Hazwan Iskandar Jaya

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LELAKI BERJUBAH PUTIH
PENJARA PENGASINGAN FORT MALBOROUGH

LELAKI BERJUBAH PUTIH

Lelaki berjubah putih itu tak lazimnya orang-orang di Dusun Tanjung. Matanya memancarkan warna kebiru-biruan. Hidungnya sangat mancung bagi ukuran pribumi. Kulitnya putih bersih. Rambutnya perak yang memantulkan cahaya putih susu. Tertutup kopiah putih kecil, seolah hanya menempel saja di kepalanya.

Anak-anak sebayaku sangat kagum melihatnya. Mungkinkah karena lelaki itu berbeda, atau karena keramahannya yang sungguh berlebih pada anak-anak, sehingga ia jadi pusat perhatian orang-orang di dusun kami? Di usianya yang hampir senja itu, hidupnya hanya untuk melayani Tuhan, begitulah kata orang-orang.

Sudah menjadi kebiasaannya, saban Jum’at sore, lelaki itu berjalan kaki menyusuri jalan di tepian rel lori motik, sebuah kereta api listrik pengangkut batu bara, untuk kemudian menuju Pasar Tanjung. Dan ia pasti melewati dusun kami, Bedeng Sentral, karena rel lori motik itu membelah dusun kami, sampai pada penampungan akhir batu bara di dusun Tegal Rejo.

Aku dan anak-anak Dusun Tanjung lainnya selalu menunggu lelaki itu. Mencegatnya bila ia lewat dan mengobrol sebentar dengan terpatah-patah, karena ia belum pandai benar berbahasa Indonesia. Ia akan mengeluarkan kembang gula dari saku jubahnya yang besar, yang sebelumnya kami harus berjuang untuk mendapatkannya. Ya... kami akan melewati masa pertarungan gajah melawan semut, sebuah pertandingan jari tangan, atau suwit namanya. Bila menang, kami baru akan diberi kembang gula itu. Dengan satu pesannya yang tak pernah berubah.

“Nanti kalo umurmu sudah 7 tahun, bersekolahlah di Talang Jawa, sekolah kami menerima anak-anak cerdas seperti kalian!,” begitu katanya kepada kami satu per satu. Aku membayangkan betapa menyenangkannya sekolah. Berkumpul dengan banyak teman sebaya atau dengan kelas-kelas lain yang lebih tinggi tingkatannya.

Usai menerima kembang gula itu, kami berlari-lari kegirangan. Meninggalkan lelaki berjubah putih itu yang tersenyum ramah. Pastinya lebih banyak lupa untuk mengucapkan terima kasih kami kepadanya. Dan ia tak pernah terlihat marah atau kecewa. Kecuali berjalan kembali menyusuri tepian rel lori motik yang panjang, bagai ekor naga yang nampak meliuk ke kanan atau ke kiri.

Ibu sudah menunggu di depan pintu. Seperti biasanya senyumnya yang selalu menyejukkan itu menyambutku dengan ramah. Aku mencium tangannya, sembari mengucap, “Assalamu’alaikum...”. Ibu menjawab dengan jawabannya yang khas.

“Kau pasti ketemu Pastor itu lagi, ya? Apa tidak bosan? Pasti kau hanya ingin mendapatkan kembang gula itu saja, kan?”, Ibu memberondong dengan beberapa pertanyaan menyudutkan.

“Kapan aku bisa sekolah, Bu? Katanya Pak Pastor, kami boleh bersekolah di Talang Jawa itu,” aku balik bertanya. Menatap wajah Ibu dengan serius. Aku ingin memperoleh jawaban sekarang.

“Di sana itu, Sekolah Katholik. Banyak anak-anak Cina yang bersekolah di sana. Ayahmu hanya seorang Prajurit rendahan. Apa bisa, ya?”, Ibu mencoba menjelaskan situasinya. “Sudahlah, kamu baru enam tahun. Tahun depan baru bisa masuk sekolah dasar. Sekarang, sudah hampir Maghrib, cepat mandi dan ke mushola untuk mengaji.”

“Jadi, aku boleh sekolah di Talang Jawa?!”

“Ya, siapa yang melarang!”

