Faidah Setyaningsih

Teruslah menulis meskipun tidak ada orang yang membacanya....

Selengkapnya
Navigasi Web
Ambil View yang Berbeda

Ambil View yang Berbeda

Oleh: Faidah Setyaningsih

Libur akhir semester yang bertepatan dengan libur natal dan tahun baru hampir usai. Belum satu pun tempat wisata sempat dikunjungi. Anak-anak sudah resah dan merengek-rengek minta jalan-jalan. Berbagai lokasi rekreasi di sekitar ditawarkan dan dipilah-pilih.

Paginya, hujan mengguyur. Tidak terlalu deras tapi cukup membasahi tanaman di dalam pot yang baru ditamani kemarin sore. Suasana pagi yang membuat malas untuk beraktivitas. Menarik kembali selimut dan meringkuk di atas tempat tidur benar-benar kenyamanan yang menggoda.

"Ayo, jadi jalan-jalan gak? Aku sudah siap-siap nih," rengek anak keduaku yang sudah menyiapkan perlengkapan renang dari semalam. Entah sudah berapa kali dia mengatakan kalimat yang sama pagi ini.

"Abi agak nggreges (kurang enak badan)," jawab ayahnya dari dalam kamar dengan suara parau."Masa gak jadi terus dari kemarin," sahut sang anak kesal. Tanpa putus asa dia terus melancarkan rayuan agar acara jalan-jalan tidak gagal. Dari memijit-mijit kaki sang ayah sampai membantu pekerjaan rumah.

"Ke pantai Mliwis saja ya yang dekat. Ke Pandan Kuning-nya besok-besok lagi kalau ada sopir," kata sang ayah bernegosiasi. Dia ragu bisa menyetir sampai tujuan dengan kondisi kesehatan yang tidak fit.Meskipun sedikit kecewa anak-anak setuju. Daripada tidak jadi pergi sama sekali.

Ah, ke sana lagi, ke sana lagi. Sudah berkali-kali kami mengunjungi pantai yang jaraknya sekitar 4 km dari rumah itu. Kunjungan terakhir sekitar satu bulan lalu. Selama berkali -kali itu pula suasananya selalu sama. Parkir di tempat yang sama. Berteduh di bawah pohon cemara yang sama. Bahkan, berenang dan menikmati kulinernya pun dengan menu yang sama di tempat yang sama. Bisa dibayangkan betapa membosankannya.

"Gimana kalau nanti kita ganti tempat? Ke sebelah barat atau ke timur sekalian. Jangan di dekat pintu masuk seperti biasanya," kataku pada suami."Boleh," jawabnya singkat.*Sampai di lokasi pantai, kami diarahkan oleh tukang parkir menuju lokasi parkir baru. Di barat jalan menuju pantai. Sebuah tanah lapang dengan rumput dan semak yang cukup tinggi. Di hari-hari biasa itu hanyalah lahan kosong. Untuk sampai ke pantai dibutuhkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit. Melewati beberapa gunungan pasir yang lumayan tinggi. Mengingatkan pada suasana 'tontonan segoro' tempo dulu. Harus berjalan turun naik, berdesak-desakan di bawah terik mentari.Hari itu, kebetulan sedang ada acara gebyar jalan sehat yang dihadiri bupati. Mungkin karena hal itu lokasi parkir dialihkan. Atau hanya strategi tukang parkir saja yang berebut lahan parkir sampai mencegat pengunjung di tempat yang masih lumayan jauh dari bibir pantai.

Kami berjalan melewati beberapa gunungan pasir. Melintasi panggung yang dikerumuni pengunjung. Puluhan wanita berseragam olahraga berjoget di depan panggung mengikuti iringan musik sambil memperebutkan doorprice. Ratusan pengunjung yang lain hanya sekedar menonton sambil berteduh di bawah pepohonan.

Dari atas gunungan pasir tempat kami berjalan, nampak di arah selatan wahana water boom dengan cat berwarna-warni dan aneka gantungan hiasan bola-bola. Perosotannya pun tampak besar dengan tangga beragam warna. Anak-anak langsung antusias dan bergegas menuju lokasi kolam renang yang tampak lebih menarik daripada kolam renang biasanya itu. Mencari celah jalan di antara parkiran motor yang saling berhimpitan.

Sampai di lokasi, anak-anak sudah tak sabar ingin menceburkan diri bersama puluhan anak lain yang sedang bermain air. Keceriaan tersirat di wajah-wajah mereka. Turun naik perosotan tanpa merasa lelah. Berebut pelampung dan bola warna warni yang mengapung di atas permukaan air kolam. Berteriak kegirangan saat air dari penampungan tumpah ke kepala mereka. Para orang tua dan pendamping duduk di sekeliling kolam sambil menikmati menu khas pantai yang bisa dipesan di warung gubug di sekitar pantai. Seperti sate, mendoan, degan, teh, es jeruk dan aneka makanan cepat saji. Murah meriah.

"Pop Mie goreng gak pedes, Mi," teriak anakku dari dalam kolam. Menu andalan saat berenang di kolam pantai. Kuacungkan jari jempol sebagai pertanda siap mengabulkan permintaannya.*Sepulang dari pantai kami bermain-main ke supermarket yang ada di kota kecamatan. Tempat belanja terbesar untuk daerah kami. Meskipun hanya membeli beberapa perlengkapan sekolah dan jajanan anak merasa senang."Hari ini aku puas. Abis dari pantai langsung ke PB," kata anakku beberapa kali dalam perjalanan pulang sambil menikmati minuman segar bersama cemilan yang baru saja dibelinya.

Mirit, 31 Desember 2023

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Mak nyuusss

02 Jan
Balas



search

New Post