Panggilan Haji
Panggilan Haji
Sebenarnya dari dasar hatiku yang paling dalam, ingin sekali aku melaksanakan ibadah haji. Sebagai seorang kepala sekolah yang masih single, aku tidak memiliki kesulitan dalam keuangan untuk ibadah haji ke baitullah. Hal yang membuatku sungkan karena aku memiliki rasa tanggung jawab untuk mengawasi kegiatan belajar mengajar di sekolah yang aku pimpin. Baik itu mengawasi guru, karyawan maupun siswa setiap harinya di sekolah yang aku pimpin. Hal Inilah yang memberatkan hatiku dan mengganjal hatiku selama ini.
Pada suatu hari keinginanku untuk ke baitullah sudah tak terbendung lagi, apalagi setelah melihat keluarga besarku berangkat semua untuk ibadah haji.Kakekku terkenal di desanya sebagai pemuka masyarakat yang memiliki harta yang berlimpah. Makanya seluruh anak dan mantunya dibiayai oleh kakekku untuk melaksanakan ibadah haji.
Selama keluarga besarku yaitu kakek nenek, paman bibi dan ibu bapakku melaksanakan ibadah haji, Aku diminta mengawasi Pondok pesantren kepunyaan Kakekku, di samping itu juga aku diamanatkan oleh paman dan bibiku mengawasi keluarganya, serta yang tak kalah penting mengawasi Keluargaku sendiri, kebetulan di rumahku ada seorang adik yang perlu di dampingi. Apalagi setiap malam di rumah orang tuaku diadakan doa dan zikir untuk mendoakan keluarga besar yang sedang ibadah haji, acara ini dihadiri para saudara, kerabat dan tetangga.
Akhirnya dengan memberanikan diri, aku ijin dan pamit kepada pengurus yayasan yang mengangkatku sebagai kepala sekolah." Bapak, bolehkan saya ijin tidak melaksanakan tugas di sekolah Pak" Pintaku kepada Bapak pengurus Yayasan di sekolahku." Lalu pengurus yayasan bertanya kepadaku ,"Memangnya Ibu mau ijin ke mana? " Lanjut kujawab, " Saya mau melaksanakan ibadah haji Pak." Alhamdulillah, dengan senang hati ternyata pengurus yayasan di sekolahku sangat baik hati dan mengijinkan aku ibadah haji.
Tahun 2003 aku mendaftar ibadah haji di wilayah Tangerang. Hampir setiap minggu aku melaksanakan praktek manasik, tujuannya untuk memberi pembekalan agar pelaksanaan ibadah haji nanti dimudahkan dan berjalan dengan lancar. Dalam manasik ini diajarkan bagai mana cara tawaf, cara melempar jumroh, wukuf, berlari kecil di Sofa- Marwah dan membaca doa- doanya serta amalan - amalan lengkap lainnya.
Rupanya Allah belum mengizinkan aku ke baitullah, pada tahun 2003 ada sekitar 3000 jamaah haji terkena waiting List. Ada kebijakan baru dari pemerintah tentang waiting List atau daftar tunggu ibadah haji, calon jamaah yang tertunda ini akan diberangkatkan setahun berikutnya. Kebetulan dari KBIH Tangerang satu rombongan haji, yang terkena waiting list yaitu: Aku, Mas Bambang dan mba Iin.
Rasa penasaran dalam hati berkecamuk, akhirnya Aku, Mas Bambang dan Mba Iin mencari peluang untuk mencari kuota haji yang kosong. Berbagai cara kami lakukan , akhirnya kami mendapat kuota kosong di daerah cikole Sukabumi, dengan membuat KTP Sukabumi ,akhirnya kami bisa membuat paspor hijau. Aku bertanya kepada Mas Bambang," Tidak bahayakah Mas, kita menggunakan paspor hijau untuk ibadah haji?" Ada keraguan yang berkecamuk di hati kami. Kami faham pergi haji dengan paspor hijau itu menyalahi aturan.
