Heriyati

Lahir di Kabupaten Malang 30 Mei , merupakan pendidik di SMP Swasta kota Pasuruan Jawa Timur. Sebagai pendidik, saya ingin membangkitkan budaya literasi me...

Selengkapnya
Navigasi Web
TERGORES LIDAHMU

TERGORES LIDAHMU

TERGORES LIDAHMU

Heriyati

Sarnia nama wanita berusia 40 tahun mendekat menangis menceritakan duka yang dialaminya. Aku Irabas, seorang penulis disebuah platform yang menulis cerita fiksi maupun non fiksi. Awalnya menulis untuk sekedar hobby dan iseng-iseng mengisi waktu luang. Akhirnya merambat jadi sebuah karya yang menghasilkan lembaran uang dan membuat dompetku nggak pernah gersang. Kuberikan tissu pada Sarnia agar tetesan air matanya segera diusap dan kusodorkan air pegunungan untuk menghentikan sesenggukkannya. Dia terdiam, kuawali membuka pembicaraan. ”Ada apa mbak, kenapa menangis?” tanyaku. ”Ceritakanlah siapa tahu aku bisa meringankan bebanmu”, ucapku. ”Saya sangat kecewa dan sedih mbak, niat semula hanya ingin membantu sambil mencari beberapa uang receh saja cobaannya begitu berat”, Sarnia memulai ceritanya. ”Apa yang terjadi mbak Sar?” tanyaku. “Begini mbak, diawali dari sebuah telpon dari teman lama saya yang dulunya satu lembaga, beliau pindah bekerja ke lembaga lain karena harus menentukan pilihan menetap di satu lembaga. Kebetulan tempat kerja saya di sekolah SMK Swasta sebagai pegawai perpustakaan”, jawab Sarnia. ”Teman saya itu guru bernama Bu Hera, meminta saya untuk membantu membenahi perpustakaan di sekolahnya baik secara administrasi maupun penataan ruang perpustakaan untuk menyiapkan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) dan akreditasi perpustakaan sekolah”, tutur Sarnia.

Datanglah Sarnia ke SMP swasta di mana Bu Hera bekerja di SMP Mahardika Malang. Di sana Sarnia dikenalkan dengan kepala perpustakaan yang bernama Bu Maysaroh. Mereka berbincang-bincang apa saja yang perlu dibenahi dalam perpustakaan, disaat mereka berbincang-bincang datanglah Bu Nunuk, guru wali kelas 9. Bu Nunuk mengambil gambar mereka bertiga Bu Hera, Bu Maysaroh dan Mbak Sarnia. Hasil jepretannya dimasukkan dalam grup washap guru SMP Mahardika Malang, diberi keterangan koordinasi administrasi perpustakaan. Nah dari sinilah kisah ini dimulai. Esok harinya Sarnia dapat kiriman whassap dari Bu Inul, Bu Inul adalah ibunya Cenul. Cenul merupakan pegawai perpustakaan di SMP Mahardika Malang. Cenul sedang cuti melahirkan. Bunyi wasshaapnya demikian, ”Mbak Sarnia makasih sudah bantu bersih-bersih dan benah-benah perpustakaan di tempat Cenul, Cenul tadi bercerita ada yang kasih tahu, nitip salam ke mbak Sarnia, maklum anak saya masih belum ada pengalaman. Alhamdulillah sudah dibantu”, kata Bu Inul dalam washapnya. Tujuh tahun Cenul bekerja di bagian perpustakaan SMP Mahardika Malang, tapi sama ibunya dibilang belum ada pengalaman. Sebenarnya basa-basi washaap itu tidak perlu, malah menunjukkan ketidakprofesionalnya Cenul dalam bekerja. Awalnya Sarnia tidak menanggapi washaap yang dikirim ibunya Cenul, karena Sarnia berniat membantu berbenah perpustakaan di sekolah Bu Hera, lama-lama risih juga karena banyak suara sumbang dan sindiran-sindiran tak enak didengar. ”Bu Hera, saya mau cerita tentang situasi di tempat kerja setelah dua kali datang membantu perpustakaan di sekolah ibu, ada suara-suara tak sedap dan kiriman whassap yang mengganggu pikiran saya dan itu dihubungkan dengan njenengan”, kata Sarnia. ”Sudahlah mbak abaikan saja, kalau ada yang tanya ya jawab yang sebenarnya, toh tujuannya baik agar perpustakaan SMP Mahardika Malang bisa tertata dan layak untuk dikunjungi, saya sangat berterimakasih karena Mbak Sarnia mau membantu”, jawab Bu Hera.

