Ilalang Menghalangi Pandangan
41. Rahasia di Amplop Putih
“Mas, bisakah kita tidak membuka amplop saat ini, aku masih ingin mendengar ceritamu,” ujarku memohon. Mas Rasya yang mengerti akan kata-kataku mengangguk, kemudian duduk di dekatku.
“Ternyata, dokter melarang Mbak Tika hamil. Kankernya saat itu sudah mulai membesar, tapi Mbak Tika ingin merasakan hamil dan punya anak,” jelas suamiku.
“Berarti, kanker itu sudah ada sebelum menikah Mas?” Suamiku mengangguk. “Dia merahasiakan dari Mas Romi.” Aku mendesah pelan. Sebagai wanita karir,
dan mandiri, ternyata Mbak Tika juga merindukan kehadiran seorang bayi. Sisi keibuannya hadir ketika menikah.
“Saat aku hadir di rumah sakit, kondisinya sudah tidak baik. Di tubuhnya sudah banyak alat bantu. Mas terkejut ketika bertemu Handoko, pengacara kantor di kursi tunggu. Dia rupanya disuruh Mbak Tika datang membawa amplop ini untuk diserahkan padaku.”
“Sepertinya, semua sudah dipersiapkan,” jawabku pelan. Suamiku menghembuskan napas, melepaskan beban yang mengganjal di dada.
“Kami juga akan bertemu setelah tujuh hari Mbak Tika, akan ada penyerahan surat-surat berharga menyangkut perusahaan.” Kugenggam tangannya, memberikan rasa nyaman atas apa yang terjadi belakangan ini. Mas Rasya pasti merasakan keletihan batin dan raga.
“Istirahatlah di sofa Mas, tubuhmu pasti letih,” ujarku memeluk bahunya. Suamiku tersenyum, lalu pindah ke sofa. Tidak berapa lama, sudah tertidur. Aku juga ingin tidur sebentar, mata ini terasa mengantuk setelah menyantap sarapan. Tetapi ketika akan memejamkan mata, pikiranku terganggu dengan amplop putih itu. Tidak, nanti saja kalau Mas Rasya bangun akan dibaca bersamanya, bisik hatiku.
Setelah ada beberapa menit memejamkan mata, kurasakan ada tangan yang menggoyang-goyang lenganku. Disusul dengan suara-suara memanggil, ”Mama, Mama!” Mata ini terasa berat membuka, tetapi panggilan itu sangat menggoda.
“Kayla?” Panggilku ketika mata sudah membuka sempurna. Gadis kecil itu tersenyum dan minta naik ke ranjang. Mimi membantunya untuk naik. Kayla langsung memelukku manja.
“Adik?” tanyanya kepadaku.
“Nanti ya, adik masih tidur. Suster akan membawanya untuk kita.” Tatapannya mengarah pada Mas Rasya yang tidur. “Papa!” serunya sambil menatapku. Senyumku melebar, Kayla sudah memanggil kami dengan benar. Mungkin, Bik Nung atau Mimi yang mengajarkannya.
Mas Rasya terbangun, ketika mendengar suara Kayla bernyanyi. Setelah mencuci muka, dia ikut bergabung dan bernyanyi. Hati seorang ibu mana yang tidak bahagia melihat kebersamaan ini. Sudut mataku menjadi hangat, ada bening di sana. Mas Rasya sesekali memeluk bahagia. Kayla ikut tertawa.
Siangnya, aku dan Baby R sudah dibolehkan pulang. Kayla terlihat senang, dia tidak mau jauh dari adiknya. Di rumah, setelah Kayla dan adiknya tidur, aku kembali teringat akan surat Mbak Tika. Segera surat itu kuambil di dalam tas.
“Mas, kemarilah. Aku akan membaca surat ini,” panggilku ketika Mas Rasya masuk ke kamar. Mas Rasya langsung duduk di dekatku. Dengan tangan gemetar, aku membukanya perlahan.
