Saat kompor Menyala
SAAT KOMPOR MENYALA
Hariyani
Ini bukan bualan atau ocehan semata. Ini adalah kisah nyata. Corona membawa hikmah yang luar biasa. Kesempatan yang hanya bisa diambil oleh orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Baik, saya akan berbicara tentang hikmah pada masa pandemi ini. Memang ada yang mengatakan bahwa masa pandemi Covid-19 ini masa yang menakutkan. Ketika kita melihat banyak korban. Ketika kita melihat banyak penderitaan.
Sekolah ditutup karena siswa adalah obyek yang rentan terhadap penularan virus. Berada di ruang tertutup dalam waktu yang lama, berkerumun, terjadi kontak, seharusnya protokol kesehatan ditaati ternyata menjadi abai baik secara sengaja maupun tanpa disengaja.
Peraturan pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan) diterapkan. Keluhan terdengar dari mana-mana. Siswa, orang tua, guru, penjual alat tulis, penjual baju-baju seragam, sampai pedagang makanan ringan di sekolah, semua terkena dampaknya.
Namun, tidak ada keluhan bagi sebagian guru yang mau memanfaatkan waktu dan kesempatan. Pembelajaran pada masa pandemi ini tidak menguras tenaga. Guru tidak lelah dalam hal fisik sebab tidak harus praktik di lapangan.
Pembelajaran daring ini menghabiskan waktu di depan laptop. Inilah kesempatan emas untuk berkreasi. Dari teknik pembelajaran daring guru bisa sambil menyelam minum air. (mengerjakan suatu pekerjaan, dapat menyelesaikan pekerjaan yang lain). Bagaimana caranya?
Ketika guru menanti jawaban siswa yang masuk dalam google form ada kegiatan yang bisa dilakukan di sela-selanya. Apa itu? Menulis. Ya, menulis apa saja.
Menulis sebagai Ajang Kreativitas
Kegiatan ini memang saya mulai dengan rutin sejak awal Maret diumumkan bahwa Indonesia juga dilanda pandemi. Semula saya diajak teman, Bu Esti namanya, untuk mengikuti tantangan menulis yang diadakan oleh sebuah grup facebook, Media Guru Indonesia. Media ini menantang untuk menulis 30 hari tanpa jeda.
Saya mulai tertarik mengingat kesibukan di luar rumah tidak lagi menyita waktu. Sebaliknya, kegiatan banyak dilakukan di depan laptop. Apa salahnya saya mencoba. Rencana utama saya adalah ingin mengabadikan kisah perjalanan hidup saya yang unik untuk menjadi novel. Perjalanan hidup yang bagi saya sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Alasan inilah yang menjadi motivasi saya untuk mengikuti tantangan menulis tersebut.
Saya pun mendapat izin dari suami yang nantinya juga menjadi tokoh utama dalam novel saya. Tanpa izin darinya, saya tak akan menulisnya sebab selama proses menulis pasti ada banyak hal yang ingin saya tanyakan.
Kurang lebih 40 hari berjalan. Alhamdulillah, novel saya selesai. Ada apresiasi dari Bu Rizka, guru dan anggota FLP, novel saya menarik. Bahkan beliau memberikan endorsement. Begitu mendapat satu kesaksian, saya mencoba mencari lagi dari pembaca lainnya. Nah, syarat diterbitkannya sebuah novel sudah saya kantongi. Kurang kata pengantar yang belum saya dapatkan. Beruntung lagi, teman kulih waktu S-1 dan telah menjadi dosen di UNISMA, menyambut gembira dan bersedia memberikan pengantar.
Pengantar dan endorsement yang diberikan teman-teman begitu mengharukan. Mereka mengakui bahwa saya bisa menulis dan bahkan bisa menjadi novelis. Inilah yang melecutku untuk terus menulis.
Sebarkan Candu Menulis
Keberhasilan saya menaklukkan tantangan tiga puluh hari menulis tanpa jeda dan telah menghasilkan sebuah novel menjadi bukti bahwa saya bisa menulis. Pengalaman inilah yang ingin saya tularkan pada teman-teman.
"Ya, Bu, saya tertarik, tetapi bagaimana caranya?" jawaban dari salah seorang teman.
