam banyak opini sering sepakat. Saya sangat amat mengapresiasi postingan terakhir doi di Instagram nya yg menyampaikan opininya menyikapi pilihan hidup masing- masing orang di masa pandemi yg menuju tahun kedua ini.

Sama seperti Ernest, saya juga merasa memiliki privilege dan existing conditions, hidup tanpa tanggungan, yang perlu dikasi makan ya diri sendiri, dan malah mendapat banyak kesempatan luar biasa di masa pandemi ini. Saya juga melakukan apa yg saya suka yang kemudian menjadi salah satu sumber penghasilan pula. Kondisi ini juga bisa jadi sama seperti kalian yang baca tulisan ini, kita mungkin bagian dari yg beruntung.

AKAN TETAPI, tidak semua orang seberuntung itu, tidak semua orang punya pilihan, tidak semua orang adalah kamu, adalah kita. Tiap kali saya mencoba berada di sisi kiri dengan mengisyaratkan dukungan pada gaya hidup "senormal- normalnya" di masa pandemi, it isnt abt me. TETAPI, saya cukup melihat dengan mata kepala sendiri, mendengar dengan telinga sendiri, dan akhirnya mau tidak mau tersakiti hati sendiri saat menyaksikan "korban" Covid bukan dalam bentuk pasien di RS. Kesedihan saya yang aslinya jenis manusia super duper ignorant membuka mata saya, bahwa saya pernah menjadi begitu keji mengabaikan sesama manusia karena keinginan saya menyelamatkan diri sendiri. Ia saya pernah ada di posisi itu. Lalu, apa yg salah dengan mendahulukan diri sendiri? Exactly! Ga da yg salah. It's just, we do it on our own way, yes? Maka dari itu, hormati pilihan orang lain.

Ingatlah, saat kesal pada orang- orang yang kita anggap berbeda karena tidak mau dirumah aja dan melayangkan komen seperti : GADA OTAK, GA SEKOLAH APA NI ORANG-ORANG, BOK YA DITAHAN GA KELUAR-KELUAR, GA TAKUT MATI APA, DASAR GA BISA DIATUR PEMERINTAH, KENA COVID BARU TAU RASA LU! KALO SESAK NAFAS BESOK-BESOK JANGAN KE RS YA! ingat! Kamu bicara dari kacamata kenyamananmu.Dari perspektif pemahaman dan keyakinanmu. Cukuplah mensyukuri keadaanmu yg baik- baik dan nyaman-nyaman saja, dan jikapun tidak ingin mendoakan orang- orang yang bersebrangan denganmu, maka diamlah. Apakah kamu sejahat itu utk mendoakan orang-orang yang berbeda pendapat denganmu agar terserang virus, sakit, dan mati? Gue kira gue udah manusia jahat, senang mengenal orang kaya gini,berasa ga jahat-jahat amat gue jadinya.

Pandemi memasuki tahun ke-2, saya pribadi berdiri di barisan bersama dengan orang- orang yang memilih untuk menjalani kehidupannya dengan caranya masing- masing, yang bertanggungjawab. Demikian pun dengan kesehatan saya, itu adalah tanggungjawab saya, bukan orang lain.

Apapun pilihannya, semoga semua bahagia, sehat, dan korban kondisi pandemi dalam beragam rupa dapat lebih diminimalisir.

Btw fyi, gue penyintas. So I have all the rights to share my own personal experience just like the others, yes? Gimana rasanya kena Cov? Ga gimana- gimana, gw gendud sebab gw mengikuti saran dokter- dokter yang gw anggap benar. Gw tidur makan tidur makan, that's all. Pake obat apa Na? Nothing in particular, well madu but I do consume it on regular basis jadi ga bisa dibilang obat juga.

Ya tapi kan itu lo Na, ga semua orang seberuntung elu kena Cov masih idup hari gini, masih bisa ngebacod di sosmed panjang lebar.

YASS! EKZAKLY BABE! Semua beda-beda, sama aja udah kaya jalan idup bukan? Karena itu jangan maksa bahwa semua harus gawat, harus mati kalo kena virus ini, sama kaya gw ga bakal maksa lu percaya kalo lu kena lu bakal fine aja kaya gue. Keyakinan, kepercayaan, pengalaman dan keilmuan kita beda. So, selama kita bertanggungjawab, bisakah kita hidup tanpa saling mengutuk?

Menuju dua tahun hidup bersama Cov 19, saya harap kubu pro dan kontra ini cepat sadar. Saya ga pengen kubu- kubu an ini akan lanjut seperti kubu- kubu an perpolitik an. Sebab kali ini tentang menjadi manusia.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Santai saja bunda Ina. Covid pasti segera berlalu

07 May
Balas

Syap. Saya sih santuy bet mb. Team parno ga abai jangan hahahaha

07 May



search

New Post