persiapan memasukkan anak ke pondok psantren
mempunyai anak yang sholeh dan sholehah tentulah menjadi dambaan setiap orang tua. seorang anak yang patuh kepada kedua orang tua, mendengarkan setiap nasihat yang disampaikan, menjalankan segala perintah yang disampaikan, berperilaku baik dimanapun ia berada, taat dalam menjalankan kewajibannya sebagai musli, sangat hormat, berkata dengan bahasa yang lemah lembut dan sopan santun dan karaktyer perilaku terpuji lainya yang ditampilkan oleh anak. semua itulah tentu tidaklah mudah atau terbentuk dengan sendirinya. orang tualah yang pertama-tama memberikan pemahaman dan mempersiapkan mental paa si anak.
pernah temanku berkata" ah, bu, anak ibu yang laki-laki sekolah dimana bu? kok tidak pernah kelihatan? dulu perasaa dia pernah pulang ya? memang sekolah dimaa anak ibu?"
dengan mantap saya menjawab" di Pondok Psantren Nurussalam Sido Gede Gumawang Sumatera Selatan".
"eh kok bisa sekolah di situ? jauh amat". tanya temanku keheranan, karena di sekitar tempat tinggal kami banyak sekali pondo-psantren-ondok psantren yang sudah terkenal dan hebat serta jumlah santri yang sudah ribuan, bahkan mempunyai cabang dimana-mana.
aku menjelaskan" ibu, namanya mondok itu tidak bisa kita sembarangan memilih asal pondok saja, ada beberapa syarat yang harus kita perhatikan.
pertama: jarak dari rumah, jika jarak dari rumah dengan pondok terlalu dekat, maka ada kemungkinan kita akan gagal, karena cobaan di tahun-tahun pertama anak mondok itu sangatlah berat, bagaimana tidak, anak setiap hari minta dibesuk, minta dikirimi makanan, bahkan minta pulang, kalau rumahnya dekat maka kita pasti akan memenuhi permintaan anak terus. bahkan lama kelamaan anak bisa saja tidak kerasan di pondok, namanya dipondok kan waktunya sangat padat dengan berbagai kegiatan pembelajaran dan ibadah, tentu sangat berbeda dengan keadaannya pada saat masih di rumah, dikontrol terus oleh santri senior atau pembina, baik pembina kamar maupun pembina umum.
kedua sistem belajar bahkan kurikulum yang dipakai dipondok juga harus dijadikan perhatian. karena kurikulum pembelajaran di pondok biasanya berbeda dengan kurikulum sekolah pada umumnya, meskipun pada dasarnya menginduk kepada kementerian agama, akan tetapi pondok memiliki kebebasan untuk menerapkan kurikulum pondok sendiri, misalnya buku-buku yang dipakai dalam proses pembelajaran berpedoman kepada kitab-kitab kuning sebagai sumber pokok, sedangkan buku-buku acuan pemerintah hanya dijadikan sebagai buku penunjang, sehingga tidak heran jika pada saat anak-anak ulangan semester ataupu ulangan tengah semsester, mereka akan asal-asalan dalam mengisi soal, terutama pelajaran umum, karena memang selama belajar di pondok kurang memaksimalkan buku-buku acuan dari pemerintah, bahkan anak-anak merasa sama sekali belum pernah mempelajari materi soal yang dipertanyakan. jika sudah demikian sudah dapat kita bayangkan, anak-anak mengisi soal dengan cara mereka sendiri, asal-asalan atau tebak-tebak buah manggis, yang penting seua soal terisi. hasilnya Bagaimana????? tentu hasil yang didapat oleh santripun asal-asalan.
ketiga, pembinaan santri. pembinaan santri yang dimaksudkan adalah, bagaimana pembinaan santri mulai dari asrama, sistem ibadah, makan, tidur, pembimbingan dan pengawasan dan sebagainya. namanya di asrama itu satu kamar bisa ditempati oleh 20-30 orang santri dengan ukuran ruangan 6x8 meter atau lebih atau bisa juga kurang, semua lemari santri disusun disekeliling dinding, bahkan ditambah lagi dengan membuat barisan di tengah agar ruangan terbagi dua, ada lagi dibentuk menjadi ruangan kecil untuk pembina asrama. sudah sangat sesak sekali, lemari pakaian yang kecil yang bisa menyimpan semua perlengkapan anak-anak mulai dari pakaian, alat makan, alat mandi, peralatan sekolah dan lain-lain. pembinaan disini adalah bagaimana para pembina asrama dapat mengatur dan memimpin anggota kamarnya, sehingga terjadi hubungan yang harmonis antar santri, jadwal piket berjalan dengan baik, kegiatan belajar dan shalat semua dilaksanakan dengan disiplin, bahkan penyelesaian masalah yang terjadi pada santri. misalnya permasalahan sosial sesama santri, permasalahan beajar dan keaktifan mengikuti jadwal kegiatan, dan sebagainya.
