Ilalang Menghalangi Pandangan
22.Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
Setelah seminggu mengurung diri di kamar, pagi ini Mbak Tika ikut sarapan. Wajahnya sudah tidak pucat lagi. Tapi sorot matanya kelihatan dingin. Senyum manis yang terlihat ketika pesta, lenyap sudah. Mas Rasya, menghentikan tanganku ketika hendak bangkit memeluknya. Tatapan suamiku meminta untuk tidak melakukan apa-apa.
Setelah sarapan, Mbak Tika bangkit dengan tidak mengatakan apa-apa. Aku jadi teringat saat pertama masuk di rumah ini. Apakah hal ini akan terulang kembali? Tidak terbayang akan suasana kaku di rumah ini, setelah kami mengubahnya menjadi hangat. Saat mengikuti Mas Rasya ke kamar, disampaikannya kalau Mbak Tika kehilangan bayi dalam kandungannya.
“Apa? Kenapa bisa terjadi Mas?” tanyaku dengan nada heran. Pantas saja tidak mau keluar selama seminggu, ternyata kedukaan yang dialaminya bertambah dengan hilangnya bayi dalam kandungannya.
“Kandungannya memang lemah. Ditambah lagi, jatuh ketika mendengar Mas Romi koma.” Aku tadi hanya menatap sekilas, tidak memperhatikan perutnya. Kehamilannya baru berusia 5 bulan, sehingga tidak kelihatan kalau tidak diperhatikan.
“Apa aku harus mengatakan sesuatu padanya?” Mas Rasya menggeleng, aku dimintanya untuk tidak ngomong apa-apa, kecuali dia mengatakan sendiri.
Kami berangkat ke kantor. Mbak Tika tidak muncul untuk dipamitin. Hanya Kayla dan pengasuhnya yang mengantar sampai teras. Gadis kecilku ini, semakin bertambah saja kepintarannya. Setiap kali kami berangkat, dia akan melambaikan tangannya, membalas lambaian tanganku.
Kalau sudah di kantor, aku dan Mas Rasya punya ruang kerja sendiri. Masing-masing sibuk dengan kerjanya. Sesekali, aku keluar menemui Disa. Mengajaknya ngobrol sambil minum teh. Kalau sudah bertemu, ada saja yang kami bincangkan. Apalagi, Disa baru saja menikah. Dia selalu menanyakan hal-hal baru yang tidak diketahuinya. Terkadang, kami membahas masalah fashion dan kuliner.
Sore, ketika pekerjaan Mas Rasya sudah selesai, baru kami pulang. Terkadang, aku pulang sendiri diantar supir kantor. Mas Rasya, masih lanjut dengan pertemuan malam hari dengan rekan bisnisnya. Mereka akan bincang-bincang sambil makan malam.
Saat sampai di rumah, biasanya Kayla akan menyambutku dengan tawanya yang khas. Aku dengan kerinduan seorang ibu, akan memeluk dan menciuminya. Tetapi, hari ini hal itu tidak kutemui. Ima, pengasuhnya mengatakan kalau anakku bersama Budenya di kamar. Aku tertegun, Mbak Tika mulai menyukai Kayla.
Menjelang Maghrib, Kayla diberikan pada Ima. Sementara, Mbak Tika tidak keluar. Aku cepat mengambil putriku, lalu membawanya ke kamar. Kayla begitu senang melihatku, berkali-kali dia mendaratkan ciuman ke pipiku. Rasa lelah di tubuh ini hilang ketika sudah bersamanya.
Saat Mas Rasya pulang, aku menceritakan tentang Kayla. Suamiku menatap sebentar, kemudian diam. Sepertinya dia berpikir.
“Di, mungkin Mbak Tika merasa kesepian. Kehadiran Kayla, dengan celoteh lucunya dapat menjadi obat baginya. Kuharap, kau tidak keberatan. Nanti, kalau sudah hilang kesedihannya, Mbak Tika akan biasa lagi. Apalagi, dia akan ngantor lagi. Aku hanya mengangguk, tapi dalam hati ada rasa tidak rela.
Ternyata, Mbak Tika keterlaluan. Kayla mulai dikuasainya. Dia tidak peduli apakah aku sudah pulang atau belum. Kayla terus bersamanya. Aku menangis menahan kerinduan akannya. Apalagi, suamiku tidak ingin aku mengambil putriku ketika bersama budenya. Semua itu untuk menjaga perasaan kakak iparku.
“Menjaga perasaan, Mas katakan? Bagaimana dengan perasaanku, aku ibunya!” seruku dengan suara yang sedikit keras. Mas Rasya menatapku, dia terkejut dengan suaraku. Aku segera meminta maaf. Terlanjur emosi, tapi aku tetap saja tidak terima. Aku merindukan kebersamaan dengan putriku.
Paginya, aku menyempatkan untuk bersama Kayla. Baru saja bersamanya, Ima datang membawa pesan dari Mbak Tika untuk dibawa bersamanya. Aku cepat menggendong anakku. Tidak rela rasanya kebersamaan kami sebentar saja. Tapi, lagi-lagi Mas Rasya membujukku agar tidak membuat masalah. Apalagi, ini masih pagi. Hatiku rasa teriris. Suamiku tidak dipihakku.
Setelah melepas Kayla, aku masuk kamar dan menghempaskan tubuhku di ranjang. Menumpahkan rasa sebak di dada, dengan tangis tanpa suara. Mas Rasya masuk ke kamar dan duduk di ranjang. Dia meminta maaf, karena tidak bisa membantah kakaknya. Dengan marah, aku bangkit.
“Kita pindah Mas, aku tidak sanggup berbagi kasih sayang Kayla dengannya.” Mas Rasya menunduk, meremas rambutnya. Tidak tahu harus melakukan apa. Dia lalu mengambil tubuhku untuk dipeluknya, tapi kali ini aku menolak.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Yang sabar Dian, semoga Mbak Tika segera bangkit lagi semangatnya dan kasih sayangnya terhadap Kayla tidak menjauhkan Kayla dengan Ibunya.
Benar-benar bikin pusing pala berbi. Repot juga ya, serumah dengan kakak ipar yang selalu harus dijaga perasaannya. Sementara, Dian harus selalu mengalah. Keren ide ceritanya, Bund.
rumit nya hidup ...
Waduh masalah lagi...sabarlah Dian...kasihan mbak Tika...Next
Ya Bu, semoga Dian bisa bersabar.
Buat dedek baru lagi, agar tak kesunyian
Aduhh...dilema yg membuat sedih. Lanjuut bunda.