Siti Sanisah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
UDIN YANG NELANGSA

UDIN YANG NELANGSA

#Tantanganguru_06

Senyum puas Udin sudah kembali ditarik kenyataan hidup. Lembar-lembar dinamika dalam keseharian memposisikan senyumnya kembali ke kotak pandora. Kotak yang tersimpan rapi pada pojok dipan lusuh. Dipan kurang ajar, tak pernah berhenti mengingatkan Udin pada istri moleknya. Istri yang saban hari tidur terlentang sendiri menunggu hadirnya pada tengah malam buta. Sementara Udin sedang asyik mencoba dipan baru yang dia belikan untuk ibu seorang anak kecil di kampung sebelah. Anak yang baru saja ditinggal bapaknya merantau ke tanah seberang. Mereka menerima pemberian Bapak Udin dengan suka cita musim bunga. Udin patut berbangga.

Di tengah ruang tamu yang kosong tanpa tamu. Ia duduk dengan melipat kaki. Satu kaki ditumpangkan pada yang lain. Ketiga pegal menghimpit, kaki berikut ditumpangkan ke yang lain. Matanya nanar menatap ke pintu rumah di seberang jalan. Pintu rumah yang penghuni laki-lakinya telah berhasil dengan gemilang menertawakan Udin. Tertawa yang ingin dibalas dengan sekian capaian dalam bentuk piagam, sertifikat, tumpukan harta, pangkat dan sekian atribut lainnya. Ternyata, capaiannya membawa Udin ke lembah suka dan duka yang semu. Ia sedang menyiksa dirinya sendiri. Ia sedang menzolimi dirinya sendiri. Ya, dia juga murka pada dirinya sendiri. Tapi, siapa yang perduli?

Udin sedang nelangsa, bisik burung kenari cantik itu kepada laki-laki yang sudah dipanggil Safa dengan sebutan Abi. Bagi seorang Safa, panggilan Abi dan Abimanyu tak ada bedanya. Dia memanggil orang yang sama. Beda panggilan bukan untuk mengarah kepada beda yang sebenarnya tetapi untuk menunjukkan bahwa sebagian dari keseluruhan Abimanyu tetap menjadi seutuhnya Abimanyu. Ya, cinta tak membahas persamaan dan perbedaan. Tetapi lebih kepada serasinya padu padan. Serasi tidak pada banyaknya kalimat yang kau bahasakan pada saat berkomunikasi. Tetapi, lebih pada pilihan jalur makna komunikasi yang dibangun. Kau berkomunikasi hanya dengan mengandalkan bahasa bibir atau bahasa hati. Itu yang belum dipahami oleh Udin. Sehingga istri moleknya meradang ketika ia membeli dipan bagus untuk adik perempuannya yang baru ditinggal suami merantau ke Malaysia.

Taman Puri, 6 Januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Mantap pentigrafnya Bu......salam sukses

06 Jan
Balas

Wow .... diksinya luar biasa. Salam sukses dan salam literasi, Bun.

06 Jan
Balas



search

New Post