Logay Karena Angklung
Angklung itulah yang terlintas di benakku saat itu, meski tak ada kemampuanku untuk memainkan musik angklung. Tapi aku bisa belajar pikirku...yang penting ada kemauan dulu. Saat itu aku hanyalah seorang guru yang baru beberapa bulan diangkat jadi CPNS. Tapi keadaan sekolah tempatku bertugas sungguh mengkhawatirkan, kepercayaan orang tua hampir tidak ada, siswa - siswaku cenderung pasif, menarik diri, mereka lebih senang menjadi penonton di saat ada kegiatan bersama di komplek sekolahku. Karena kebetulan ada dua sekolah yang berdekatan, kondisinya sangat jauh berbeda dengan sekolah tempat aku bertugas.
Iseng aku bertanya kepada guru senior, kenapa yah anak- anak kita cenderung pemalu, tidak mau tampil, guru senior cuma menjawab anak - anak disini memang tidak ada yang punya potensi. Dan tentu saja aku tidak bisa menerimanya, karena aku yakin semua anak memiliki potensi, hanya kita belum bisa memberikan kegiatan untuk menggali potensi yang mereka miliki. Bagaimana mereka bisa berkreasi kesempatan saja gak pernah ada, aksi nyata untuk menggali potensi mereka saja belum dilakukan, rasanya terlalu egois kalau kita menyimpulkan mereka tidak memiliki potensi.
Saat itulah timbul ideku untuk mengembangkan kegiatan ekstrakurikuker musik buat anak - anak. Pada awalnya tentu saja sangat tidak mudah, sebagai guru baru aku dianggap guru yang logay ( loba gaya ), hehe miris memang tetapi aku tidak peduli, aku cuma pengen anak - anak bisa punya kegiatan, tampil percaya diri dan memiliki keberanian untuk unjuk gigi.
Seiring waktu grup angklung binaanku semakin melesat, selain bisa menjadi juara satu, grup angklung bisa tampil di berbagai tempat dari tingkat nasional sampai internasional. Bangga tentu saja, tidak percaya terkadang menghampiriku, semua rasa lelahku terbayar, sekarang aku bisa melihat anak - anakku tampil di depan orang banyak, mereka memainkan salah satu musik warisan budaya Jawa Barat, diiringi tepuk tangan, decakan kagum kerap terdengar. Aku cuma bisa mengucap syukur, menahan rasa haru, akhirnya aku bisa membawa kalian, akhirnya aku bisa mengenalkan kalian anak- anakku pada semua orang. Akhirnya keraguan itu bisa terjawab. Kita pasti bisa.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
pasti!
Pelit amat..komen cuma satu kata...hahaha
Semua orang perlu memiliki keyakinan seperti Bu Ima, karena kadang dari situ Tuhan akan memberikan jalan termudah dan terbaik
Aamiin...hatur nuhun Pak Agus...salam kenal aja yh
Hebat ibu...
Makasih bu Tri Handayani...salam kenal
everything is impossible. keep learning bukkkk
Setujuuuuuu....segalanya pasti mungkin...mksh bu Nurul