Herlina Indrawaty

Herlina Indrawaty,S.Pd.M.Pd. adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Tanjung Morawa, Deli Serdang Sumatera Utara. Lahir dan besar di Medan. ...

Selengkapnya
Navigasi Web
Ilalang Menghalangi Pandangan

Ilalang Menghalangi Pandangan

10. Curiga

Setelah Mas Rasya berangkat kerja, aku ke belakang menemui Bik Nung. Tidak biasanya Mbak Tika absen sarapan pagi. Ketika kutanya Mas Rasya, dia juga tidak tahu. Pikiranku berkecamuk, merasa ada sesuatu yang terjadi. Apa ada hubungan dengan pertemuan dengan rekan bisnis Mas Rasya, atau Mbak Tika marah.

Di dapur, Bik Nung membereskan piring bekas makan. Melihatku ke dapur, cepat dia membersihkan tangannya, lalu mendekati.

“Mbak Dian, perlu apa?” tanyanya ramah. Aku menarik lengannya untuk duduk di kursi makan yang ada di dapur.

“Bik, kenapa Mbak Tika tidak ikut sarapan seperti biasa?” tanyaku pelan. Wanita di depanku itu diam, kemudian menghembuskan napas pelan. Sepertinya berhati-hati untuk menjawab pertanyaanku.

“Ibu sepertinya buru-buru, minta dibawakan bekal sarapan. Katanya ada pertemuan penting, gitu.” Kalau ada pertemuan penting, kenapa Mas Rasya tidak tahu, mereka kan satu kantor, kata hatiku bermonolog.

“Maaf Bik, wajah Mbak Tika gimana, maksudnya cemberut atau biasa?” cecarku lagi. Bik Nung, menatap heran. Lalu kujelaskan t kekhawatiran tentangnya. Bik Nung, mulai mengingat-ngingat. Terlihat dari mimik wajahnya. Lalu dia menggeleng. “Sepertinya biasa aja Mbak.”

Setelah merasa cukup, aku pamit ke kolam renang. Pagi ini, aku berniat berenang. Setelah beberapa hari ini, mualku sudah berkurang. Sejuknya air kolam, begitu kunikmati. Suara gawai, membuatku tersentak. Segera aku naik, dan mengambil gawai yang kuletakkan di atas meja.

“Assalamualaikum Mas, ada apa?” tanyaku sambil menyempatkan minum jus mangga yang disediakan Bik Nung.

“Waalaikumsalam Di. Mbak Tika, nggak ada di kantor. Tadi kata sekretarisnya, mampir sebentar, lalu pergi lagi.” Keheranan kembali melanda. Sesuatu yang tidak biasa. Kalau pun pergi, biasanya menelepon Mas Rasya memberitahu kepergiannya. Sepertinya ada yang disembunyikan dari kami, tapi kami tidak tahu apa itu.

“Mas, aku sudah tanya Bik Nung, katanya sarapan di kantor. Tadi minta dibawakan bekal.” Suamiku menyudahi percakapan, karena ada telepon masuk di gawainya. Aku menyudahi mandiku. Lalu ke kamar untuk menelepon Disa. Ada tugas yang akan kuberikan untuknya.

“Hai Di, pagi-pagi sudah telepon. Aku lagi sibuk nih,” gerutunya. Aku tahu, itu hanya gayanya saja. Kuminta dia menjauh dari ruangan, setelah kuberitahu untuk serius. Disa mengikuti perintahku.

“Dis, tolong kau amati Bu Tika, sepertinya ada yang aneh dengan tingkahnya. Nanti kalau sudah ada jawabannya, kabari aku ya. Nanti aku traktir kalau sudah dapat jawaban,” ujarku memutuskan hubungan telepon. Benar kata Disa, dia pasti sibuk pagi-pagi begini. Tidak enak mengganggunya dengan lama-lama ngobrol.

“Sebenarnya kalau mengikuti kata hati, baguslah Mbak Tika berubah. Sarapan bersama, dengan banyak aturan membuat kehilangan canda tawa di pagi hari bersama Mas Rasya. Suasananya terlalu kaku, sehingga suara denting sendok beradu yang terdengar. Tapi kegelisahan Mas Rasya, juga kegelisahanku juga sebagai istrinya.

Bersambung.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Ada apa dengan Mbak.Tika yang tidak seperti biasanya?

22 Feb
Balas

Makin asyik bund.

22 Feb
Balas

Ada apa dengan Tika??

22 Feb
Balas

Keren.....ku tunggu lanjutannya Bunda

22 Feb
Balas

ada kecurigaan... next, salam sehat n sukses sllu

21 Feb
Balas

Kegelisahan Mas Rasya, juga kegelisahanku juga sebagai istrinya. Aku juga gelisah menunggu sambungan cerpen ini. Semoga sehat selalu Bu Herlina.

21 Feb
Balas

Keren ibu. Izin follow ya ibu

21 Feb
Balas



search

New Post