***

Sore ini sudah Jum’at ketiga kami menunggu lelaki berjubah putih itu lewat di tempat biasa kami mangkal. Sekarang sudah menunjukkan jam 15.30 WIB. Waktu sholat Ashar sudah menjelang datang. Kami, adalah sekelompok anak-anak Dusun Tanjung. Disamping Aku, ada Chairul yang kakinya kecil sebelah karena terserang polio sejak balita, Ucok yang keturunan Batak, Novriansyah yang pribumi, Santoso yang berdarah Jawa dan Elis yang Sunda, ada pula Rudi yang keturunan Tionghoa. Kami semua masih membisu. Mata kami tertuju ke arah barat daya, dimana dusun Talang Jawa berada di perbukitan Bukit Asam. Dan dari sana pula lelaki berjubah putih itu akan muncul, berjalan bersahaja sembari menebar senyumnya yang khas.

Entah sudah berapa banyak lori motik yang lewat mengangkut batu bara menuju penampungan terakhirnya. Dan ketika lori motik lewat, biasanya kami harus menyingkir ke tepian, agak jauh, agar tidak berbahaya. Tanah yang kami pijak pun bergetar-getar, karena beban muatan batu bara berton-ton beratnya. Jika tersambar, tentu tak alang kepalang. Nyawa pun bisa melayang.

Sudah nyaris putus asa, karena senja sudah menghampiri Dusun Tanjung. Itu artinya kami tak bisa berjumpa dengan lelaki berjubah putih itu untuk kesekian kalinya. Padahal kami rindu untuk bertarung dan mendapatkan hadiah kembang gula darinya. Aku hanya bisa mengangkat kedua bahuku, manakala teman-teman dengan mimik muka memelas seolah meminta persetujuan, apakah masih terus menunggu atau disudahi sampai di sini? Kesepakatannya adalah kami pulang. Bagiku, mushola tua belakang rumah Kepala Marga sudah pasti menunggu kedatanganku.

Ibu tahu benar raut wajahku yang kacau. Hanya Ibu yang bisa menenangkan batinku. Suaranya yang lembut dan roman senyumnya yang tak pernah berubah. Tulus dan ikhlas. Sembari membanting pantat di kursi rotan teras rumah, Ibu menimpali dengan menyemangati, “Mungkin Pak Pastor ada kepentingan, sehingga ia tak bisa jalan-jalan lewat di dusun kita.” Aku masih penasaran yang teramat sangat. Rasanya aku kangen dengan pertarungan gajah melawan semut, kembang gula dan kata-katanya untuk bersekolah.

“Tapi ini sudah minggu ketiga, Ibu. Apakah selama itu ia punya keperluan?”, aku masih penasaran dibuatnya.

Sejak itu, berminggu-minggu kemudian lelaki berjubah putih itu pun menghilang. Kami pun mulai bosan menunggu di tempat kami biasa mangkal, menanti lelaki berjubah putih itu lewat. Tak ada lagi harapan. Kami malah jarang berkumpul, karena tak ada lagi wahana dan kepentingan untuk kami berkumpul. Dulu, paling tidak kepentingan kami adalah menemui lelaki berjubah putih itu, dan mendapat kembang gula gratis darinya. Kini, kami kian jarang bersua, seolah semua sudah hilang tergerus kealpaan yang panjang.

Lelaki berjubah putih itu pun kian terlupakan.....

***

Impianku untuk sekolah di Talang Jawa akhirnya menjadi kenyataan. Di sekolah Katolik tertua itu, aku pun menemukan kesadaran baru. Bahwa di sekolah dengan disiplin yang ketat, telah menjadikan pikiranku makin terbuka. Anak-anak juga tak homogen di sini. Ragam suku dan agama berbaur menjadi satu, dan tak ada kasta. Kami memperoleh pelajaran budi pekerti luhur, yang mengajarkan kebajikan dan kebijakan sebagai anak manusia.

Pertama kali masuk sekolah hatiku berdebar kencang. Aku melihat seorang lelaki berjubah putih telah menunggu di pintu gerbang sekolah. Kurasa ia orang yang sama dengan lelaki berjubah putih yang saban Jum’at lewat di dusun kami. Tapi setelah kuperhatikan benar, ia bukan orang yang sama, meskipun postur, wajah dan matanya nyaris serupa. Juga keramahannya yang tulus, dan senyumnya yang khas. Lelaki itu dari Belanda! Juga sebagai pelayan Tuhan. Begitu kata guru-guru di sini.

