UNGKAPAN YANG TERLAMBAT
Tantangan Menulis Ke-181
Pagi itu Aku bersemangat datang ke sekolah, karena jadwal pelajaran pagi ini sangatku suka. Bu gurunya juga supel yang selalu membuatku tersenyum. Apalagi canda garingnya membuatku tersipu-sipu. Tidak dipungkiri lagi seolah Bu guru tahu kalau Aku sedang jatuh cinta. menyukai teman kelas.
"Selamat pagi anak-anak", sapaan Bu Titin menyapa kami. Memang seperti biasa Bu Titin selalu memulai pelajaran dengan menyemangati kami terlebih dahulu. Bu Titin selalu memberi kuis yang membuat kami tersenyum dan ceria. Barangkali kalau jadwal mengajar Bu Titin siang atau di jam terakhir bisa membuat kami bersemangat lagi. tidak seperti guru-guru yang mengajar siang, selalu membuat kami bosan dan mengantuk. Ditambah hawa panas kelas kalau sudah siang membuat kami tidak betah.
"Ayo sekarang kita mulai belajar ya", Bu Titin langsung membuka laptopnya. Memang diantara guru-guru yang mengajar, Bu Titin termasuk guru yang update terhadap perkembangan. Teman-teman selalu riuh saat Bu Titin berseloroh tentang pujaan kami.
"Ayo, crusnya lewat tuh, siapa yang punya", Bu Titin banyak tahu tentang istilah kekinian. Kami suka itu. Bahkan temanku Adi yang sedang dekat dengan siswa sebelah juga diketahui Bu Titin. Aku juga was-was kalau-kalau Bu Titin tahu kalau sedang menyukai seseorang.
"Ayo yang sudah menentukan teman kelompoknya, silahkan tulis nama dan berikan ke Ibu", instruksi Bu Titin segera kami lakukan. Bahkan teman- teman bersemangat untuk segera belajar kelompok. Aku yang sudah memilih Adi, Nabila dan Areska menjadi teman kelompok. Mereka juga tidak keberatan masuk kelompokku. Setelah Bu Titin memberikan materi, kami diminta duduk berkelompok. Kamipun duduk berempat. Aku sengaja duduk didepan Nabila, karena memang ingin memandangnya dari dekat. Selama ini Aku hanya melihat Nabila dari kejauhan, kadang Aku iri dengan Anto yang setiap saat bisa saja bebas berseloroh dengan Nabila. Aku sebenarnya ingin juga seperti itu, namun keberanianku masih belum maskimal. Aku hanya puas memandang Nabila dari jauh. Senyumnya membuat jantungku maraton. Apalagi mendengar dia menyebut namaku, membuat hatiku cenat-cenut.
"Ayu, silahkan mulai diskusi. Arya jangan senyum-senyum saja memangdang Nabila. Kalau ada yang mau diungkapkan, sampaikan saja secara langsung", seloroh Bu Tini membuat seisi kelas tertawa riuh Aku tersipu malu. Nabilapun tersenyum ke arahku, seolah dia juga tidak menampik kalimat Bu Tini.
kelompokku sudah mulai berdiskusi, Nabila begitu terkesima mendengar penjelasaaku tentang topik yang kami bahas. Saat Aku melihat Adi, dia tergagap karena ketauan sedang memandang perempuan yang jadi crusku. Aku agak kecewa, karena Nabila malah tersenyum dan mengajaknya berdiskusi tanpa menghiraukan teman-teman yang lain. Aku sedikit kesal. Namun agar tidak membuat keributan, Aku sudah bertekat bahwa pulang sekolah nanti akan mengajak Nabila bicara serius.
Berl tanda pulang berbunyi. Aku buru-butu keluar kelas setelah guru menyuruh kami pulang. Aku sengaja ingin menunggu Nabila di gerbang sekolah. selintas Aku melihat Nabila berjalan beriringan dengan Adi. Alangkah panasnya hatinku melihat mereka bercerita sambil tertawa. Inginku menarik Adi agar menjauhi Nabila.
Saat di depan gerbang, Adi menyapaku. Dia bersikap seolah-olah Aku tetap seperti biasa. Padahal hatiku mulai panas melihat kedekatan mereka.
" Arya, mau pulang bareng ? AKu hanya menggeleng. Sementara Nabila ikut tersenyum ke arahku.
"'Kami mau merayakan sesuatu. Ikut nggak ? kalimat Adi membuatku penasaran. Nabila juga minta agar Aku ikut mereka.
"Ayolah Ar, kapan lagi kita bersama, bentar lagi kan mau ujian akhir", Akupun mengiyakan ajakan mereka.
Saat sampai di warung bakso tempat yang mereka janjikan. Adi duduk di depan Nabila, sementara Aku disampingnya. AKu sedikit was-was dengan kondisi tersebut. Nabila selalu tersenyum ke arah Adi.
"Sebenarnya hari ini kami jadian"., kalimat Adi seperti petir menyambar. Aku terdiam. Tanganku seolah kaku untuk bergerak. Mulutku terkunci untuk sekedar mengucapkan selamat untuk mereka. Ternyata mereka sudah jadian. AKu pun buru-buru pamit karena ada panggilan mendadak.
"Maaf Nabila, Adi, silahkan langjutkan. Aku ada keperluan mendadak". Akhirnya dengan berlari Aku menyusuri setapak meninggalkan jejak Nabila, crus pujaan yang sudah lama menetap dihatiku. Aku ingin cepat pulang meluapkan semua rasa yang tersimpan, agar esok tak lagi ada yang mengganjal.
Tamat
Padang, 21 Oktober 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Kereeen ceritanya, Bunda. Salam literasi
Hehe..mksih bun
Maaf..mksih Pak
Cerita yang menarik
Mksih bunda