Dian adikku,
Saat kau membaca surat ini, Mbak sudah tidak bersama kalian lagi. Tapi, yakinlah Mbak sudah bahagia kini. Kuharap, kalian juga bahagia. Di, sejak dirimu hadir di antara aku dan Rasya, kurasakan perhatiannya padaku berkurang. Aku cemburu dan marah. Sehingga memperlakukanmu kurang baik. Maafkan Mbak ya Di.
Ada masa dimana aku merasa bahagia, ketika menikah dan hamil. Sayangnya, kehamilanku bermasalah. Rasa sedih, marah dan kecewa kehilangan bayi, membuatku frustasi. Kenapa dirimu bisa bahagia bersama Rasya dan Kayla? Sementara, aku yang ingin menjadi ibu tidak dibolehkan?
Kamu tahu, aku ingin sepertimu juga. Menjadi wanita yang sempurna. Ide menjadi mami Kayla muncul, ketika aku check-up ke Singapore. Waktuku tidak akan lama lagi, biarlah kalian mengatakan aku egois. Tapi menjadi seorang ibu sungguh suatu kebahagiaan bagiku. Sekali lagi, maafkan aku Di.
Setelah aku tiada, Kayla sepenuhnya milik kalian. Aku sudah membuat asuransi pendidikan dan kesehatan untuknya. Kelak setelah dia selesai kuliah, perusahaan akan menjadi miliknya. Kalian didik dia menjadi wanita mandiri dan kuat.
Di, aku sudah menyiapkan masa depan untuk kalian. Pengacara akan membacakan setelah 7 hari aku tiada. Rasya dengan dukunganmu akan kuat. Kuharap, tetaplah menjadi adik ipar yang kuat seperti yang kulihat selama ini. Kembalilah kalian ke rumah, karena rumah itu sudah kualihkan ke Rasya.
Di, sekali lagi maafkan Mbakmu ini yang sering menyakitimu. Apa pun itu, aku tetap sayang padamu, Rasya dan Kayla. Saat tiada nanti, hanya doa yang kuharapkan kalian kirimkan untukku.
Kartika
Saat selesai membaca, aku dan Mas Rasya tidak dapat menahan keharuan. Kami berpelukan dengan wajah yang basah. Wajah Mbak Tika membayang di pelupuk mata, ada senyum di bibirnya. “Ya Allah, ampunkanlah dosa-dosanya, terimalah dia di sisi-Mu.” bisikku dengan bibir bergetar.
Selesai
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Keren cerpennya, Bun. Salam literasi.
MasyaAllah cerita keren, setelah tertinggal beberapa episode masih nyambung, salam sehat bu dan sukses selalu bu
Ikut terharu membacanya. Cerbung-cerbung Bunda Herlina memang selalu keren. Barakallah
Menyedihkan sekali Bunda. Semoga makin sukses dan lanjutkan Bunda.
Sampai pada episode yang menguras rasa. Salut Bunda. Keren maksimal
AamiinAlhamdulillah Kayla kembali ke mama papanya.Ditunggu cerita selanjutnya bucan.
Waduh... Selalu keren dan cantik. Slam literasi Salam sehat selalu
Terharu membacanya Bunda. Salam sehat dan sukses selalu.
Ini terhenti di bulan Maret kisahnya, he.he. Ayo semangat nulis lagi
Segera dicetakan, bu
Ternyata itu penyebab mbak Tika punya sikap begitu
Amiin, mantap ceritanya bun
Happy end.Cakeep, mantap ceritanya, terima kasih bunda. Sukses selalu
Sedihnyaaa...hiks hiks meleleh aku. Kereennn bgt bunda. Smga mb Tika dtrma di sisi-Nya
Duuhh...sy td ngomong dlm hati. Kok ky nya pernah bc tlsn ini di blog Bunda. Ternyata memang sdh bc & komen jg. Hayuukk nls lg bunda
Selalu keren... semoga sukses selalu...
Ya Allah terharu bunda sayang...salam semangat selalu