Tanpa disadari oleh SMP Mahardika Malang, Cenul dan ibunya mengikuti perkembangan Mbak Sarnia berbenah perpustakaan di sekolah Bu Hera. Entah apa yang membuat ibu dan anak ini ingin tahu apa yang dilakukan mbak Sarnia di SMP Mahardika. Berbagai cara mereka lakukan untuk mencari informasi apa saja yang sudah dilakukan Mbak Sarnia di SMP Mahardika. Sering Mbak Sarnia diwashaap pujian yang bersifat menyindir. Hingga suatu hari kepala sekolah Mbak Sarnia menanyakan kegiatannya di perpustakaan SMP Mahardika Malang. Malah opini yang tersebar adalah Mbak Sarnia mau menggeser posisi Cenul di SMP Mahardika Malang. Entah siapa yang membuat kabar menjadi simpang-siur ini.

”Bu Hera apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi semua ini, saya serba salah Bu”, tanya Sarnia. ”Bagaimana ceritanya mbak, mengapa sampai melebar begini, Mbak Sarniakan mengerjakan berbenah perpustakaan diwaktu libur, jadi tidak ada yang dirugikan masalah waktu, mengapa kepala sekolah ikut campur?” tanya Bu Hera. ”Saya sendiri juga tidak tahu Bu, tahu-tahu saya dipanggil bapak Kepala Sekolah, beliau akan menghentikan saya membantu di sekolah Bu Hera, saya tidak diizinkan untuk membantu perpustakaan SMP Mahardika Malang karena beliau mengira dengan keberadaan saya di SMP Mahardika akan menggeser posisi Cenul”, kata Mbak Sarnia. ”Oalah mbak masak iya seorang kepala sekolah berpikir sempit begitu, tidak berusaha mencari tahu keadaan yang sebenarnya, lagipula pekerjaan ini dilakukan di hari libur jadi tidak ada yang dirugikan di sini”, kata Bu Hera. ”Yang sabar ya mbak, nanti saya konsultasikan ke Bu Maysaroh selaku kepala perpustakaan bagaimana baiknya,” Ucap Bu Hera.

Bu Hera dulu adalah guru SMK swasta di tempat Mbak Sarnia bekerja, Mulai tahun ajaran baru ini Bu Hera hanya mengajar satu sekolah saja di SMP Mahardika Malang, karena jam ngajarnya sudah padat, selain itu di SMP Mahardika Malang kepala sekolahnya mengharuskan enam hari kerja, dengan berat hati akhirnya Bu Hera melepaskan SMK Swasta yang selama ini telah memberikan kesempatan mengajar dan pengalaman yang begitu berharga. Bu Hera merenungi apa yang disampaikan Mbak Sarnia, kasihan kalau Mbak Sarnia ditanyai dan dituduh yang macam-macam atas keterlibatannya dalam berbenah perpustakaan di SMP Mahardika, padahal tujuaannya hanya membantu perpustakaan menjadi cantik agar layak dikunjungi. Bu Hera berfikir mengapa bisa menjadi masalah yang melebar? Tanpa diketahui SMP Mahardika, di tempat Mbak Sarnia ternyata orang-orang yang tidak bertanggung jawab tadi menghubungkan keberadaan Bu Hera di sekolah tersebut. Bu Hera dan Mbak Sarnia dianggap bersengkokol untuk menggeser Cenul. Bu Hera memberikan solusi kepada Mbak Sarnia, abaikan saja apa kata orang yang penting hasil akhir perpustakaan SMP Mahardika menjadi bagus dan tidak ada niat menggeser posisi siapapun.

Karena Mbak Sarnia sudah tahu kondisi awal perpustakaan SMP Mahardika yang sangat memprihatinkan, tidak tersentuh ruangan dan administrasinya, yang ada hanya administrasi buku peminjaman buku siswa (buku paket) saja. Jadi Mbak Sarnia tetap semangat untuk berbenah perpustakaan, semua omongan yang gak enak didengar diabaikannya.