Ada ketertarikan inilah menjadi alasan utama untuk terus mengajaknya. Saya terus menyalakan api semangat ini terutama kepada guru-guru Bahasa Indonesia. Saya 'kompori' (panas-panasi) mereka.
[“Guru IPA saja bisa menulis novel, masak guru Bahasa Indonesia yang sering berhadapan dengan cerpen dan novel tidak bisa? Sungguh bangganya siswa-siswa kita ketika mereka membaca karya gurunya sendiri, lo!”] melalui pesan WhatsApp pribadi saya ajaki mereka.
[“Masih ragu, Bu, bisa atau tidak, ya.”]
[“Kalau dilihat dari tulisan guru-guru di MGI itu, berbagai macam tulisan. Tidak ada yang mengolok-olok tulisan kita jelek. Semua saling memuji. Bagi mereka, menulis membutuhkan proses. Lama-lama tulisan akan menjadi bagus.”]
Berbagai alasan dikemukakan. Saya harus sabar, tetapi mencari celah. Mencari waktu yang tepat untuk mengompori lagi. Dari satu guru Bahasa Indonesia ke guru yang lain. Alhamdulillah, karena usaha yang terus menerus saya lakukan, entah karena mereka jenuh ataupun memang tertarik, bagi saya tidak masalah, asalkan mereka bersedia ikut mengikuti tantangan menulis.
Kalimat-kalimat persuasif terus saya gunakan untuk memengaruhi mereka. Satu-demi satu masuklah mereka menjadi anggota FB Media Guru Indonesia. Ada dua belas orang yang masuk. Dengan begitu, mereka mempunyai blog yang namanya Gurusiana. Saya membuat grup WA khusus Guru Penggerak Literasi. Di dalam grup inilah kami saling memotivasi. Begitu membahagiakan ketika obrolan kami di sekolah seputar tulisan-tulisan kami. Di sinilah kami saling menyemangati untuk terus menulis. Cerita seru pun terjadi ketika ada yang hampir gugur dari tantangan. Mereka tidak dapat mengirim tulisan karena ada gangguan server. Begitu ramai komentar di grup untuk saling menyemangati.
Selain mengikuti tantangan menulis, saya mengikuti proyek-proyek ‘Nubar’ (Nulis Bareng) yang diadakan oleh beberapa penerbit. Penerbit Omera Pustaka adalah penerbit yang paling awal saya kenal. Alhamdulillah, dari proses menulis di penerbit ini, saya banyak mendapatkan ilmu tentang tulis-menulis yang selalu disampaikan di grup WA.
Buku-buku karya antologi bersama dari penerbit Omera pun bermunculan. Bahkan ada salah satu karya saya menjadi karya favorit. Keinginan menulis semakin kuat. Kompor terus kami nyalakan. Kini saya menyebut kami, karena yang memanas-manasi guru-guru yang lain, adalah kami berdua belas.
Membentuk IGMPL
Usulan dari grup Ikatan Guru Penggiat Literasi Madrasah (IGMPL) Provinsi, kami diminta juga untuk membentuk grup yang diberi nama IGMPL Kota Blitar. Gayung bersambut. Dari sekolah-sekolah lain mulai mengikuti tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Kami pun belum memiliki kegiatan. Belum membentuk pengurus. Saya berpikir, bagaimana seandainya anggota IGMPL Kota ini diajak untuk menulis dan dibukukan.
[“Bapak, Ibu, bagaimana jika kita membuat buku yang kita isi dengan karya kita bersama? Nubar (Nulis Bareng) tentang tema yang unik?”]
Saya berani mengusulkan ini, karena kami sudah mempunyai tim penerbitan buku di sekolah yaitu editor, desain cover,dan desain layout, sehingga jika naskah jadi, kami tinggal mencetakkan ke penerbit. Diskusi berjalan dengan keputusan menulis cerpen bertema ‘ngidam’ (makna dari KBBI online adalah ingin sekali mengecap sesuatu saat hamil muda). Memang, selama saya ikut proyek menulis, saya belum pernah menemukan tema ini.