Segala usaha telah dilakukan, Aku sadar bahwa kalau belum panggilan haji itu datang dan Allah belum mengijinkan, apapun yang kita lakukan akan sia- sia. Akhirnya kami pasrah menerima keputusan waiting list.
Awal januari 2005 aku, mas Bambang dan mba Ii nn terdaftar dalam KBIH wilayah Bogor. Setiap minggu kami melaksanakan manasik haji di Cibinong. Kebetulan di KBIH rombongan ini kebanyakan ibu- ibu janda yang sudah cukup tua. Aku lah yang paling muda usianya di antara rombongan haji ini.
Tanggal 5 Januari 2005 akhirnya aku berangkat ibadah haji dengan rombongan haji Al Falah Cibinong. Sebelum berangkat haji tradisi di daerahku, yang pergi ibadah haji selalu dilepas dengan acara ceremonial yaitu pembacaan al quran dan kumandang azan.
Masih terasa di telingaku sekarang, bagaimana aku diazankan waktu dilepas untuk ibadah haji. Air mataku bercucuran, mendengar suara azan untuk melepas aku pergi ibadah haji. Sambil berdoa dalam hatiku, " Ya, Allah .semoga aku dilancarkan, dimudahkan dan diberi kesehatan dan keselamatan dalam ibadah haji dan aku bisa kembali lagi ke tanah air dengan selamat , Aamiin YRA."
Perjalanan ibadah haji ini merupakan pengalaman pertamaku. Perjalananku naik pesawat juga pengalaman pertamaku, pesawat yang aku tumpangi ini adalah pesawat Saudi Arabia. Pesawat arabia ini sangat besar, terbangnya juga sangat halus, pramugari dan pramugara nya sangat cantik, ganteng dan ramah- ramah dalam melayani penumpangnya.
Perjalanan di pesawat dari Indonesia ke Mekah itu ditempuh kurang lebih 9 jam. Dalam perjalanan di pesawat ini aku mengalami peristiwa malam dan siang dalam suatu waktu, sungguh menakjubkan, MasyaAllah. Akhirnya kami mendarat di Bandara Arab Saudi. Lumayan lama juga proses pemeriksaan, cek dan ricek di bandara ini.
Setelah dari bandara, akhirnya aku dan rombongan naik bus ke penginapan. Sepanjang perjalanan kalimat talbiah " Labaik Allahuma Labaik" selalu berkumandang sambil air mataku bercucuran karena sedih, haru, bahagia berada di Baitullah.
Sesampai di kota Mekah aku kagum hotel- hotel tinggi menjulang tempat para jamaah haji menginap sangat bagus. Kebetulan aku dan rombongan menginap di hotel Misfalah yang letaknya tidak jauh dengan mesjidil Haram ,ka' bah . Aku dapat melaksanakan ibadah ke mesjid Haram dengan berjalan kaki.
Sepanjang jalan dari hotel Misfalah ke Mesjid Haram, di kanan kiri jalan banyak sekali orang berjualan di antara buah- buahan, makanan, masakan, perabot, pakaian, souvenir dan toko- toko emas.Sepanjang jalan itu pula banyak pengemis berkulit hitam beraksi.
Walaupun aku di Arab Saudi, aku selalu makan masakan indonesia. Karena lidahku sudah biasa makan masakan indonesia. Dengan mengeluarkan uang 5 Real ,Aku bisa makan tumis kangkung dan ikan cumi Asin pedas, penjualnya adalah orang - oran Madura. Mereka yang berjualan kebanyakkan ibu- ibu madura yang menggunakan cadar dan berpakaian gamis hitam- hitam. Para penjual itu kulihat banyak memakai gelang emas yang memenuhi lengannya. Aku juga biasa makan bakso dan Rawon di RM si DoeL, Restoran Indonesia .
Udara panas di Mekah membuat kerongkonganku kering. Makanya aku harus banyak minum air zam- zam dan menggunakan masker, dan tentunya jangan lupa banyak makan buah.Buah- buahan segar di Mekah sangat banyak dijual, di antara Kurma, jeruk, pisang dan anggur. Harga buah- buahan di sini sangat terjangkau.
