Cay - seperti bunyi 'Jay' pada kata 'jiJay'
Namdwa, anak kos yang meski mengklaim dirinya anak soleha, tetaplah tak luput dari dosa. Kali ini Namdwa sedang ada di Edirne, kota kecil impiannya, di Turki.
Namdwa tadinya selalu berpikir, bahwa teh dan kopi adalah dua kata yang paling umum, dalam bahasa apapun, di belahan bumi manapun, ejaan dan bunyinya tidak akan jauh berbeda, pasti bisa dikenali. Taking things for granted is obviously innocent, she thinks. Sampai kemudian selang dua hari pertama di Turki, setelah beberapa kali mampir di tempat makan, plus satu kali naik bus lintas kota yang menyediakan cemilan, Namdwa masih saja gagal memesan teh saat ingin memilih minuman. Beberapa percobaan sebelumnya berbekal "guessing meaning from context or picture", hasil yang dia dapatkan saat memesan minuman adalah Cola, air, kopi, dan yoghurt.
" Wahai teh, dimana kau berada dan bagaimana cara memanggilmu di sini?"
Demikian selalu Nam bergumam, tiap kali dia gagal memesan teh.
Adapun dua percobaan pertama yang menghasilkan cola dan air, adalah percobaan memesan makanan paket. Nam pikir, di film- film, teh Turki sangatlah terkenal, jadi insting sotoy- alias sok taunya sampai pada kesimpulan, bahwa kalau pesan makanan paket dengan minum, maka varian minumnya, PASTI teh.
Sampai di situ mission masih suspended. Nam nyaris menyerah dan sudah berniat cari wifi untuk buka Google translate. Tapi Nam ingat lagi kata teman virtualnya, Ina :
" Masa udah beberapa kali gagal ga ada kemungkinan berhasil sih? Bukankah keberhasilan itu seringkali sudah begitu dekat ketika kita akan menyerah?"
Luar biasa, kenapa dia bener terus sih, cibir Nam.
Akhirnya karena tidak ingin menjadi bahan guyonan Ina dikemudian hari, Nam kembali memesan Doner ( sejenis kebab) dikesempatan berikutnya, masih dengan paket minum, kali ini Nam menunjuk paket dengan tulisan + Ayran. Saat itu Nam berpikir, cola sudah pernah, air sudah, kopi juga sudah, masa Ayran juga bukan teh sih? Yang bener saja. Meski saat itu Nam gagal menjelaskan pada si penjual makanan, kalau dia maunya "dine in" bukan dibungkus, tapi Nam optimis kalau Ayran adalah teh yang dia cari- cari sejak tiba di Turki.
Nam memandangi Ayran dari paket makanananya. Ada dalam kemasan cup plastik. Ah ya, mirip Teh Gelas yang terkenal di Indonesia, kemasannya kaya gitu, sesama teh, Nam membuat asumsi. Okay, save the best for the last, nanti aja buka minum Ayrannya, demikian Nam memutuskan urutan sesi makannya.
Namun, karena kebanyakan menambahkan lada, Doner Nam terasa sangat pedas, jadi otomatis tangan Nam meraih Ayran di meja dan membuka penutupnya. Saat itulah Nam terpana melihat penampakan Ayran, yang dia tuduh sebagai teh, yang tak kunjung ditemukannya dua hari ini. Penampakan Ayran itu putih, mirip susu.
Ayran itu susu? Tanya Nam dalam hati. Tak punya sesiapa untuk memperpanjang diskusinya, ditambah fakta bahwa dia kepedesan, Nam refleks coba meneguk sang Ayran. Hanya butuh beberapa detik sampai indera perasa Nam otomatis bekerja mendeteksi rasa.
"Mengapa ini rasanya ga asing ya?" monolog Nam di kepalanya.
"Yoghurt?" Lanjut Nam bertanya pada dirinya sendiri.
"Ayran itu yoghurt??!! Bukan teh!!"
Whooaaa perasaan Nam campur aduk antara happy karena itu artinya yoghurt murah dan gampang dicari di sini, tetapi dia juga terhenyak karena Ayran pun ternyata bukan teh yang dicari- cari. Nam menelan pil pahit kekecewaan, buah dari optimisme berlebihan, yang diciptakannya sendiri.
Nam lalu memutuskan untuk duduk lebih lama di sana, meski dia sudah menghabiskan Doner dan "suspek" teh nya, yang ternyata yoghurt itu. Nam mengamati sekeliling, menikmati pemandangan kota di depannya.
"Selalu menyenangkan berada di tempat asing, dan mendengar orang- orang berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti, sama sekali. Mencoba membaca, apakah seseorang menceritakan sebuah kebahagiaan ataukah kecemasan melalui air mukanya"
kembali Nam teringat salah satu ucapan Ina.
