SPG
Masih celotehan seputar peristiwa kongkow. "Ne, ada diskon loh, tertarik ga?" tanya Sang Penolong. Wow! Diskon? Siapa pula yang tidak tertarik meskipun sekedar window shopping (bahasa bulenya sih gitu). "Boleh, ayo!" sahutku sambil mengkalkulasi perkiraan budget.
"Lumayan, ne, beli 6 dapat 6" lanjut Sang Penolong dengan bahasa promosi. " yo, wis, take it!" Jawabku. Sambil menunggu Sang Penolong antri di barisan tim pemburu discount, aku duduk di kursi panjang di depan toko, yang memang disediakan oleh pengelola.
Tepat di depan toko yang sedang menggelar discount, nampak SPG (sales promotion girl ) penjual rokok sedang wara-wiri di tepi jalan raya. Tak kenal lelah dan tidak putus asa, terus saja menawarkan rokok kepada setiap pengendara yang lalu lalang, terutama kendaraan pribadi.
Tak luput, para ojekers dan bajajers juga mendapat senyum penawaran, dan mungkin karena tidak enak hati, atau kasihan pada para SPG tersebut, akhirnya mereka membeli. Bahkan lebih laris menjual pada ojekers dibandingkan pada para pengendara mobil.
Ku amati, seragam yang "Wow" seragam yang bisa dibilang di luar kelaziman. Dandanan yang cetar, dan lekukan tubuh yang nyaris sempurna, karena melekat sangat pas dengan "seragamnya".
Ditengah terik matahari, debu jalanan, bahkan godaan dari para pengguna jalan, mereka hadapi dengan sabar. Ah, kebetulan ada satu orang SPG yang menuju ke arahku, sepertinya ingin istirahat sejenak.
Sambil basa-basi kutawarkan permen yang memang selalu ada di dalam tas. "Silahkan, mbak!" Ucapku sambil mengulurkan permen dengan tangan kanan. "Terima kasih" ucapnya sambil mengambil satu butir permen dari tanganku.
"Mba, ga cape kerja begini?" tanyaku, yang memang terbiasa to the point. "cape sih, mba, tapi cuma pekerjaan seperti ini yang bisa saya jalani, lumayan bisa mencukupi kebutuhan sendiri, apalagi di Jakarta, semua bayar" jawabnya panjang lebar.
"Ayo, ne, udah selesai!" Ucap Sang penolong yang ternyata sudah menunggu sambil berdiri di belakang kursi , sejak tadi. Padahal aku masih ingin ngobrol banyak dengan mbak SPG. "Mba, maaf ya, saya duluan, mari.....!" Ucapku padanya sambil berpamitan. "Iya, mbak, terima kasih atas permennya" jawabnya. "Sampai ketemu lagi!" sahutku, sambil melambaikan tangan karena Sang Penolong sudah lebih dulu melangkah.
Iseng, 19 Januari 2018
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Salam ya buat Sang penolong
Sang Penolong alias driver setia antar jemput, alias adik cowo. Siap, bun, salamnya sdh disampaikan. He......he.....,
Sebenarnya kasihan juga sama SPG semacam itu, ya Bu?
Iya, pak. Apalagi persepsi sbagian masyrakat sdh kadung negatif, meskipun hanya segelintir sj.
Terkadang suka ga enak melihat para SPG rokok Bu, karena dandannya sangat aduhai dengan paras yang cantik, saya mah jengah bu
Layaknya model yg berjalan di catwalk, kadang menawarkan rokok sampai ke pelosok warung, krn target mesti tercapai. Kasian, blm lagi tangan yg "ramah" (rajin menjamah) bagian tubuh tertentu, yg mungkin sungkan untuk mereka tampik.
Hmmmmmmmmm ...Kasihan Si-SPG
Tampilan bak artis, tp penghasilan tipis, tp mnurut mereka, "sdh resikonya". Miris...