Ia pasti sudah menanti anak-anak sekolah saban pagi. Menunggu di pintu gerbang sekolah. Tanpa jeda. Menyalami kami satu per satu dan mengacungkan jempolnya pertanda memberi pengertian kami sebagai anak yang baik dan penuh harapan. Sayang, ia tak pernah mengajak kami bermain gajah melawan semut. Ia juga tak punya kembang gula. Dan aku malu untuk menanyakannya.

Suatu hari yang tanpa sengaja. Guru mata pelajaran Budi Pekerti bercerita tentang para pelayan Tuhan. Katanya, di sekolah ini, yang menyatu dengan sebuah gereja tua peninggalan zaman Belanda, sudah memiliki 15 orang Pastor yang berganti-ganti. Aku mendengarkan dengan penuh seksama. Juga berharap mungkin salah seorang lelaki berjubah putih itu akan ikut diceritakan, walau selintas.

“Gereja ini sudah melewati satu setengah abad. Seratus lima puluh tahun usianya. Dan sudah 15 Bapak Pastor yang menjadi pelayan Tuhan di gereja ini. Ada yang sampai tuntas mengasuh dan meninggal, tapi ada pula yang kembali ke negaranya masing-masing,” Bu guru Santi menerangkan historia pelayan Tuhan di sekolah kami. Ia membawa sebuah album foto yang memuat Bapak-bapak Pastor yang bisa terdokumentasi dengan baik.

Dan aku diberi kesempatan pertama untuk melihat-lihat isinya. Aku pun berharap dapat menemukan foto lelaki berjubah putih itu. Benar saja! Aku mendapatkannya di salah satu bagian hampir akhir dari foto-foto dalam album itu. Lantas aku menanyakannya kepada Bu Santi, dimanakah gerangan sang lelaki berjubah putih itu? Bu Santi menatapku setajam pisau dapur. Jantungku seolah berhenti berdetak beberapa saat.

“Ini namanya Bapak Pastor Pater van De Chraft,” Bu Santi mulai menerangkan. Aku menghirup nafas dalam-dalam, agar gejolak laut perasaan di dalam dadaku dapat kukendalikan. “Beliau benar-benar pelayan Tuhan yang baik. Ia sangat penyayang terhadap anak-anak. Senang bermain dan memberi kembang gula. Sayang, ia sudah meninggal satu tahun yang lalu. Saat ia hendak menolong seorang anak yang hampir terlindas lori motik pengangkut batu bara. Kakinya justru tergelincir... Meskipun ia bisa menyelamatkan anak itu, ia justru yang tertabrak lori. Dan akhirnya Tuhan memanggil untuk kembali kepada-Nya,” Bu Santi berkisah dengan nada sedih.

Aku mendengarnya dengan menitikkan air mata...

Yogyakarta-Tanjung Enim, 2010

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Lelaki Berjubah PutihJudulnya sama persis dengan salah satu cerpen yang saya buat dalam buku kumpulan cerpen saya " Surat Rahasia," ..

28 Jan
Balas

Bisa sama ya... Penasaran mau baca juga Bu Rumanti. Tentang apa ya temanya?

30 Jan

Masih usulan untuk cetak Pak. Ada perbedaan mendasar pada tokoh. Kalau cerpen saya tokohnya muslim.

06 Feb

tahun berapa dibuatnya Ibu Rumanti? Cerpen ini saya buat tahun 2010

30 Jan
Balas

Kalau latar belakang peristiwa nya sekitar 2000 an. Saya menuliskan baru 2019. Lama juga rentang waktunya. Sebab cukup mengesankan, akhirnya saya jadikan cerpen.

06 Feb

Sipp, semoga segera terbit ya. Penasaran juga pengin baca. Saya pesan kalau sdh terbit ya

08 Feb
Balas

Sipp, semoga segera terbit ya. Penasaran juga pengin baca. Saya pesan kalau sdh terbit ya

08 Feb
Balas



search

New Post