keempat keberhasilan alumni masuk perguruan tinggi. melanjutkan sekolah anak-anak ke jenjang berikutnya juga harus menjadi prioritas utama oleh para orang tua. biasanya anak-anak psantren akan kesuitan pada saat mengikuti tes masuk perguruan tinggi karena selama mereka menuntut ilmu mereka hanya dijejali dengan buku-buku ilmu agama atau kitab kuning, tidak memasukkan pelajaran umum pada mata pelajaran di sekolah. padahal bisa saja pihak psantren menerapkan 50% pelajaran umum-50% pelajaran agama, karena meskipun mereka santr, mereka juga akan berjuang menghadapi tantangan kemajuan zaman dan tekhnologi setelah mereka tamat dari psantren. akan tetapi jika sebuah pssantren yang mengaplikasikan kurikulum pemerintah dalam menjalankan proses belajar mengajar, berarti anak-anak dipenuhi ilmu pengetahuannya dengan pelajaran umum karena disesuaikan dengan kurikulum dari pemerintah. maka anak sedikit banyak telah mempunyai bekal untuk mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi, karena tidak semua santri itu ingin jadi ustad, banyak dari mereka yang bercita-cita ingin jadi dokter, ingin jadi pengacara, pilot, pengusaha dan sebagainya.
bagaimana persiapan yang harus dilakukan oleh orang tua yang mau memasukkan anak-anak mereka ke pondok psantren? nah, hal ini sangat penting sekali bagi orang tua. karena anak-anak itu tidak bisa dipaksa, mereka harus dipersiapkan terlebih dahulu mentalnya, orang tua harus memberikan baynagan bagaimana keadaan di psantren yang semuanya haris dijalankan dengancara mandiri, mengusur barang sendiri, mandi sendiri, makan antri, mandi antri, shalat diawasi dan dipaksa oleh pembina, kegiatan sangat padat mulai bangun jam 3 fajar hingga jam 10 malam, jika anak-tidak dipersiapkan mentalnya, maka anak-anak akan sulit dalam beradaptasi dan merasa terkejut dengan keadaan seperti itu, maka tugas adari orang tua adalah mempersiapkan mental anak-anak agar berani menjalani kehidupan selama dalam psantren tapa keterpaksaan dan meresa dikekang oleh aturan.
selanjutnya orang tuapun harus selalu mengawasi pergaulan anak, jaga agar anak kita bergaul dengan anak-anak yang baik, anak-anak yang rajin belajar, rajn ibadah, tidak suka keluyuran dan main game, anak-anak yang suka keluyuran dan sebagainya. selain itu orang tua juga memberikan sedikit-demi sedikit masukan tentang kehidupan psantren dan bagaimana karakter anak yang melewai masa belajarnya di pondok psatren, jelas mereka adalah anak-anak yang taat ibadah, bersih, rapi, sopan santun kepada orang tua, selalu mendoakan orang tua, disiplin dalam membagi waktu, jago bahasa Arab dan Ingris, menguasai hadis dan alQuran, hafalannya banyak dan alain-lain. bagaimana cara memberikan wawasan tersebut? saah satunya lewat media televisi, tontonan yang kita berikan kepada anak tidak boleh yang sembarangan, yang menunjukkan karakter tokoh yang buruk, anak malas, nakal, jadi preman, liar, tidak bisa di atur, banyak menuntuk kepada orang tua, prestasi belajar menurun, sering berkelahi, ugal-ugalan dan semua karakter yang tidak baik. orang tua harus selektif memilihkan tayangan mana yang baik dan patut dicontoh, cari tayangan yang menceritakan tentang kehidupan di psantren, supaya anak dapat mengambil pelajaran dan kesimpulan bahwa mondok itu sangan menyenangkan, karena dapat bergaul dengan para ustad dan ustadhaz ulama dan kiayi, para santri yang bermacam karakter yang selalu bersemangat dalam menimba ilmu, hafalan piket dapat teguran bahkan dapat hukuan karena melanggar disiplin psantren.
