Herlina Indrawaty

Herlina Indrawaty,S.Pd.M.Pd. adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Tanjung Morawa, Deli Serdang Sumatera Utara. Lahir dan besar di Medan. ...

Selengkapnya
Navigasi Web
Ilalang Menghalangi Pandangan

Ilalang Menghalangi Pandangan

35.Rindu yang Terobati

Wanita itu berdiri dengan angkuhnya di depan pintu. Menatap tajam ke arahku, kemudian beralih ke Mas Rasya yang baru saja memejamkan matanya. Aku bangkit menyambutnya, kemudian menyilakan duduk.

“Kenapa kamu menolak Rasya dipindahkan ke rumah sakit yang difasilitasi kantor? Memangnya, kalau ada apa-apa dengannya, kamu siap tanggung jawab?” Aku diam menunduk, menahan cecarannya kepadaku. Mas Rasya terbangun ketika mendengar suara yang berisik.

“Ada apa Di, kenapa ribut sekali?” ujarnya menatapku. Mbak Tika yang duduk di sofa bangkit, kemudian berjalan mendekati tempat tidur.

“Kamu harus pindah rumah sakit, aku akan bicara ke dokter!” tegasnya. Mas Rasya menatap Mbak Tika, kemudian menghela napas pelan.

“Tidak usah Mbak, disini saja. Dokter Yanuar merawatku.” Mbak Tika menggeleng, dia mulai marah.

“Kalian ini, sudah tidak bisa diatur lagi. Apa sudah merasa tidak punya Mbaknya lagi? Sombong sekali, merasa bisa hidup tanpaku.” Mas Rasya terlihat diam, kemudian menatapku. Aku menggenggam tangannya, berusaha menenangkannya. Mbak Tika mengeluarkan gawai, kemudian menelepon seseorang.

“Dian, jadi istri itu harus bisa jadi penengah dalam keluarga, bukannya malah mengajari suami melawan sama kakaknya!”

“Astaghfirullah!” batinku. Teganya mengatakan itu. Perih rasanya dada ini. Mas rasya menekan tanganku, agar aku diam. Kulihat Mbak Tika keluar ruangan, beberapa menit kemudian muncul bersama dr. Yanuar.

“Pak Rasya, kalau mau pindah rumah sakit, silakan. Bu Kartika sudah menyelesaikan administrasinya.” Ujar dr. Yanuar lembut. Kemudian supir Mbak Tika datang membantuku membereskan barang-barang. Seorang suster melepas infus di tangan Mas Rasya, kemudian membantu mendorong kursi roda yang diduduki suamiku. Aku mengikuti mereka, sementara Mbak Tika sudah jalan duluan.

Lagi-lagi kami mengalah dengannya. Mas Rasya tidak mau ribut, begitu juga denganku. Mas Rasya berada di mobil Mbak Tika, sementara aku mengemudikan mobil sendiri mengikuti dari belakang. Sesampai rumah sakit, dokter dan perawat sudah menunggu untuk membawa suamiku ke ruang perawatan. Mungkin, dr.Yanuar sudah menelepon rumah sakit.

Saat Mas Rasya diperiksa, Mbak Tika berbicara dengan dokter. Meminta agar diberikan pengobatan dan pelayanan yang baik untuk adiknya. Dokter dan perawat mengangguk hormat. Setelah selesai pemeriksaan, Mas Rasya dibawa ke ruangan. Kulihat Mbak Tika masih mengikuti kami. Aku sebenarnya letih dan ingin istirahat.

“Dian, kamu pulang saja dulu. Tentunya kamu capek, apalagi dengan perut besar begitu. Biar diantar supir saja,” ujarnya memerintahku. Mas Rasya mengangguk, dia memintaku istirahat di rumah. Besok kalau mau ke rumah sakit, badan sudah segar, itu katanya padaku. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkannya, tapi perutku terasa kram.

Perasaanku sedikit tenang ketika Mbak Tika mengatakan akan menggantikanku menjaga adiknya. Kurasa ada baiknya juga, hubungan mereka akan baik kembali. Di rumah, aku agak gelisah, tetapi Mas Rasya menelepon memintaku agar segera istirahat. Permintaannya kuturuti, karena memang badanku membutuhkannya.

Setelah dua hari dirawat, kondisi suamiku semakin baik. Aku tidak tahu, apakah obat yang diberikan atau karena Mbak Tika yang selalu hadir dengan membawakan makanan dan buah-buahan. Yang penting lagi, mereka seperti tidak bosan-bosannya berbicara. Suamiku yang tadinya terlihat lemah, kini semakin segar. Dokter mengizinkan pulang.

Mbak Tika ikut mengantar pulang. Sepertinya dia mulai berat berpisah dengan adiknya. Penyakit memerintahnya mulai kumat. Melihat rumah kami yang tidak begitu besar dan berada di pinggiran kota, kembali protes. Suamiku hanya tersenyum tetapi tidak menanggapi.

Keesokan hari, Mbak Tika muncul ke rumah pagi-pagi. Dia mengatakan akan ke Singapore untuk check up. Aku menatap wajahnya, kelihatan sedikit pucat. Setelah beberapa menit, dia kembali ke mobil dan membuka pintu penumpang. Aku dan Mas Rasya memperhatikan dari teras, Mbak Tika menurunkan seorang anak kecil. Aku menutup mulutku dengan wajah terkejut.

“Kayla!” suamiku berseru girang. Aku menahan kegembiraan, takut akan hadirnya rasa kecewa. Mas Rasya menarik lenganku untuk menyambut putri kami. Melihat kami, Kayla sepertinya ragu. Tapi Mas Rasya langsung menggendong, dan menciumi wajahnya. Aku terbawa suasana haru dan membasahi mataku dengan butiran-butiran airmata yang jatuh membasahi pipi. Mbak Tika hanya diam menatap kami.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Sedih lanjut

22 Mar
Balas

Alhamdulillaah, keren cerpennya, sukses bu Herlina Indrawaty

21 Mar
Balas

Keren Bunda. Izin follow dan jika berkenan bisa follow balik yaa

23 Mar
Balas

Aduh sedihnya. Untung ada Kayla yg dtg. Hati mas Rasya jd sembuh. Keren bgt bunda. Lanjuutt...

22 Mar
Balas

Semakin keren ceritanya...

22 Mar
Balas

Keren bunda. Salam sehat dan sukses selalu

21 Mar
Balas



search

New Post