juwita rihasnita

Menulis bagian dari caraNya memperpanjang usia... Meski raga tidak lagi dibumiNya...

Selengkapnya
Navigasi Web
Ungkapan Tulus itu ....

Ungkapan Tulus itu ....

Pukul 10.40, waktunya anak didikku bersiap untuk pulang. Seperti biasa, jam pulang adalah jam yang dinanti anak-anak. Masing-masing sibuk dengan merapikan peralatan dan bangku mereka.

" Berdiri, pakai tasnya, rapikan bangkunya!" perintah Haris yang hari ini menjadi piket kelas.

" kepada ibu beri salam, selamat siang buuuk!" Cemprang suaranya.

" Selamat siang anak-anak, hati-hati di jalan." senyumku sambil berdoa mengiringi langkah mereka keluar dari kelas.

Satu per satu mereka menyalamiku dan bu Ida. Asisten kelasku.

Saat Amel selesai menyalamiku, Amel meletakkan kertas di atas meja dekat papan tulis lalu mendatangi bu Ida dan membisikkan sesuatu.

Aku senyum saja dengan tingkah anak yang satu ini. Anaknya memang punya "kelebihan berbahasa" dibanding teman-temannya.

Selesai anak-anak bersalaman, Bu ida menghampiriku. Aku sedang rebahan di Sudut Baca kelasku. Sudut baca ini kami gelar tikar agar anak-anak bisa sambil lesehan baca bukunya. Kalau jam pulang begini, lokasi ini jadi tempat rebahan istirahat kami.

" Bu, ada surat untuk ibuk dari Amel." kata Ida.

" Loh, koq Amel tidak beri langsung ke ibuk da?" Tanyaku.

" Takut buk, katanya." sambil tertawa Ida menjawab.

Kuperhatikan surat dari Amel. Kertasnya dua lembar. Dilipat menjadi empat bagian. Di lipatan luarnya ditambahkan lipatan kertas lain lalu dituliskanlah namaku. " Ibuk Juwita " begitu tulisannya.

Ku buka bagian pertama, tulisannya"ibu Juwita Cantik "diberi aksen lengkungan.

Bagian ke dua " IbuJuwita Cantik" pakai aksen lengkung juga

Bagian ke tiga " Ibuk ( pakai k) Juwita kami bangga padamu."

Bagian ke empat " Kami sayang Ibu Juwita

Ibuk Juwita Engkaulah membahagiakan kami." ditambah gambar orang sambil nunjuk papan tulis dengan angka-angka.

Kata Syahrini, " Sesuatu ya". Ya, sensasi bahagia,haru,berkemul dalam hati.

Mendapatkan ungkapan dari murid itu adalah anugerah indah bagi guru. Ungkapan tulus yang dinyatakannya adalah boleh jadi ikatan hati yang dirasakan oleh anak didik itu sendiri. Maka selayaknya guru senantiasa menebar cinta bagi semua anak didiknya. Menebar cinta bagi guru adalah memberi harapan, memberi teladan dan menebar kebahagiaan.

Jadi teringat dengan ungkapan Ki Hajar Dewantara

"Jangan setengah hati menjadi guru. Karena anak didik kita telah membuka sepenuh hatinya untuk kita."

Sudahkah kita membuka hati sepenuhnya untuk mereka?

Semoga ...

Sebab kita tak tahu pasti entah anak didik kita yang mana nanti menjadi sebab beratnya timbangan kebaikan kita di hadapanNya.

Oleh karenanya, mari kita buka dengan tulus hati kita menerima mereka dengan keragaman watak dan potensi.

Lalu, hampir pasti kita akan mendapatkan ungkapan tulus dari mereka.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post