Tidak sulit bagi Bu Hera untuk mencari sumber permasalahan ini, karena Bu Hera adalah teman lama ibunya Cenul selama mengajar di SMK Swasta. Bu Hera paham betul karakteristik ibunya Cenul, bisa dibilang air beriak tanda tak dalam selain itu kegiatannya nempel sana nempel sini supaya dapat posisi yang aman. Ibunya Cenul merasa khawatir dari perilaku anaknya sendiri yang tidak bisa menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab si Cenul, jauh sebelum Cenul cuti melahirkan. Tugas administrasi perpustakaan tidak tersentuh sama sekali, mulai dari daftar inventaris, buku induk, katalog, sampai penataan ruangpun tidak dikerjakan. Kalau Cenul sudah melaksanakan tugasnya dia tidak perlu khawatir ataupun keberatan perpustakaan dibenahi siapapun. Ibunya Cenul tidak mau tahu kondisi dilapangan, bagaimana Cenul bekerja, dia beranggapan anaknya rajin dan bertanggung jawab dalam tugasnya. Harusnya sebagai orang yang bijak, ibunya Cenul bertanya atau menasehati anaknya, kalau Cenul sudah melaksanakan tugas dan kewajibannya atau belum, tidak perlu berprasangka buruk pada orang yang mau membenahi perpustakaan tempatnya bekerja. Eh, ini sebagai ibu malah menyesatkan. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek, harusnya sudah dapat menguasai pekerjaan dengan baik, ibarat orang kuliah sudah setara dengan S2. Bukannya bekerja sesuai tugasnya malah menyebar opini untuk menutupi kesalahannya seakan-akan Cenul yang menjadi korban. Padahal kalau sekolah mau tegas, Cenul harusnya ditegur karena buktinya sudah ada. Tidak disiplinnya Cenul dalam bekerja sedikit banyaknya dipengaruhi oleh kepala perpustakaan yang lama, Bu Ningsih sebagai kepala perpustakaan tidak membuat program kerja apalagi mengecek kelengkapan administrasi perpustakaan, jabatan kepala perpustakaan hanya sebagai tambahan jam untuk kebutuhan sertifikasinya saja. Bu Ningsih sebagai kepala perpustakaan yang lama juga tidak pernah menegur, bagaimana bisa menegur, sebagai kepala perpustakaan lama juga tidak tahu tugas kepala perpus itu bagaimana, lebih tepatnya tidak mau tahu. Kalaupun ada teman yang mengingatkan atau menanyakan tentang perpustakaan berantakan, Bu Ningsih bilang, gaji pegawai perpustakaan itu sedikit jadi tidak bisa menuntut pegawai perpustakaan, kasihan Cenul lagi hamil, dan blabla bla. Kemana saja selama tujuh tahun ini? Jawaban yang tidak masuk akal, akhirnya yang menanyakan bosan diam karena malas untuk berdebat. Selain watak Bu Ningsih tidak mau disalahkan juga kasar, jangankan teman, kepala sekolah saja dilawan. Parah memang.

Cenul sebagai pegawai perpustakaan SMP Mahardika yang merekomondasikan adalah Bu Hera, waktu itu ibunya Cenul minta tolong Bu Hera untuk mencarikan kerja. Tak lama setelah itu di SMP Mahardika membutukan pegawai perpustakaan, Bu Hera lalu menghubungi ibunya Cenul. Bu Hera sudah membawa Cenul masuk di SMP Mahardika malah difitnah. Bu Hera berprinsip becik ketitik olo ketoro, meskipun dengar kabar tak sedap tentang dirinya, Bu Hera tidak menghiraukan karena sumbernya tidak jelas. Biarlah mereka berkata apa, kalau akan melakukan kebaikan pasti ada aral melintang untuk menghalanginya. Entah ide dari mana penyebabnya apa, tiba-tiba Bu Maysaroh, Bu Ziah dan Bu Ningsih datang kerumah Cenul tujuannya minta maaf dengan kata lain tambayun. Alasannya mau membenahi perpustakaan tidak izin sama Cenul. Ada kejanggalan, orang tidak mengerjakan tugasnya malah dimintai maaf karena saat berbenah perpustakaan tidak izin pada Cenul. Apakah benar tindakan ketiga guru itu? Harusnya dinasehati, da keistimewaan apa Si Cenul? Mendengar tindakan ini Bu Hera sangat kecewa dan tersinggung merasa dikhianati, ditusuk dari belakang oleh temannya sendiri. Disaat kondisi di tempat kerja Mbak Sarnia tersebar isu Bu Hera dan Mbak Sarnia ingin menggeser posisi Cenul, malah guru bertiga ini datang ke rumah Cenul untuk minta maaf. Memangnya sekolah sudah melakukan apa pada Cenul sampai harus datang untuk minta maaf? Apakah berlebihan sikap Bu Hera kalau merasaa dikhianati? Harusnya kalau memang mau menyelesaikan masalah, semua yang terkait dipanggil ke sekolah, biar jelas akar permasalahannya. Ya jelas Cenul dan ibunya sumber akar permasalahan tambah melambung tinggi karena merasa diprioritaskan, kesalahannya ditutupi.