Di sepanjang jalan banyak sekali orang- orang arab yang memberi sumbangan atau sedekah, minuman, kue, masakan. Masakan yang disumbangan atau di sedekahkan kebanyakan nasi kebuli dan potongan lauk Ayam dan ikan yang sangat besar.Jikalau roti yang disumbangkan ukurannya juga sangat besar.
Suara murotal bersaut- sautan di sepanjang pertokoan, dan ketika azan menjelang toko- toko ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya untuk beribadah shalat berjamaah . Sebaiknya jika kita ingin shalat wajib di mesjid haram, harus di awal waktu, sebab jika azan sudah berkumandang , kita akan shalat di jalan raya karena mesjid sudah Full dengan jamaah yang datang dari pagi, mereka beritikaf agar bisa shalat 5 waktu di mesjid Haram.
Aku dan ibu- ibu rombongan hajiku selalu tiap pagi ke mesjid haram untuk shalat 5 waktu. Karena datang diawal waktu aku selalu dapat posisi shalat pas di depan kabah. Air mataku bercucuran , terharu bisa shalat menghadap ka' bah di depanku secara langsung.Karena biasanya cuma bisa melihat ka' bah hanya di sajadah.
Aku selalu membimbing dan mengawal ibu-ibu janda yang sudah tua ,dalam rombongan untuk ibadah. Waktu tawaf mereka memegang tanganku dan punggungku agar mereka tidak terpisah dalam rombongan.Alhamdulillah, Allah selalu memberi jalanku, setiap keliling tawaf aku selalu berputar memegang kabah sehingga sajadah yang aku tempelkan ke kab'ah menjadi wangi ka'bah.
Ketika shalat di depan ka'bah, rasa persaudaraan muslim sedunia terasa sekali. Baik itu muslim Turki, Jepang, Irak, Pakistan , India, Nigeria ,Arab dll sangat baik- baik dan ramah- ramah kepadaku. Kadang mereka memberiku kenang- kenangan atau makanan...tak segan- segan mereka minta tolong kepadaku untuk berfoto ria.
Pada suatu kesempatan, ibu- ibu rombongan hajiku sedang berfoto di mesjid Haram, tiba- tiba kamera ibu disita oleh askar yang bertugas di sekitar mesjid Haram. Bu Mariam meminta tolong kepadaku, "Tolongin ibu ya Neng! Kamera ibu di sita oleh askar." Akhirnya Aku dan bu Marian ke Sekretariat Mesjid Haram, alhamdulillah kamera bu Mariam bisa aku ambil kembali." Waktu ibadah haji saat itu memang ketat sekali. Kami jamaah haji, setiap kali mau masuk ke mesjid Haram selalu diperiksa. Jika kedapatan kita membawa hp atau kamera maka akan disita oleh askar.
Ibu Hj.Mariam salah satu rombongan haji bersamaku, beliau lah yang paling dekat denganku, kemanaku pergi beliau selalu ikut dengan ku walaupun tidak sekamar denganku. Ketika bu Mariam mau menghubungi saudaranya di Indonesia, beliau selalu mengajak aku menemaninya ke warnet. Ketika kesulitan memakai pakaian yang berseleting, beliau selalu meminta tolong padaku. Ya maklumlah karena sudah sepuh,harus selalu aku bantu.
Pada suatu kali rombongan kami berjalan menuju Mina ,jalan sangat macet sekali disertai hujan deras sekali. Akhirnya setelah hujan reda, rombongan kami turun dari bus dengan berjalan kaki. Pada saat itu juga bu Mariam terlepas dari rombongan kami. Ternyata bu Mariam hilang, rombongan haji kami menjadi panik. Kata Mas Bambang, " Bagaimana ini kok bu Mariam bisa hilang?" Akhirnya kami melaporkan ini ke kantor polisi terdekat. Alhamdulillah, esok harinya bu Mariam kembali ke hotel dengan diantar seorang polisi.