Selang satu hari satu cerpen dari anggota laki-laki sudah terkirim. Pemantik semua anggota IGMPL. Seorang bapak guru muda yang begitu semangat dalam mengikuti proyek ini. Deadline ditentukan terkumpul 24 cerpen dari penulis-penulis pemula.
Niat mereka ternyata hanya nekad mencoba menulis. Editor dibuat kelabakan karena menyunting tidak sekedar ejaan, kata, kalimat, ternyata juga paragraf , dan isinya. Karena sudah menjadi kesepakatan, editor pun akhirnya membagi kepada beberapa guru Bahasa Indonesia. Kerja bareng sebagai editor pun terjadi.
Betapa bahagianya kami, penulis dari berbgai madrasah, berhasil menuangkan ide kami ke dalam kumpulan cerpen yang kami beri judul pada cover buku Pesona Ngidam. Karena buku sudah terbit, kami pun berencana untuk meresmikan organisasi kami dengan sekaligus launching buku perdana karya bersama.
Kegiatan peresmian organisasi dengan launching buku berjalan begitu bermakna. Kami mendapat apresiasi yang tinggi dari kepala kemenag. Kreativitas kami terus didorong untuk mengadakan kegiatan-kegiatan lagi.
Tantangan Menulis Pada HAB Kemenag
Ketua IGMPL, Esti Munafifah, M.Pd. mengusulkan kegiatan tantangan menulis 20 hari untuk memperingati HAB Kemenag ke-76. Alhamdulilla , panitia meyetujui. Saya membuat grup Face Book IGMPL Kota Blitar. Kepala Madrasah menggerakkan guru-guru untuk mengikuti tantangan ini. tidak menyangka ada 139 guru yng ikut bergabung dan mengikuti tantangan menulis.
Tulisan yang dibuat bermacam-macam, opini, puisi, pantun, cerpen, cerbung, laporan peristiwa dengan syarat minimal 50 kata yang diunggah pada masing-masing profil facebook grup kami. Meskipun pada akhirnya tidak semua guru berhasil menyelesaiakan tantangan. Ada bermacam-macam alasan gugur. Ada yang lupa, sibuk, dan sakit. Namun, semangat berliterasi sudah disulut dan berhasil mengajak guru-guru untuk terus menulis.
Bertambahlah penulis di sekolah kami menjadi 25 guru yang bergabung. Dari kegiatan mengikuti tantangan menulis dua puluh hari inilah, masing-masing dari kami bisa membuat buku solo. Kepala sekolah kami sangat mendukung kegiatan ini. bahkan beliau pun ikut serta menulis dan juga siap untuk menerbitkan buku solo.
Peresmian Madrasah Literasi
Melihat antusias dan begitu semangatnya kami berliterasi menulis dengan menerbitkan baik buku solo maupun antologi, prestasi-prestasi kami yang banyak meraih kejuaraan lomba menulis baik guru maupun siswa, maka kepala sekolah mengajukan permohonan ke Kantor Kementerian Agama Kota Blitar untuk dijadikan Madrasah Literasi.
Tertanggal 30 Desember 2020 Surat Keputusan sudah dikeluarkan. Sekolah kami diakui sebagai Madrasah Literasi. Pertimbangan ini didasarkan pada beberapa hal. Di antaranya, perpustakaan yang sudah empat kali mendapatkan piagam penghargaan dalam lomba perpustakaan, karya bapak Ibu dan siswa sudah mencapai enam puluh buku lebih dalam kurun waktu Sembilan bulan, dan prestasi-prestasi kami dalam bidang literasi baik yang diraih siswa maupun guru.
Alhamdulillah, tanggal 22 Februari 2021, sekolah kami sudah diresmikan sebagai Madrasah Literasi di tingkat Kementerian Agama Kota Blitar. Semoga semangat berliterasi terus membahana dan kompor terus menyala sampai bisa membakar madrasah atau sekolah-sekolah yang lain.
***
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Keren, Bund. Luar biasa provokasinya. Selamat. Semoga bisa meniru jejak Bunda, karena saya juga ingin menggagas ini di MGMP bahasa Inggris, Semoga bisa dan disambut gembira karena berdasarkan pengalaman disekolah, tidak mudah memantik api Literasi. Sukses selalu untuk Bunda Hariyani.