Keesokan harinya semua berkumpul, Bu Hera, Cenul, Bu Ziah, Bu Ningsih, Bu Maysaroh dan dewan guru lain serta didampingi bapak kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah ini. Dibuka oleh Bu Ningsih, kemudian Bu Hera dimohon untuk menyampaikan rasa kecewanya, Bu Hera menceritakan kronologis dari awal mengapa perpustakaan perlu dibenahi, sumber masalahnya adalah perpustakaan tidak terawat baik secara ruangan maupun administrasinya dalamnya. Harusnya pihak sekolah menasehati tentang tugas dan tanggung jawab Cenul sebagai pelaksanaan harian perpustakaan. Tetapi yang dilakukan Bu Ningsih, Bu Ziah dan Bu Maysaroh malah datang ke rumah Cenul untuk minta maaf dengan dalih klarifikasi. ”Tujuannya apa, Bu Ninsih, Bu Ziah dan Bu Maysaroh datang ke rumah Cenul, kenapa saya tidak diajak serta?” tanya Bu Hera. ”Klarifikasi, saya mengajak Bu Maysaroh karena Bu Maysaroh sebagai Kepala Perpus, Bu Maysaroh belum minta izin pada Cenul kalau mau membenahi perpustakaan, Bu Ziah saya ajak karena Bu ziah adalah mantan guru lesnya Cenul waktu sekolah”, Jawab Bu Ningsih. Bu Hera tersenyum kecut, mendengar jawaban Bu Ningsih, sungguh tidak masuk akal, kepala perpustakaan minta maaf karena belum izin ke bawahannya mau berbenah perpustakaan dan Bu Ziah diajak karena mantan guru lesnya Cenul waktu sekolah, jawaban yang mengada-ada. Mengapa Bu Hera tidak diajak?. Apa yang terjadi setelah itu sungguh diluar dugaan, Bu Hera digebrak dan dibentak oleh Bu Ziah dan Bu Ningsih, padahal disamping ada bapak kepala sekolah. Sungguh moralnya sudah tidak waras, pahlawan kesiangan berdalih untuk mendamaikan. Mereka tidak paham permasalahannya, tapi sok-sokan mau jadi pendamai. Bu Hera menahan diri, mengelus dada baru tahu hari ini kalau temannya adalah orang yang tidak punya hati . Bu Maysaroh yang melibatkan Bu Hera hanya cari aman, egois tidak bertanggung jawab, mudah dipengaruhi dan tidak punya pendirian. ”Ayo mbak Cenul sampaikan yang jadi uneg-uneg ceritakan semua!” ucap Bu Ziah. ”Saya sakit hati pada sikap Bu Hera, karena Bu Hera telah menjelekkan Cenul pada guru yang lain, Bu Hera juga pernah bilang kalau perpus administrasinya tidak dikerjakan”. Jawab Cenul sambil menangis. ”Datangkan saja siapa orangnya yang memberi informasi kalau saya menjelekkan kamu (Cenul) dan memang benarkan kalau administrasi perpustakaan tidak dikerjakan, yang ada hanya catatan pinjam buku siswa”, ujar Bu Hera. Kenyataannya tidak mengerjakan administrasinya perpustakaan kok masih mengelak, tidak tahu malu dan tidak tahu berterimaksih, ibarat air susu dibalas dengan air tuba. Sampai detik ini Cenul belum dapat membuktikan siapa orangnya yang diajak bicara Bu Hera untuk menjelekkan dia, memang orang itu tidak pernah ada, itu hanya rasa ketakutan Cenul akhirnya mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahannya. Semua terdiam, tuduhan yang terbukti fitnah tidak direspon, semua membisu. Bentakan dan gebrakan meja itu masih melekat dan gak akan pernah terhapus sampai kapanpun. Relung luka tetap menganga di hati Bu Hera. Pemicu terbebas, mulutnya sudah menfitnah tak dipermasalahkan.

Sepekan telah berlalu Bu hera jatuh sakit, hatinya terluka oleh lidah Bu Ningsih, Bu ziah, Bu Maysaroh dan Cenul. Cenul ditolong dicarikan pekerjaan, malah balasannya seperti ini, kacang lupa kulitnya. Kinerja Bu Hera untuk memajukan sekolah malah tersingkirkan oleh Cenul yang tidak pecus dalam bekerja. Genab satu bulan Bu Hera masih sakit. Teman baik, saudara dan tetangga berkunjung mendoakan dan menyemangati Bu Hera agar lekas sembuh dan melupakan semua kejadian yang memberatkan pikirannya.

Pas, 09062023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Terimakasih

13 Nov
Balas



search

New Post