Waktu mabit di Muzdalifah udara malam sangat dingin sekali. Tak terasa darah menetes dari hidungku. Ternyata aku mimisan karena udara sangat dingin di sini. Padahal aku sudah menggunakan mantel, sarung tangan, masker. Ibuku berpesan kepadaku," Nanti klo mabit di Muzdhalifah waktu mengambil kerikil jangan lupa senter digunakan ya, soalnya gelap !" Ternyata tahun 2005 mabit di Muzdalifah, keadaan sudah terang benderang seperti siang hari. Beda dengan ibuku yang berangkat haji tahun 1998. Pada waktu ibuku pergi ibadah haji, mencari kerikilnya kondisinya masih gelap.
Setelah Mabit di Muzdalifah dan mendapatkan kerikil. Rombongan kami siap- siap melepar jumroh melewati terowongan Mina. Suara deru kipas angin besar, saking besarnya botol- botol aqua kosong dan sendal jepit menempel di baling- baling kipas angin. Kipas angin itu menyerupai baling- baling pesawat yang sangat besar. Di setiap terowongan deru suara kipas angin menambah semangat kita untuk melempar jumroh ,se akan- akan kita mau berperang di jalan Allah, Allahu Akbar !!
Perbedaan Haji dengan umroh, yaitu kalau ibadah haji, kita melaksanakan wukuf di Arofah. Pada saat di Arofah aku berteduh di tenda- tenda sederhana , waktu melaksanakan wukuf. Beda sekali dengan di Mina tenda- tendanya dibuat permanen , sangat indah dilengkapi Ac dan air Zam - zam di setiap sudut tendanya.
Setelah melaksanakan ibadah haji, tak Lupa aku mengikuti program Ziarah ke berbagai tempat di antaranya ke tempat qisos, pemotongan unta, ke berbagai mesjid - mesjid bersejarah, Jabal uhud dll. Aku masih ingat waktu di jabal Rahmah, tepatnya tanggal 29 Januari 2005 hanya bertemankan Unta,aku merayakan hari Miladku berfoto ria bersama Unta. Aku mengucapkan rasa syukur yang mendalam karena masih diberikan nikmat panjang umur dan nikmat sehat dan nikmat dapat melaksanakan ibadah haji.
Setelah selesai semua kegiatan ibadah haji, tak lupa aku tawaf wada yaitu tawaf perpisahan . Begitu berat, begitu sedih ketika aku melaksanakan tawaf wada. Aku berdoa dalam hati, " Ya Allah, Semoga Aku dan keluargaku dapat kembali lagi ke Baitullah, Aamiin Ya Allah ," Selanjutnya Aku dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Madinah. Rombongan haji aku merupakan Gelombang kedua, maksudnya ke Mekah dulu baru Ke Madinah. Suasana di mesjid Madinah gelombang kedua ini agak sepi. Di Mesjid banyak sekali jamaah dari keluarga- keluarga Arab dengan membawa putra- putri kecilnya shalat jamaah di Mesjid.
Udara di Madinah Lebih dingin dibandingkan dengan di Mekah. Hotel tempatku tinggal di Madinah sangat mewah dibandingkan dengan di Mekah. Hotelnya sangat dekat sekali dengan Mesjid Nabawi.
Setelah kegiatan ibadah di Madinah selesai. Tiba saatnya rombongan kami kembali ke tanah air. Semua temanku saling berpelukan dan bermaaf- maafan dan kami berpisah ketika sudah di Bandara soekarno hatta. Masing- masing berpisah mencari keluarga yang menjemputnya.
Alhamdulillah....Setelah saya melaksanakan ibadah haji, rezeki ku datang ber tubi- tubi.Pertama aku diangkat menjadi Guru PNS di Dki Jakarta. Setahun kemudian Alhamdulillah , aku diberikan jodoh. Setelah 3 bulan menikah, Alhamdulillah aku diberikan momongan . Ya Allah, Alhamdulillah Wa Syukurlah...
Nikmat mana lagi yang kau dustakan...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Thanks
La baik Allohumma Labil..
# La baik