Hah, hela Nam. Dia terkadang kesal mengapa justru seringkali dirinya yang mengingat semua ucapan- ucapan asal bunyi Ina, padahal sahabatnya itu sendiri tidak pernah repot- repot mengingat macam- macam. Katakan dan lupakan, begitu selalu tingkahnya yang sering membuat Nam kesal. Namun apa daya, terlepas entah sudah berapa kali mereka berselisih paham, pada akhirnya mereka akan baikan lagi. Penyebabnya ya itu, Ina tidak pernah sungguh- sungguh ingat pada apa yang dikatakan dan diperbuatnya, maka dengan entengnya dia lupa kalau Nam dan dia baru saja bertengkar, misalnya.
Gerimis mulai turun saat Nam kembali dari alam bawah sadarnya yang sempat diambil alih sejenak oleh kenangan bersama sahabatnya. Rasanya hujan hari itu, indah, menambah tenteram suasana. Nam hendak mengambil HP untuk mulai menulis sesuatu, tapi kemudian dia melihat seorang anak dengan nampan ukuran sedang, dan banyak gelas- gelas kecil di atasnya. Hei, itu gelas teh seperti di film- film, mata Nam berbinar.
"Ah ya, itu dia yang kucari- cari", Nam berkata pelan pada dirinya sendiri.
Mata Nam lekat pada nampan itu, si anak sepertinya sadar, Nam sedang membelalak pada benda di tangannya. Anak itu lalu mengucapkan sesuatu, yang sayangnya, karena tidak terdengar seperti "tea" atau "teh" di telinga Nam, dia pun refleks merespon si anak dengan menggeleng. Kemudian si anak berlalu dan berteriak- teriak kembali, menjajakan bawaannya. Nam mendadak tersadar,
" Jangan- jangan, yang tadi itu dia nawarin teh?" Tanya Nam pada cup plastik Ayran, dan tentu saja dia tidak mendapat jawaban.
Huh, Nam mulai merutuki kesempatan yang dilewatkannya. Kenapa dia tadi pake geleng- geleng kepala, this is Turkey not India, Namdwa!
Terus- terusan Nam menyesali apa yang baru saja terjadi padanya. sementara si anak dengan nampan semakin menjauh, namun suaranya masih sayup- sayup terdengar. Nam mencoba memasang telinga dengan seksama, menerka- nerka. Nam mendengar si anak berujar kata yang bunyinya kira- kira seperti "Jay" atau "Jei" mungkin juga "Jai". Nam terus mencoba mereka- reka sampai suara si anak benar- benar hilang dari jangkauan pendengarannya. Nam menyerah, dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Dalam perjalanan kembali ke kamar, Nam melihat sebuah menu di pajang, di salah satu warung kecil, di samping tempatnya menginap. Di sana terpampang gambar sepiring menu makanan dan tulisan + Cay. Kening Nam mengkerut, tanda dia sedang mendadak berpikir. Cay??? Nam mencoba menarik memori di kepalanya, kakinya mempercepat langkah agar segera tiba di kamar.
Nam akhirnya memutuskan untuk membuka kamus dengan wifi di kamar. Sebentar, ini bukan karena dia menyerah, Nam menjustifikasi tindakannya ini sebagai bentuk konfirmasi. Demikian kiranya nanti dia akan menjelaskan, jika ada yang menghakimi bahwa Nam memang tidak mungkin bisa mandiri, tanpa wifi.
Nam langsung menghempaskan diri ke atas tempat tidurnya , dan disusul dengan mengeluarkan HP, yang kemudian diposisikannya di atas wajah dan pipi bulatnya. Nam membuka kamus online dengan koneksi wifi gratis, yang terhubung otomatis. Nam mengetikkan satu per satu, semua bunyi kata yang dia sempat rekam di kepalanya, saat dia menguping si anak dengan nampan tadi. Tidak lama kemudian Google memberi saran kata : Cay. Skemata Nam pun menggerakkan jarinya ke tombol "enter", mengikuti saran Google. Lalu,
" Cay : Tea"
Demikian terpampang di layar HP Nam yang diatur untuk menerjemahkan Turkish - English itu.
Ketika Namdwa melanjutkan perjalanan ke kota berikut dengan bus lintas kota, Nam akhirnya berhasil mempraktikkan memesan teh yang sudah dinanti- nantikannya. Cay - yang ternyata huruf C dibaca mirip J dalam ejaan bahasa Indonesia, bisa dipraktikkan dengan mengucap kata "jiJay", sebuah kosakata "slang" yang kerap muncul di kalangan anak muda. Kemudian, buang suku kata - ji dari kata tersebut. Sehingga tersisalah "Jay", dan segelas teh Turki akan sukses tersaji.
" Nam, sering kita lupa proses terciptanya sebuah pengetahuan baru, apa karena terlalu sibuk menjadi guru (?)"
Nam bergidik, mengapa dia merasa barusan mendengar suara Ina membisikkan itu ke telinganya?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Luar biasa,keren sekali ceritanya. Saya seperti ada di turki. Sukses dan salam kenal bunda
Cerita yang mengalir indah, sukses selalu bunda.
Kerreeennn...
Mantap bu, tak terasa sampai pada akhir tulisan
Keren salam knal bunda