Fitri Nefrita

Fitri Nefrita lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Lima Puluh Kota, pada tanggal 21 Oktober 1973. Lulusan Fakultas. Syariah IAIN "IB" Padang. Ibu dari dua or...

Selengkapnya
Navigasi Web

Vina, janji Itu Tidak Pernah Ada

Pertemuan

Vina sedang menyibukkan diri dengan gawanya. Sementara Fahri duduk di kursi dekat ibu. Kembali cerita-cerita ringan mengalir dari mulut Fahri. Cerita tentang keluarganya dan pekerjaannya. Itu semua juga karena ibu banyak bertanya pada Fahri. Jadi kelihatannya cerita mereka berdua betul-betul nyambung. Ibu juga cerita tentang Vina, tentang keluarganya. Sesekali Fahri melirik ke Vina ketika ada kisah-kisah Vina yang lucu yang membuat mereka berdua tertawa. Tapi Vina seperti acuh saja. seakan-akan tidak mendengar apa yang mereka ceritakan.

“Vina aku di luar, ibu di ruangan mana?” tampak chat WA dari Uda Rizal.

“Teratai 6 Da”

Saat ini debaran jantung Vina kembali abnormal. Debaran jantung karena akan bertemu dengan lelaki masa lalunya. Rasanya Vina ingin menangis saja. Tapi tetap dikuatkannya hatinya.

“Bu Uda Rizal sudah di luar, biar saya susul yang Bu?” kata Vina dan permisi keluar pada Fahri.

Fahri hanya mengangguk.

Vina berjalan keluar ruangan meninggalkan Fahri dan ibunya. Dia mencoba menguatkan hati untuk bertemu Rizal. Sekarang Rizal adalah saudaranya. Ponakan ayahnya. Hanya itu. Tidak boleh lebih. Hubungan kekeluargaan tidak boleh rusak karena perasaan yang pernah ada di antara mereka. Perasaan masa remaja, masa putih abu-abunya. Walaupun Adang kurang senang dengan hubungan mereka dahulu tapi adang tetaplah adang. Adang tetaplah adik dari ayahnya. Vina harus bisa memegang teguh pesan bapak agar tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga bapak di Padang Panjang.

“Vina.” Terdengar panggilan dari samping kanannya. Suara itu sangat dikenalnya.

Vina menoleh dan betul saja, ternyata Rizal.

“Assalamualaikum Da.” Vina mengucapkan salam sambil mengatupkan tangan di dadanya.

“Waalaikumussalam. Bagaimana kabarmu?”

“Baik Uda. Alhamdulillah.”

“Ayo kita ke ruangan ibu!” ajak Vina.

Vina dan Rizal berjalan ke ruang rawat ibu.

“Adangmu titip salam dan doa semoga ibumu cepat sehat. Adang tidak bisa ikut karena ada urusan juga.”

“Ya Uda. Terimakasih.” Vina berusaha untuk bersikap wajar di hadapan Rizal.

Vina masuk ke ruangan ibu, kemudian Rizal menyusul di belakangnya.

Tampak ada sedikit perobahan wajah Rizal ketika melihat ada orang yang tidak dikenalnya di ruangan itu. Orang itu tampak akrab dengan isteri mamaknya tersebut.

“Assalamualaikum Etek. Bagaimana keadaan Etek?” Rizal menyalami ibunya Vina.

“Walakimussalam. Alhamdulillah makin baik.”

Ibu lalu melirik ke Fahri dan berkata, “Nak Fahri ini Rizal saudaranya Vina dari Padang Panjang. Rizal, ini Fahri temannya Vina.”

Rizal dan Fahri bersalaman. Mereka saling memperkenalkan diri. Namun setelah itu semua diam. Sampai Fahri membuka percakapan.

“Etek, Amak kirim salam dan minta maaf tidak bisa datang bersama saya ke sini.”

“Iya. Tidak apa-apa. Alhamdulillah Etek sudah membaik.”

“Vina, apa penyakit Ibu?” tanya Rizal pada Vina

“TB usus Da. Semua serba mendadak. Gejala dalam sehari itu, ibu langsung mengerang kesakitan dan jalan satu-satunya operasi. Karena inveksi di usus sudah meluas maka operasipun diusahakan secepat mungkin.” Vina mencoba menjelaskan ke Rizal tentang kondisi ibunya.

Sewaktu mereka bercakap-cakap di ruangan ibu, tiba-tiba pintu terbuka. Farid adiknya Vina muncul.

“Assalamualaikum, waaaah banyak orang ternyata.” Katanya sambil tersenyum lebar.

“Da Rizal kapan datangnya?” tanyanya sambil menyalami dan memeluk bakonya tersebut.

“Baru saja, semalam uda dapat kabar dari Kakakmu.”

Farid melirik pada Vina sedangkan Vina segera mengalihkan pandangannya. Dia paham dengan pandangan Farid. Karena semalam dia yang melarang Farid mengabari keluarga di Padang Panjang

Farid juga melihat ke laki-laki yang di dekat dipan ibunya. Dia menunjuk dan bertanya, “Temannya Da Rizal?”

“O tidak. Kenalkan saya Fahri teman kakakmu Vina.”

Fahri memperkenalkan diri dan menyalami Farid.

“Bagaimana urusanmu di kampus. Apakah semuanya sudah beres?” tanya Vina mengalihkan pembicaraan.

“Alhamdulillah. Semua selesai. Insyaallah Sabtu saya wisuda.”

“Bu, lekas sehat ya. dampingi saya wisuda nantinya” kata Farid mencium kening ibunya.

“Emang tidak jadi cari PW?” tanya Vina sambil menahan tawa.

“Jadi, tadi sebelum pulang sudah dapat tapi lepas lagi.” Jawaban Farid membuat mereka yang di ruangan itu tertawa. Sejenak masing-masing orang lupa dengan keruwetan yang ada di kepalanya.

Fahri sedang memikirkan bagaimana caranya berbicara dengan Farid. Rizal penasaran dengan siapa laki-laki yang bernama Fahri ini. Apa hubungannya dengan Vina. Ibu sedang memikiran ulang apa yang disampaikan Fahri tadi. Bahwa Fahri ingin menikahi Vina dalam waktu dekat. Sedangkan Vina berusaha dan berdoa pernikahan yang ada dalam rencana Fahri tidak jdi terlaksana.

bersambung...

#Novel4

#NovelVinaJanjiItuTidakPernahAda

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

o iya Bund... makasih

17 Oct
Balas

Keren ceritanya Bun. Tapi yang ini "Vina, apa penyakit Ibu? tanya Rizal pada Vina," bertukar sebutan kayaknya. Tadi manggilnya Etek, kok berubah jadi Ibu? Sukses selalu buat Bunda.

13 Oct
Balas



search

New Post