Orang Tuaku Bukan Sarjana
Suasana pagi ini masih remang-remang, jalan yang kulaluipun terlihat samar. Kuayunkan kakiku langkah demi langkah menyusuri jalan setapak, bersama bapak dan emak yang dengan sabar mengiringiku dari belakang dan sesekali menyemangati agar berjalan lebih cepat.
“Masih jauh pak?” tanyaku kepada bapak sambil berjalan.
“Masih, belum ada separo le,” sambung bapak kemudian.
“Belum ada separo?” tanyaku dalam hati.
Rasanya aku sudah jauh berjalan, dan rasa letih sudah mulai terasa di kakiku. Keringat mulai menetes dari bagian tubuhku di pagi yang mulai terlihat terang oleh sinar sang mentari yang sudah mulai meninggi.
Sesekali aku menoleh ke arah bapak, dan bapakpun tersenyum. Mungkin bapak tau kalau aku sudah merasakan letih setelah berjalan sekian lama.
“Sini bapak gendong.” Ucap bapak sembari merunduk dan menyodorkan punggungnya untukku.
Akupun bergegas naik ke punggung bapak yang terlihat kokoh dan kuat. Melihat kelakuanku emak hanya bisa tersenyum.
Langkah kaki bapak masih terasa ringan, meski sekarang bertambah beban dipunggungnya. Dan kurasa berat badanku tidaklah ringan. Sedari kecil aku memang tumbuh subur alias gendut.
Matahari sudah mulai menampakkan keperkasaannya. Sinarnya yang tajam mulai terasa dikulitku. Masih sambil menggendongku, bapak terus berjalan menyusuri jalan setapak. Keringat mulai membahasi punggung bapak dan sesekali menetes dari keningnya. Nafas bapak mulai terasa lebih keras dan berat, menandakan bahwa keletihan juga mulai menghinggapinya.
“Istirahat dulu pak.” Pintaku kepada bapak.
“Iya, tapi sebentar saja ya. Takutnya nanti kesiangan sampai ke sekolah.” jawab bapak.
Bapak menghentikan langkahnya dan akupun segera turun dari punggung bapak. Segera kami mencari tempat duduk yang teduh untuk kami beristirahat.
Terlihat emak menurunkan tas ransel yang sedari rumah berada di punggungnya kemudian duduk di samping bapak. Emak mengeluarkan sebotol minuman dari dalam ransel dan menyodorkan kepada bapak.
Sekali tenggak setengah isi botol sudah berpindah ke perut bapak. Bapak menyodorkan botol minum dengan air yang tersisa kepadaku. Kuambil botol minuman yang disodorkan bapak, tapi aku tak segera meminumnya. Kuserahkan botol minuman kepada emak, sebagai bentuk penghormatan. Begitulah orang tuaku mengajariku, agar mendahulukan yang lebih tua dari kita sebagai bentuk penghormatan.
“ Minumlah dulu.” Kata emak sembari mengelap keringan di dahinya.
“ Emak aja dulu.” Sahutku sembari menyodorkan botol minum yang kuterima dari bapak.
“ Nggak apa-apa, minumlah dulu.” Kata emak. Mungkin emak menangkap apa yang ada dalam pikiranku. Kubuka penutup botol minum lalu kutuang isinya kedalam mulut dan kuteruskan ke dalam perut melaui kerongkonganku. Rasa dingin terasa saat air melaui kerongkongan dan bermuara di perut.
“ Ini, mak.” Kusodorkan botol minum yang kupegang kearah emak.
“ Sudah…?” tanya emak kepadaku.
“ sudah, mak.” Jawabku singkat.
Emak mengambil botol minum dari tanganku lalu meminum air yang tersisa di dalamnya. Selesai minum emak memasukkan kembali botol yang masih menyisakan sedikit air ke dalam tas ransel yang emak letakkan di dekat tempat duduknya.
“Sudah siang, ayo berangkat.” ajak bapak kepada kami setelah sejenak beristirahat dan dirasa cukup.
“ Masih jauh ya pak?.” tanyaku sembari bangkit dari tempat duduk.
“ Nggak, sebentar lagi nyampe.” sahut emak sembari bangkit dari tempat duduknya.
Tas ransel yang tadi diletakkan emak di samping tempat duduk saat beristirahat ia angkat dan diletakkan kembali di punggungnya.
Perjalanan menuju ke madrasah kami lanjutkan kembali. Mendengar emak mengatakan bahwa madrasah yang kami tuju tidak jauh lagi membuat energiku kembali pulih.
Dengan bersemangat kulangkahkan kakiku menyusuri jalan. Dan benar saja, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berjalan sudah tampak beberapa bangunan rumah yang berjejer.
Terlihat beberapa anak yang sedang bermain dan beberapa orangtua yang sedang mengobrol sambil sesekali melihat ke arah anak-anak yang sedang bermain.
Pandanganku terfokus ke arah bangunan yang berbeda dengan yang lainnya. Bangunan ini seperti rumah, tapi terlihat lebih panjang dari yang lain. Bangunan yang memiliki atap dari seng dan berdinding papan, dengan halaman yang lebih luas dibanding dengan bangunan yang lain.
“ Itu rumah apa pak?” tanyaku kepada bapak sambil menunjuk kearah bangunan panjang.
“Ooh… yang panjang itu?” bapak balik bertanya sambil menunjuk ke arah bangunan yang kumaksud.
Aku menganggukkan kepala membenarkan apa yang bapak tanyakan kepadaku.
“ Itu namanya madrasah, le. Tempat kamu nanti sekolah, belajar menuntut ilmu.” kata bapak menjelaskan rasa penasaranku.
Langkah kakiku kini terasa ringan. Mungkin karna terdorong oleh semangat serta rasa penasaranku.
Beberapa anak terlihat sedang bermain di halaman madrasah. Postur badannya terlihat lebih besar dariku. Dengan pakaian yang berwarna sama, baju putih dan celana pendek berwarna hijau. Mereka memainkan permaian tradisional yang aku tahu bernama “gobak sodor”.
Permaianan gobak sodor merupakan permainan tradisional yang terdiri atas dua tim, satu tim sebagai penjaga dan tim lainnya berusaha untuk lepas dari penjagaan.
Permaianan ini menggunakan lapangan berbentuk segi empat berpetak-petak, jumlah petaknya tergantung dari banyaknya anggota tim yang sedang bermain. Setiap garis dijaga oleh pihak penjaga, pihak yang mau masuk ke dalam petak harus melewati garis dan jika tersentuh oleh penjaga, maka tim tersebut bertukar tugas sebagai penjaga.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Jadi ingat Bapak. Cerita nya mengalir indah, tapi ejaannya masih perlu pembenahan. Tunggu pertemuan ketiga ya
Nggeh bu... maturnuwon, mohon bimbingannya.