Kisah Ulama yang Menggerakkan dari Rumah
Corona telah merambah masuk ke Indonesia. Semua orang punya potensi terkena virus ini. Salah satu usaha untuk memutus mata rantai penyebarannya adalah tetap tinggal di rumah.
Tak boleh terlalu lama tercenung dengan perubahan ini. Secepatnya kita menyesuaikan, menerima dan ikhlas dengan semua ini. Perubahan segera dilakukan. Rumah diubah menjadi pusat aktifitas belajar dan bekerja. Sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus guru. Kerja sama dan pembagian kerja dalam keluarga menjadi strategi utama.
Alhamdulillah semua dapat terkendali. Aktivitas dimulai sebelum subuh. Rutinitas pekerjaan domestik dan ibadah didahulukan. Seluruhnya harus sudah selesai jam 9 pagi. Barulah aktifitas belajar dan bekerja dari rumah dilakukan. Ruang tamu didesain menjadi ruang kelas sekaligus ruang kerja. Semua kelengkapan bekerja dan belajar ada disana. Sejak pagi aku, suami dan putri tunggal kami yang duduk di kelas IX SMP berkumpul di ruang tamu. Semua asyik dengan aktifitas masing-masing. Sambil memberikan pembelajaran daring. Aku dapat mengontrol aktifitas belajar putriku. Setelah Maghrib giliran suami yang mengontrol kegiatan mengaji dan menghafal Quran anak kami. Semua dinikmati dan dijalankan dengan santai dan berdoa, semoga sehat seisi rumah.
Kegiatan di rumah saja memasuki minggu ke dua. Kejenuhan datang mengusik. Mulai berfikir apakah yang dapat dilakukan agar lebih produktif dan bermanfaat. Selain mengajar daring dan aktifitas domestik.
Terlintas kisah beberapa ulama besar pada masanya. Walaupun raga terkurung tetapi fikiran dan semangatnya bisa menggerakkan orang lain. Semangat kembali menggelora. Manakala mengingat kisah Said Qutub. Seorang ulama Mesir yang dipenjara karena tuduhan kudeta. Tetapi Qutub malah menyelesaikan buku fenomenal Tafsir Fi Dzilalil Quran dari balik penjara.
Ada lagi ulama besar Ibnu Taimiyah yang dipenjara karena mengeluarkan fatwa kontroversial pada waktu itu. Lagi sebuah karya besar Kitab Ar Raddu ala Al Ikhnai lahir diri balik jeruji. Sementara di Indonesia ada Buya Hamka, yang menyelesaikan Tafsir Al Azhar yang sembilan jilid itu justru dari penjara.
Mengingat kisah para ulama besar ini akhirnya mencoba menganalogikan keadaan. Jika dahulu para ulama di penjara karena pemikiran dan perjuangannya. Maka saat ini kita “dipenjara” di rumah kita, agar terhindar dari Covid-19. Kita tak boleh hanya diam. Kehadiran teknologi memungkinkan kita dapat bebas ke mana saja walau dari layar gawai.
Bismillah. Aku segera menyelesaikan beberapa tulisan dan draft buku yang tertunda. Semoga bisa segera terbit. Memiliki lebih banyak waktu untuk mengajarkan banyak hal pada anak, termasuk melatih menulis.
Selanjutnya menepati janji pada teman untuk membimbingnya menulis buku secara pribadi. Beliau selalu tak memiliki kesempatan ikut kelas menulis Media guru. Alhamdulillah, naskah buku hampir 200 halaman selesai ditulisnya. Pelan-pelan ku coba menyunting. Melatih ilmu yang di dapat dari Kelas Editor Media Guru. Izin Allah tak sampai dua bulan, buku bertajuk “Cinta dan Asa di Sekolah Islam terpadu” akhirnya terbit. Bahagia melihat seorang teman mewujudkan impiannya menjadi penulis.
Sembari memberikan pembelajaran daring pada siswa SMAN I Galang. Ku coba menawarkan kegiatan kelas menulis daring. Di luar dugaan ternyata banyak siswa yang berminat. Bahkan respon mereka di grup kelas menulis ini lebih semangat dibanding respon saat belajar pelajaran sekolah.
Aku berfikir kelas menulis ini dapat menjadi alternatif mengatasi kejenuhan mereka saat ini. Alhamdulillah hasil kelas menulis ini menghasilkan satu buku bersama “Di Galang Saja”. Buku yang berisi pandangan dan pengalaman mereka saat di rumah saja. Harapannya buku yang dalam proses cetak ini bisa diluncurkan saat masuk sekolah nanti.
Selain itu beberapa aktifitas kemanusiaan juga dapat dilakukan bersama teman-teman. Melakukan pengumpulan donasi untuk membantu mereka yang terkena dampak Corona secara sosial. Semuanya dilakukan dari rumah. Bersyukur dan bahagia melakukan semua ini. Ternyata jika ada semangat dan usaha kita dapat menggerakkan orang lain walau dari rumah. Semangat ini harus terus dirawat. Biarlah raga terkurung namun fikiran dan gerakan tak terpasung. Inilah yang dicontohkan para ulama terdahulu.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
MaasyaAllah.. .luar biasa adinda yg satu ini...
Allah akbar
Barakallah bu Dilla
Wah, pengalaman luar biasa nih Bu. Sungguh memginspirasi. Sukses ya Bu. Salam sehat.
makasih pak sehat-sehat kita
Keren budaDilla. Barakallah
amin...alhamdulillah. terima kasih
Keren budaDilla. Barakallah
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Barakallah. Luar biasa . Sangat menginspirasi.
Amin
Mantap lanjutkan buk
Bismillah...terima kasih pak
MasyaAllah menginspirasi sekali bu, trmksh semoga berkah
Amin
Bagus tulisanya Bu. Luar biasa.
Alhamdulillah terima kasih bu
Masya Allah...semangat yang luar biasa bunda. Barakallah,,, sukses selalu buat bunda dan kita semua. Aamiin
Allah akbar