Lelaki Berpayung Teduh
Lelaki itu masih seperti dahulu, memilih menerobos hujan dengan payungnya daripada menunggu hujan usai menumpahkan dirinya.
Rautnya tak jauh berbeda dengan wajah SMA dahulu, hanya rahangnya yang lebih tegas dan janggutnya yang lebih lebat namun tercukur rapi, sedangkan teduhnya masih serupa dahulu. Teduh yang membuatku diam-diam sering menatap wajahnya lama-lama bahkan hingga kini saat kami bertemu kembali di sekolah kami dahulu.
Ku tatap punggungnya yang setengah tertutup payung abu polos. Sosok itu masih sendiri seperti dahulu. Hanya ada sosoknya sendiri di bawah payung teduhnya.
"Apa aku yang harus meminta?" tanyaku dalam hati.
Tanpa menunggu jawaban kuambil payung lipat dari tasku, kukembangkan, kuangkat, dan kuberlari di bawahnya mencoba mensejajari langkah lelaki itu tanpa peduli cipratan hujan yang kuyup di ujung rokku.
"Pak Is, mau pulang?" sapaku. Sosok itu berhenti, menatapku dari balik payungnya, tersenyum.
"Eh ya, Bu Mar," jawabnya sambil lanjut melangkah.
"Masih lebih memilih melaju daripada menunggu?" tanyaku.
Ia terhenti.
"Oh maaf," lanjutku serba salah.
"Kau masih ingat?" tanyanya sambil melanjutkan langkahnya.
"Oh ya tentu, sangat langka lelaki berpayung menerobos hujan di waktu itu. Kau satu diantaranya, Isa. Bahkan saat ini pun begitu. Lihat berapa orang siswa kita yang memilih membawa payung dan menerobos hujan? Sisanya lebih memilih berteduh, bercengkrama sambil menunggu hujan reda," jawabku begitu lancar tanpa jeda seperti hujan di sore itu.
"Waktu terlalu berharga untuk sekedar menunggu," katamu.
Tepat sekali.
"Ya, terlalu berharga untuk digunakan menunggu. Memilih diam begitu lama, hanya menunggu untuk disapa, bodoh bukan? "
Eh, apa kubilang tadi?
Isa memilih diam, kaki kanannya yang hampir melangkah kembali hampiri kaki kirinya.
"Ya, bodoh sekali," ucapnya di antara suara hujan yang mulai mereda. "Seharusnya caraku menghadapi hujan sama denganku menghadapi rasa ini. Tak perlu menunggu, padahal ku tahu ada yang diam-diam menatapku dan ku pun begitu padanya, hanya perlu berkata untuk menyepakati itu. Tapi," ia menjeda kalimatnya membuat jantungku ingin menjeda detaknya.
"Tapi ku lebih memilih menunggu hingga waktu itu tiba, saat payungku cukup teduh untuk tak hanya memayungiku tapi juga dirimu.".
Gagang payungku hampir terlepas, ada aliran hangat yang membuat gigilku hilang.
***
Payung teduh itu tak lagi bertuan seorang diri, ayunannya bergerak padu dengan sepasang insan yang mendekap erat di tengah hujan.
Garut-Cicalengka, 13-11-2017
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Tulisannya keren Pak..
Terima kasih, jika sempat dan bersedia silakan baca juga tulisan saya sebelumnya.
Terima kasih, jika sempat dan bersedia silakan baca juga tulisan saya sebelumnya.
Keren pak, jadi pingin belajar nulis fiksi,
Terima kasih, Bu. :)
Akhirnya nongol juga setelah sekian lama ngilang.
He, ya.. :)