IIN SUPMAWATI

Anak kedua dari tiga bersaudara. Tinggal di Jember. Guru Penggerak Angkatan 3. Pengajar Praktik PGP Angkatan 9. Pengurus LDB dan KGBN Jember. Pelatih...

Selengkapnya
Navigasi Web
PSE (Pembelajaran Sosial dan Emosional)

PSE (Pembelajaran Sosial dan Emosional)

Pembelajaran Sosial dan Emosional

Sebagai pendidik, saya pernah berada dalam suatu peristiwa yang membuat saya merasakan emosi-emosi positif, misalnya optimis, senang, cinta, bahagia, atau takjub, dan sebagainya.

Salah satu peristiwa yang membuat saya merasakan emosi-emosi positif, antara lain optimis, senang, cinta, bahagia, sekaligus takjub, adalah ketika sekolah kami selesai visitasi akreditasi yang pertama. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2016 di SD Ilmu Alquran Kaliwates. Segenap guru, yayasan, komite, wali murid, dan murid terlibat aktif dalam proses persiapan pelaksanaan akreditasi di sekolah kami. Pada waktu itu sekolah kami belum pernah melaksanakan akreditasi, sehingga pada saat Ujian Nasional siswa kami harus menumpang ke SD lain yang terdekat. Dengan adanya akreditasi maka sekolah kami bisa melaksanakan ujian di sekolah sendiri. Anak-anak merasa senang dan bahagia bisa ujian di sekolah sendiri, guru-gurunya pun lebih bahagia.

Peran saya pada saat itu menjadi penggagas pelaksanaan akreditasi. Yang saya lakukan untuk merespon dan mengelola emosi tersebut yaitu dengan cara berdoa dan menggelar tasyakuran bersama yang dihadiri oleh yayasan, guru, siswa, dan wali murid.

Peristiwa tersebut sangat berdampak pada diri saya sebagai pendidik diantaranya sekolah kami menjadi sekolah yang terakreditasi B, kami dapat menyelenggarakan Ujian Sekolah sendiri, kami lebih semangat dan optimis bahwa kedepannya sekolah kami akan lebih maju dan siswanya lebih banyak.

Selain peristiwa yang memicu emosi positif, saya juga pernah berada dalam suatu peristiwa yang memicu emosi-emosi negatif misalnya marah, sedih, kecewa, menyesal, khawatir, dan sebagainya.

Misalnya, pada saat saya mengerjakan tugas-tugas dengan baik dan tepat waktu, tetapi malah dibaca bahwa saya ingin cari muka. Hal itu membuat saya sedih dan kecewa. Seperti terjadi pada tahun 2020 di di SDN Sidodadi 1. Ada semacam penolakan dan menganggap saya cari muka. Kejadiannya pada waktu itu masa kerja bendahara sekolah sudah berakhir, kemudian kepala sekolah memilih saya untuk menjadi bendahara. Di saat itu saya dibilang cari muka. Saya memilih merefleksikan peristiwa tersebut karena hati saya benar-benar kecewa pada saat itu, tetapi saya tetap melaksanakan tugas saya dengan baik.

Peran saya saat itu sebagai orang yang dipilih untuk menjadi bendahara yang baru yang mendapat penolakan dari orang lain, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya mereka menerima saya sebagai bendahara dan sekarang kami sudah berjalan dengan baik dan dinamis. Yang saya lakukan untuk merespon dan mengelola emosi tersebut yaitu dengan cara melakukan pendekatan kepada teman-teman secara pribadi, selain itu saya juga memohon kepada Allah supaya hati teman-teman dapat tergerak untuk menerima saya sebagai bendahara.

Peristiwa tersebut berdampak pada diri saya sebagai pendidik yakni membuat saya lebih mengenal karakter dari orang di sekitar dan mengetahui cara untuk mengelola emosi. Mencari solusi dari permasalahan yang ada.

Di bawah ini ada beragam kegiatan belajar dan mengajar di kelas maupun lingkup sekolah.

✓Memulai kegiatan setiap hari dengan kesadaran akan tujuan yang jelas.

✓Memberikan kesempatan pada murid untuk menikmati buku pilihannya dalam suasana yang kondusif.

✓Memberikan kesempatan pada murid untuk merefleksi proses pembelajaran yang sudah diikuti (apa yang disukai/mudah/menantang/ingin dipelajari lebih lanjut sebelum melanjutkan pembelajaran berikutnya).

✓Mengisi waktu luang dengan melakukan kegiatan penyegaran/relaksasi yang sehat dan positif.

✓Memberikan fleksibilitas pada murid untuk mengerjakan tugas yang disukainya terlebih dahulu.

✓Memberikan kesempatan pada murid untuk mengadakan acara sekolah (literasi, seni dan olahraga, dll).