selain itu, keikhlasa orang tua sangat penting dalam mempersiapkan mental anak menuntut ilmu ke psantren, orang tua harus terlebih dahulu menyiapkan diri, untuk melepas anak-anak kesayangan untuk dititipkan di psantren, tidak banyak membayangkan tentang kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi oleh anak. tidak usah dibayangkan, anak-anak antri mau mandi, mau ke kamar keci, antri mengambil makanan serta lauk makan yang kurang bergizi, tidak usah khawatir, sekarang di pondok sudah sangat dijamin menu makanan santri, setiap minggu anak-anak pasti terasa makan lauk ayam, ikan telur ,sambal, kerupuk dan sayur-sayuran. mereka tetap akan tumbuh sehat dengan ijin Allah. jika orang tua selalu memikirlkan hal-ha seperti itu bisa ada kemungkinan orang tua yang gagal dalam mempersiapkan mental menyekolahkan anak-anak ke pondok psantren. titipkanlah denga ikhlas, serahkan sepenuhnya kepada Allah, Allah akan menjada anak kita siang dan malam, Allah akan menjaga kesehatan mereka, menjamin rezeki mereka, menjamin kebutuhan mereka, yang penting kita selaku orang tua, niatkanlah semua karena Allah. jangan lemah denga rengekan anak-anak yang minta dibesuk atau minta pulang. abaikan saja mereka, jiika kita turtuti maka anak tau kelemahan kita, dia akan semakin tidak kerasan. syang kan kalau anak kita minta berhenti??? lebih baik kita melihat mereka menangis saat ini karena kita memasukan anak-anak kita ke psantren dari pada kelak di kalah usia kita sudah senja, kita dibentak ditelantarkan oleh anak bahkan dibuang ke jalanan atau ke panti jompo, tidak diperhatikan kebutuhan kita, tidak dierdulikan karena alasan mereka sangat sibu, tidak sempat, apa lagi mau mendoakan kita selamat dunia dan akhirat. jauuuhhhh.
selanjutnya jangan lupa kita berdoa kepada Allah, semoga anak kita betah, mempunyai teman-teman yang baik, dapat belajar dengan baik, semangat dalam belajar, rajin ibadahnya, rajin baca alquran, rajin shalat malam dan shalat sunat lainnya, rajin hafalan, tidak malas, berbahasa yang lemah lembut dan sopan, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, dapat mengikuti semua kegiatan tanpa terpaksa, ikhlaskanlah dengan doa. Allah yang akan melemahkan hati anak-anak kita. allah akan menjaga mereka. tidak usah risau, ada Allah sang Maha segalanya. bayangkan kelak pada saat kita tua anak-cucu kta ada disekeliling kita menemani kita merawat kita dengan balasan kasih sayang dan kelemah lembutan, menghormati kita, membacakan doa-doa pada saat kita sakit, bahkan menuntun kita pada saat menghadapi sakaratul maut, subhaanallahhh, betapa indahnya. anak-anak kita yang menyelesaikan proses pemandian dkita, pngkafanan kita, menshalatkan kita dan menguburkan kita, serta doanya mengalir terus tanpa hendi, kiriman-kiriman pahala adari amal kebaikan dan ibadah yang anak cucu kita lakukan. mereka selalu memberi sedekah memberi amal jariah atas nama kita., masyaallaah...subhaanallaaa...kuatkanlah bapak ibu.
menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita, hal ini sangat penting, jangan sampai kita melarang melakukan perbuatan yang jelek tapi kita sebagai orang tua melakukannya, kita menyuruh mereka shalat tapi orang tua tidak pernah solat, mengharapkan anak-anak berkata sopan tapi orang tua selalu menyumpah-nyumpah, membentak, memarahi, tidak memperdulikanya, tidak memberikan nafkah lahir dan batinnya. tidak memberikan pelajaran yang baik, tidak menunjukkan karakter yang diinginkan. tentu anak-anak akan gaman, orang tua nyuruh begini tetapi merka sendiri tidak melakukannya.
jangan mudah menyerah pada keadaan dan bujukan anak awal masuk psantren, selalu masukkan pemahaman bahwa mondok itu asyik, seru, banyak teman, banyak ustad dan ustadhah yang akan membimbing anak-anak kita, jangan terpengaruh dengan rengekan anak-anak yang ingin pulang, mengeluh karena barang-barangnya hilang, tidak apa-apa nanti kita beli lagi, insyaallah rezeki pasti ada, jangan terpengaruh pada saat anak kita nelpon sambil nangis mengatakan bahwa dia diganggu oleh temannya, barangnya hilang, makanannya dihabisin oleh teman-temannya. tidak apa-apa, harus kuat, itu cobaan, itu godaan agar anak kita berhenti dari pondokpsantren, setan membisiki kita, tu..kan... kasihan dengan anakmu menderita, tidur kurang, makan tidak enak lauk tidak ada rasa, dia selalu dipaksa oleh seniornya, kasihann!!! dia dipaksa bangun jam 3 fajar, lihat anakmu masih enak tidur. lihat anakmu sangat lucu dan pintar, kalau dia sakit bagaiman? berbagai bisikan setan yang membuat goyah pendirian kita terus digencarkan. tenang!! ada Allah yang menjaga anak kita bapak ibu harus kuat. kuat..kuat. jangan terperdaya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Betul sekali Bun, anak yang dipondokkan akan jauh lebih siap menghadapi kehidupan selanjutnya. Dari segi agama dan bakti pada orang tua patut diacungi jempol. Karena anak saya juga mondok. Maaf typo dikit bunda, biasakan awal menulis memakai huruf kapital. Salam sukses Bunda
Anak yang dipondokkan biasanya berakhlak baik dan punya bekal yidak hanya di dunia tapi untuk di akhirat nanti