✓Mendengarkan penjelasan murid yang dilaporkan terlibat dalam perilaku indisipliner dengan sikap empati dan hormat.

✓Mengajak murid menonton film dan membedah perasaan dan motivasi tokoh dalam film tersebut.

✓Mengajak murid berdiskusi dan beropini tentang masalah yang terjadi dalam masyarakat / sekolah.

✓Mengungkapkan sikap tidak setuju pada rekan guru lain dengan sikap hormat dan empati.

✓Memfasilitasi murid untuk duduk berdialog dalam menyelesaikan konflik

✓Berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atas inisiatif sendiri.

✓Melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas agar kelas aman dan nyaman.

✓Mengadakan dialog interaktif tentang bagaimana membangun tanggung jawab/etika dalam penggunaan internet.

Dari kegiatan yang telah saya pilih di atas yang paling sering saya lakukan adalah mengisi waktu luang dengan melakukan kegiatan penyegaran atau relaksasi yang sehat dan positif. Berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atas inisiatif sendiri. Melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas agar kelas aman dan nyaman. Tujuan saya melakukan kegiatan tersebut adalah untuk memberikan dampak yang positif bagi diri sendiri dan orang lain supaya semua dapat berjalan aman dan nyaman dan membahagiakan.

Sejauh ini saya sudah dapat melakukan kegiatan tersebut secara konsisten. faktor pendukungnya yaitu motivasi dalam diri, inisiatif sendiri untuk mengikuti komunitas, dan untuk mengisi hal-hal yang positif dalam hidup saya. Sekaligus lebih berpihak kepada murid.

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya saya sudah mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dipelajari dalam modul pembelajaran sosial dan emosional ini. Hal yang ingin saya pelajari lebih lanjut yaitu cara mengelola emosi dan mengendalikan diri, supaya keadaan dapat berjalan baik-baik saja. Serta cara meluapkan emosi positif secara tidak berlebihan.

Harapan bagi murid-murid saya yaitu saya lebih bisa memahami karakter dan bisa mengendalikan emosi yang dimiliki oleh murid, sehingga permasalahan yang dirasakan oleh murid dapat diselesaikan dengan baik dan damai.

Tiga hal menarik yang telah saya pelajari di modul 2.2 ini antara lain :

a. Tujuan dari Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), yakni meliputi 5 Kompetensi Sosial Emosional (kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan membangun relasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab). Karena kelima KSE tersebut sangat penting untuk bekal diri terjun ke masyarakat.

b. Mindfulness yaitu kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan. Karena dengan mindfulness (kesadaran penuh), kita dapat menemukan fokus, memperkuat sense of space dalam diri kita, kebebasan berpikir ketenangan, tidak cepat menjatuhkan vonis, tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

c. Pendekatan SEL yang efektif seringkali menggabungkan 4 elemen yang diwakili oleh SAFE (Sequential/berurutan, Active/aktif, Focused/fokus, Explicit/eksplisit). Alasannya karena dengan SAFE, kita dapat melakukan aktivitas yang terhubung dan terkoordinasi untuk mendorong pengembangan keterampilan, membuat pembelajaran aktif yang melibatkan murid untuk menguasai keterampilan dan sikap baru, fokus pada pengembangan keterampilan sosial emosional, dan dapat tertuju pada pengembangan keterampilan sosial emosional tertentu secara eksplisit.

Adapun dua hal penting yang saya pelajari yaitu

a. Dari modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional ini, saya mempelajari bahwa tidaklah cukup apabila murid hanya mengembangkan kognitifnya saja. Murid juga perlu mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya, supaya memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri, dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan duitnya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

b. Implementasi PSE, antara lain mengajarkan KSE secara spesifik dan eksplisit; mengintegrasi KSE ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid; mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid; mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain, dan lingkungan.

Satu hal yang ingin saya terapkan dalam kelas yakni teknik STOP (Stop/berhenti, Take a deep breath/tarik napas dalam, Observe/amati, Process/lanjutkan) dengan memasukkan ke dalam RPP, karena dengan teknik STOP dapat memecah pikiran yang penuh sesak dengan beban tugas rutinitas. Dengan teknik STOP, diharapkan murid dapat mengelola diri, menata kembali pikiran yang positif, kembali relaks, dan siap untuk melanjutkan aktivitas.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Keren karyanya Bu Iin semoga sehat dan bahagia

15 May
Balas

Terima kasih Bapak

06 Jun

Alhamdulillaah, keren tulisannya, sehat dan sukses bu

15 May
Balas

Terima kasih Bunda. Aamiin

06 Jun

Ulasan yang positif bagi pembacanya

15 May
Balas

Terima kasih Bunda

06 Jun

Ulasan yg mnrik, disertai penglmn. Luar biasa.

15 Mar
Balas

Terima kasih

02 Apr



search

New Post